Lari, Indonesia, Lari!

Oleh: Scholastica Gerintya - 4 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Olahraga lari sedang digandrungi milenial Indonesia. Lari, potret, unggah!
tirto.id - Suatu hari, pada sebuah acara pekan olahraga pelajar tahun 1980, Presiden Soeharto mendapati atlet-atlet asal Kupang, NTT tak mengenakan sepatu. Ia lalu bertanya kepada M.F. Siregar, Asisten Bidang Olahraga Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu.

“Pak Siregar, itu atlet-atlet dari Kupang kenapa tidak pakai sepatu?” tanya Soeharto.

“Di sana sudah biasa, pak. Jangankan sepatu untuk olahraga, mereka juga tidak pakai sepatu saat sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari,” jawab Siregar.

“O, jadi itu sebabnya. Berarti mereka sudah terbiasa jalan dan lari tanpa sepatu. Secara tidak langsung, kegiatan lari sudah memasyarakat di sana, ya?” tanya Soeharto lagi.

“Betul, Pak. Jadi olahraga pada tahap awal memang harus memasyarakat,” ungkap Siregar.

Percakapan itu, seperti dikisahkan ulang dalam buku M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia (2008) karya Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti Handayani, diolah oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef. Ia menjadikannya semboyan untuk panji olahraga nasional saat Sidang MPR/DPR Tahun 1981: “memasyarakatkan olahraga, mengolahragakan masyarakat.”

Sekarang, sangat mungkin semboyan itu tak "bunyi" lagi bagi muda-mudi yang lahir pasca-Orde Baru. Namun, justru di tangan muda-mudi inilah olahraga benar-benar memasyarakat. Anda bisa mendapati unggahan-unggahan di media sosial, Instagram khususnya, yang memperlihatkan kegiatan olahraga. Terutama lari.

Tak hanya mengunggah laga mereka di jalanan, ada pula target-target yang dipacak: 5 KM, 10 KM, dan seterusnya. Mereka berpartisipasi dalam lari maraton yang digelar di Jakarta Car Free Day, bahkan ada pula yang mau keluarkan kocek untuk ikut event-event lari di pelbagai penjuru dunia.

Apakah lari sudah menjadi gaya hidup anak muda masa kini?

Dalam kajian berjudul "Millenial Running Study" yang dibuat oleh Running USA, RacePatner dan Achieve 2015, generasi milenial di Amerika Serikat menyukai partisipasi dalam event lari publik, baik kategori 5 KM, 10KM, half-marathon, dan sebagainya. Tujuan mereka mengikuti kegiatan itu, selain soal fisik dan pengaruhnya pada kesehatan, juga untuk mendapatkan pengalaman unik.

Kegiatan lari maraton publik diketahui menawarkan aspek atraktif. Misalnya, lari dengan taburan bedak warna-warni (colour run) dan lari dengan aksesoris yang menyala di malam hari (glow in the dark run). Selain itu, para pesertanya juga terpikat dengan kegiatan charity (aksi sosial) yang umumnya bergabung dengan acara lari publik itu sendiri.

Bagaimana dengan milenial Indonesia?

Kita perlu melihat proporsi jumlah penduduk Indonesia saat ini. Tipe piramida penduduk Indonesia adalah ekspansif, dengan pola piramida melebar pada bagian bawah dan cembung di bagian tengah. Di bagian tengah itulah kelompok penduduk usia muda, sedangkan bagian atas yang meruncing merupakan penduduk usia tua. Berdasarkan Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035, jumlah penduduk Indonesia di 2017 adalah 261,89 juta jiwa.

Bila merujuk pada kategorisasi generasi, milenial di Indonesia saat ini berjumlah sekitar 24,15 persen atau sebanyak 63,23 juta jiwa—terhitung dari jumlah penduduk berusia 20 hingga 34 tahun di 2017. Generasi inilah yang saat ini menjadi penentu banyak lini kehidupan, termasuk tren olahraga saat ini.


Infografik Periksa Data Olah Raga



Kecenderungan hidup sehat melalui kegiatan olahraga ini juga memperlihatkan tren yang meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan pada 2015, terdapat 27,61 persen penduduk berusia 10 tahun ke atas yang melakukan olahraga. Meskipun belum besar, tapi proporsi ini meningkat dari periode sebelumnya yang tercatat sebesar 24,99 persen (2012) dan 21,76 persen (2009).


Infografik Periksa Data Olah Raga



Meski masih sedikit, data tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia sudah mulai sadar pentingnya berolahraga. Lebih spesifik, generasi muda semakin memperhatikan kesehatan melalui kegiatan olahraga.
Selain itu, di tingkat Asia, jika ditanya soal apakah dirinya merasa sehat, bisa dibilang orang Indonesia merasa kesehatannya lebih baik dibanding warga di negara lain.

Dari survei yang dilakukan oleh Sun Life Financial Asia 2016, sebanyak 62 persen orang Indonesia menyatakan bahwa mereka merasa lebih sehat dari kondisi 3 tahun yang lalu. Angka ini adalah yang tertinggi di kawasan Asia. Indonesia juga menempati posisi kedua di Indeks Kesehatan setelah Filipina yang paling positif mengenai kondisi kesehatan. Bahkan, negara ini menjadi satu-satunya negara yang indeks kesehatannya tidak mengalami penurunan dan cenderung naik.


Infografik Periksa Data Olah Raga



Survei yang sama juga memperlihatkan lari sebagai pilihan olahraga yang paling ingin dilakukan orang Indonesia. Sebanyak 60 persen menyatakan hal itu, dan angka ini tertinggi di Asia. Pilihan selanjutnya adalah bersepeda sebesar 55 persen dan berenang 45 persen.

Populernya lari di kalangan masyarakat, khususnya generasi milenial, juga terlihat dari semakin banyaknya event olahraga ini. Bahkan, beberapa acara yang digelar merupakan bagian dari gerakan pariwisata yang didukung oleh pemerintah.

Sebut saja Festival Danau Laut Tawar di Aceh, Sungailiat Triathlon di Bangka Belitung, Lampung Bay Marathon LA 10K+ di Lampung, Jakarta Marathon di DKI Jakarta, Borobudur Marathon 2017 di Jawa Tengah, dan Toraja Night Run di Sulawesi Selatan.


Infografik Periksa Data Olah Raga



Melalui berbagai kegiatan ini, konsep kesehatan yang ditawarkan bukan sekadar hanya menjadi bugar, melainkan juga menikmati pengalaman—termasuk di dalamnya terlihat bagus, tampak hebat, dan bahagia—dan membagikan pengalaman tersebut kepada kawan-kawan mereka melalui media sosial.

Berpartisipasi dalam kegiatan lari publik bukan sekadar soal sehat, tetapi juga karena event itu menarik dan populer, atau karena ingin tampak tampil dalam acara seru ala generasi muda kekinian.

Baca juga: Kejiwaan si Pamer Kebugaran

Tak hanya itu, munculnya beragam gawai dan aplikasi kesehatan mendorong diterapkannya kebiasaan hidup sehat. Survei Sun Life Financial Asia menyebutkan bahwa sebanyak 43 persen responden Indonesia memakai aplikasi dan gawai wearable yang bisa mendorong mereka makin intensif dalam melakukan aktivitas kebugaran atau olahraga.

Baca juga: Semangat Olahraga bisa Menular Lewat Instagram

Selain memperbaiki kehidupan, tujuan milenial berolahraga juga untuk mengatasi kecemasan dan stres. Generasi Y ini juga mementingkan keterhubungan dengan diri dan memaksimalkan potensi mereka. Oleh sebab itu, olahraga yang digandrungi adalah olahraga yang bersifat kompetitif terkait pencapaian diri mereka sendiri.

Pencapaian diri itu bukan semata-mata berolahraga untuk menjadi atlet ataupun didorong kampanye pemerintah, seperti di masa Orde Baru. Pencapaian untuk olahraga lari generasi baru ini di Indonesia ini selaras dengan gaya hidup mereka: sehat, sambil tampil aktif secara sosial.

Baca juga: Keluar dari Bayang-bayang Gangguan Kecemasan

Demi mencapai itu semua dan agar tetap relevan, generasi muda ini siap membayar harga premium untuk persoalan kesehatan. Apakah Anda termasuk salah satu milenial yang selalu antusias berpartisipasi dalam kegiatan lari publik?

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Scholastica Gerintya
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Scholastica Gerintya
Penulis: Scholastica Gerintya
Editor: Maulida Sri Handayani