Arief Balla
Mahasiswa pascasarjana pada TESOL and Linguistics Department di Southern Illinois University...

Lancar Berbahasa Inggris Bukan Jaminan Capres Lebih Komunikatif

13 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Dalam hal bahasa, Prabowo dan Jokowi seperti perbandingan kelapa dan apel. Jauh berbeda. Tetapi juga tidak sejauh langit dan bumi.

Prabowo—yang memang sempat tinggal di luar negeri—dikenal sangat lancar berbahasa Inggris. Jokowi sebaliknya. Jangankan fasih berbahasa, bahasa Indonesianya saja sering belepotan.

Kekurangfasihan Jokowi berbahasa Inggris kemudian menjadi bahan olok-olok lawan-lawannya. Bukan sekali dua kali Jokowi dirundung karena bahasa Inggrisnya. Beberapa video Jokowi bahkan dipotong lalu dibandingkan dengan cuplikan video Prabowo, SBY, dan Soekarno saat berbicara dalam bahasa Inggris. Rundungan ini semakin sempurna di tengah masyarakat kita yang masih menempatkan bahasa Inggris sebagai ukuran intelektualitas.

Hassall dkk (2008) dari Australia National University pernah melakukan studi tentang sikap orang Indonesia terhadap bahasa Inggris dengan menjadikan kata serapan sebagai ukuran. Hasilnya bisa diduga: masyarakat Indonesia menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Inggris. Mereka yang dianggap cakap berbahasa Inggris—seperti Prabowo dan Sandiaga—dipandang punya status sosial yang lebih tinggi, lebih kompeten, intelek, kaya, dan percaya diri.

Tetapi di saat bersamaan, mereka juga juga dipandang kurang solider, kurang ramah, dan kurang sederhana. Jokowi, sebaliknya, dianggap memiliki sifat-sifat ini. Sekiranya, karakter-karakter seperti ini pula yang menjadi salah satu faktor memuluskan jalan Jokowi pada Pilpres 2014. Bagaimana Pilpres 2019?


Indonesia adalah sebuah masyarakat multibahasa. Code-switching wajar adanya dan tidak terhindarkan. Code-switching adalah pengalihan dua atau lebih kode linguistik (bahasa, dialek, dan aksen) dalam satu konteks percakapan. Prabowo sering melakukannya dengan menggunakan kosa kata bahasa Inggris atau bahkan kalimat utuh. Sebaliknya Jokowi sering melakukan hal yang sama ketika dia blusukan dan berbincang dengan masyarakat biasa.

Mereka sama-sama sering melakukan code-switching. Namun dengan bahasa yang berbeda. Prabowo dengan bahasa Inggris yang dianggap elite dalam persepsi masyarakat kita, sementara Jokowi dengan bahasa Jawa atau lokal lainnya yang statusnya dianggap di bawah bahasa asing.

Namun, komunikasi politik Jokowi seperti ini bisa jadi justru lebih bekerja dibandingkan Prabowo. Dalam banyak kesempatan, Jokowi selalu menggunakan bahasa Jawa ketika dia berbincang dengan masyarakat saat blusukan. Jokowi bahkan menggunakan dialek dan aksen yang mudah mereka dipahami. Gaya bahasa ini meleburkan ‘tembok’ yang ada antara dirinya dan warga. Jokowi memposisikan dirinya sama dengan mereka. Dan mereka merasa sama dengan Jokowi.

Strategi code-switching Jokowi berfungsi tidak saja mencitrakan dirinya sebagai bagian dari wong cilik tetapi juga memberikan ia kemudahan untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat.

Jokowi bukan satu-satunya politisi yang menggunakan code-switching ketika berbicara dengan konstituennya. Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borizov adalah contoh lainnya. Yova Kementchedjhieva, peneliti bahasa dari Cognitive Science Informatics di University of Edinburgh, secara khusus menganalisis gaya code-swicthing Boyke Borizov dalam konteks politik.

Borizov menggunakan dua gaya bahasa, yaitu standar dan non-standar. Ia menggunakan gaya bahasa standar sebagai seorang politikus. Lalu, ia menggunakan gaya sehari-hari sebagai seorang biasa. Tergantung dari situasi, ia bisa menggunakan salah satunya atau keduanya sekaligus untuk menjaga keseimbangan kekuasaannya sebagai seorang politisi. Namun di saat bersamaan, ia juga ingin menunjukkan rasa solidaritas dengan tidak memberikan jarak pada lawan bicara lewat bahasa standar.


Jokowi sering menggunakan strategi ini saat blusukan. Ia menggunakan bahasa Indonesia standar ketika memberikan sambutan. Tetapi ketika mengundang warga berbincang di depannya, ia menggunakan bahasa Indonesia tidak standar dan seringkali dalam bahasa Jawa halus. Biasanya jika yang diajaknya berbicara adalah orang tua atau orang biasa yang tidak fasih berbahasa Indonesia.

Seperti halnya Borizov, Jokowi cukup berhasil menggunakan strategi ini. Jokowi juga tidak melakukannya secara kebetulan atau dibuat-buat. Latar belakangnya dari rakyat biasa menguntungkan dirinya untuk terbiasa melakukan code-switching dengan mudah antara bahasa Jawa atau bahasa Indonesia sehari-hari dengan bahasa Indonesia standar. Hal ini berbeda misalnya ketika baru dan dibuat-buat menyapa mereka dengan bahasa sehari-harinya.

Bahkan ketika melawat ke luar Jawa, Jokowi tak jarang belajar bahasa daerah setempat meski sekedar sapa-menyapa. Bahasa Madura, bahasa Dayak atau bahasa Tolaki misalnya.

Hal yang mungkin berbeda dengan Prabowo. Hampir tidak pernah—atau memang tidak pernah—Prabowo menggunakan bahasa Jawa untuk mengakrabkan dirinya dengan masyarakat. Hal ini bisa jadi memberi jarak antara dirinya dengan masyarakat kelas bawah. Sebaliknya Jokowi dengan bahasa Jawanya meraih simpati dari masyarakat kelas bawah yang menjadi pemilih terbesar.

Barrack Obama pernah menggunakan strategi code-switching bahasa Spanyol dan bahasa Inggris saat berkampanye Oktober 2012 lalu. Cara ini adalah salah satu meraih suara swing states yang memperebutkan suara populasi yang didominasi orang Latino di lima negara bagian: Colorado, Florida, Nevada, Ohio, dan Virginia. Bahasa Spanyol digunakan untuk menarget komunitas Latin sehingga pesan Obama lebih dapat diterima.


Namun begitu, Obama juga pernah ‘bermasalah’ dengan code-swicthing dari aksen kulit hitam ke kulit putih. Sebagian warga kulit hitam tak senang ketika Obama berbahasa Inggris dengan aksen kulit putih.

Mantan Presiden Bill Clinton juga sering melakukan code-switching dari northern accent (aksen yang digunakan oleh penduduk di negara-negara bagian utara) ke southern accent (digunakan oleh penduduk negara-negara bagian selatan). Ia menaikkan intonasinya agar tampak lebih diterima. Ia juga menurunkan intonasi suaranya ketika berbicara seperti biasanya.

Aksen Jokowi yang kental dan sering diledek bisa jadi justru menjadi keuntungan baginya. Code-switching baik aksen maupun bisa menjadi strategi merebut suara kelompok masyarakat tertentu. Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair punya aksen Inggris yang kental saat berbahasa Perancis, tetapi orang-orang Perancis justru menyukainya karena ia telah berusaha memberikan sambutan dalam bahasa mereka.

Mungkin pendukung Prabowo-Sandi tidak perlu terlalu jumawa dengan kemampuan bahasa Inggrisnya.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.