Keminggris Anies Baswedan dan Kemlondo Pejabat Era Sukarno

infografik jenderal sukarno yang kemlondo
A.H. Nasution, Sukarno, dan Soeharto. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi, Ivan Aulia Ahsan - 8 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Gaya keminggris pejabat kita saat ini bukan fenomena baru. Dulu banyak pejabat kita yang kemlondo.
tirto.id - Dalam sebuah seminar di Jakarta, Selasa (4/9/2018), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyinggung soal angka kemiskinan di Jakarta. Ia mengaku miris karena masih ada masyarakat yang hidup hanya dengan pendapatan Rp1 juta per bulan.

"Kita punya penduduk 10 juta, dan 30 persen earning less than 1 million per month. Dan bapak ibu semua menyadari what does it mean having 1 million in the city like Jakarta. What can you do dengan angka itu? This is a problem," katanya, seperti dikutip Kompas.com.

Anies adalah doktor ilmu politik lulusan Northern Illinois University, AS. Tentu saja kemampuan bahasa Inggrisnya di atas rata-rata orang Indonesia. Barangkali karena itulah ia merasa perlu menggelontorkan banyak frase bahasa Inggris dalam pernyataannya yang berbahasa Indonesia di depan orang-orang Indonesia.

Anies tidak sendirian. Bahasa "gado-gado" adalah gejala yang menjangkiti banyak orang Indonesia. Seperti dilaporkan media ini, beberapa pejabat Republik seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, cawapres Sandiaga Uno, dan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono juga sering bergaya keminggris dalam pernyataan-pernyataan publik mereka.

Bahkan beberapa hari terakhir, di Twitter ramai lelucon mengenai tingkah "anak Jakarta Selatan" yang punya kecenderungan berbahasa seperti Anies dalam percakapan sehari-hari.


Jakarta Post menangkap fenomena ini. Pada Rabu, (5/9/2018) mereka menurunkan artikel berjudul "Mix lingo 'literally' a thing for South Jakartans".

Selain menangkap beberapa percakapan keminggris, artikel itu juga mengatakan—dengan mengutip pernyataan pakar komunikasi Universitas Indonesia Devie Rahmawati—bahwa gaya demikian adalah bagian dari kecenderungan "anak-anak kota ingin berkomunikasi dalam bahasa global".

Gaya bahasa "gado-gado" sebenarnya bukan hal baru. Di Indonesia, kita bisa melacaknya hingga awal abad ke-20 ketika pemerintah kolonial memberlakukan Politik Etis. Lewat kebijakan itu, kalangan elite bumiputra bisa mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah berbahasa Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, banyak alumnus sekolah berbahasa Belanda yang jadi pejabat. Saat itulah mereka kerap menggunakan bahasa Belanda, atau campuran bahasa Indonesia dan Belanda, dalam percakapan sehari-hari.

Agar Terlihat Kebarat-Baratan

Berbahasa Belanda di zaman kolonial adalah sebuah prestise bagi orang pribumi. Setidaknya, seseorang akan terlihat terpelajar, bahkan elite. Sebelum 1945, sekolah dasar berbahasa Belanda tak dinikmati mayoritas orang Indonesia. Kebanyakan kaum priyayi atau berduit saja yang bisa belajar di sana.

Banyak orang terpelajar pribumi di masa kolonial ingin terlihat kebarat-baratan. Jika belum bisa berbahasa Belanda dengan baik, minimal mereka berpakaian seperti orang Belanda.

Seperti diungkap dalam autobiografinya, Untold Story Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat (2018:214), Sukarno pernah menganjurkan agar orang Indonesia tidak pakai sarung. Pakaian membuat orang Indonesia bisa rendah diri. “Di saat orang Indonesia memakai pantalon, di saat itu pula ia berjalan tegap seperti setiap orang kulit putih” (hlm. 214).


Jika pakaian bisa menipu, bahasa Belanda tidak. Seorang pribumi yang menguasai bahasa Belanda jelas membuatnya tampak terpelajar bahkan berwibawa. Sukarno tentu fasih bercakap bahasa Belanda. Maklum, SD-nya saja di Europesche Lager School (ELS) yang elite itu. Sekolah menengahnya pun ditempuh di Hogere Burger School (HBS) yang juga elite. Dia bahkan melanjutkan kuliah teknik sipil di Technische Hooge School, Bandung.

Jangankan Sukarno yang insinyur. Mereka yang sekolahnya tak lebih tinggi dari Sukarno doyan pula berbahasa Belanda. Kebiasaan berbahasa Belanda dengan sesama orang yang pernah mendapat pendidikan di sekolah berbahasa Belanda juga melanda kalangan perwira Angkatan Darat.

“Divisi Siliwangi terkenal sebagai satu divisi dengan banyak perwira intelektual dan berlatar belakang pendidikan baik, melebihi divisi yang lain pada umumnya. Percakapan sehari-hari di antara kalangan perwira menengah sampai perwira tingginya sangat lazim menggunakan bahasa Belanda,” tulis Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966: Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik, 1965-1970 (2006: 252).

Amirmachmud tak termasuk golongan itu, meski dia pernah belajar di sekolah yang cukup elite, yaitu Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Ambachtschool (sekolah tukang).

Sekolah-sekolah berbahasa Belanda bukan sekolah murah di zaman kolonial. Hanya kalangan tertentu—yang jumlahnya sangat sedikit—yang bisa bersekolah di sana. J.B. Soedarmanto dalam biografi I.J. Kasimo, Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo (2011: 12), menyebut, syarat untuk bisa masuk HIS antara lain: orang tua sang murid harus priyayi, harus punya jabatan penting, harus punya penghasilan rata-rata 100 gulden sebulan atau pendidikannya minimal Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Semua syarat masuk HIS itu sulit sekali dipenuhi mayoritas penduduk Indonesia. Syarat ke ELS lebih sulit lagi. Bagi para calon murid yang tidak mampu ke HIS, bisa mendaftar ke sekolah macam Volkschool (sekolah rakyat tiga tahun) yang tidak menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar. Jika beruntung, mereka bisa melanjutkan ke Schakelschool (sekolah lanjutan lima tahun). Sekolah ini bukan setara SMP. Lulusan Schakelschool disamakan statusnya sebagai lulusan SD setara HIS. Soeharto termasuk golongan ini.





Para Perwira Kemlondo

Sukarno tentu pilih-pilih lawan bicara dalam berbahasa Belanda. Ia tidak mau memaksakannya kepada mereka yang dianggap kurang fasih. Rum Aly menyebut, “Sukarno sendiri nyaris tak pernah menggunakan istilah-istilah bahasa Belanda bila berbicara dengan Amirmahmud dan beberapa jenderal lain yang diketahuinya tidak terbiasa dengan bahasa itu” (hlm. 252).

Mereka yang tidak terbiasa berbahasa Belanda di antaranya: Brigjen Soepardjo, Kolonel Latief, dan Letnan Kolonel Untung. Mayor Jenderal Soeharto pun termasuk yang tidak terbiasa. Entah ada hubungannya dengan faktor itu atau tidak, Amirmachmud dan Soeharto kemudian akrab.


Tak hanya perwira Siliwangi yang doyan berbahasa Belanda. Di jajaran Staf Umum Angkatan Darat maupun Angkatan Bersenjata, berbahasa Belanda adalah hal yang biasa saja.

“Jenderal AH Nasution yang juga berasal dari Divisi Siliwangi, Letnan Jenderal Ahmad Yani dan para perwira terasnya di Mabes AD adalah para jenderal yang juga berbahasa Belanda. Kebiasaan berbicara dengan bahasa Belanda, merupakan salah satu ciri kelompok perwira intelektual dalam Angkatan Bersenjata Indonesia,” tulis Rum Aly.

Putri Ahmad Yani, Amelia Yani, dalam Ahmad Yani Tumbal Revolusi (1988: 7), mengaku bahwa ayahnya bisa berbahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda. Maklum, Ahmad Yani pernah sekolah di Christelijke Algemene Middelbare School (SMA Kristen) di Jakarta.

Mereka yang gemar berbahasa Belanda dan bergaya seperti orang Barat biasanya bakal kena cap kebelanda-belandaan alias kemlondo alias belandis. Gaya demikian biasanya dilakukan untuk menunjukkan "kelas" mereka. Orang-orang macam ini selalu ada di setiap zaman.

Baca juga artikel terkait BAHASA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi & Ivan Aulia Ahsan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi & Ivan Aulia Ahsan
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight