21 April 1995

Amirmachmud, 'Kurir' Supersemar yang Kariernya Melesat

Oleh: Petrik Matanasi - 21 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Karir meninggi.
Sang penyaksi lahirnya
surat nan sakti.
tirto.id - Amirmachmud besar jasanya kepada Orde Baru. Bersama Mayor Jenderal M. Jusuf dan Mayor Jenderal Basuki Rachmat, Mayor Jenderal Amirmachmud adalah salah satu jenderal yang terlibat dalam sejarah Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Namanya dikenang sebagai "kurir" Supersemar hingga ia meninggal pada 21 April 1995, tepat hari ini 23 tahun lalu.

Kala itu, Amir adalah Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Jakarta Raya (Jaya), menggantikan Umar Wirahadikusumah yang dijadikan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Umar sendiri menggantikan Soeharto.


Wakil Perdana Menteri Dr. Soebandrio dalam bukunya, Kesaksianku Tentang G-30-S (2002), mengaku ada di Istana Bogor ketika Supersemar ditandatangani. “Saya masuk ruang pertemuan. Bung Karno sedang membaca surat. Basuki Rachmat, Amir Machmud dan M Jusuf duduk di depannya. Lantas saya disodori surat yang dibaca oleh Bung Karno, sedangkan Chaerul Saleh duduk di sebelah saya” (hlm. 79).

Sukarno bertanya kepada Soebandrio, apa dia setuju dengan isi Supersemar itu. Namun Soebandrio enggan menjawab. Ia mengaku mendengar Amirmachmud menyela: “Bapak Presiden tanda tangan saja. Bismillah saja, Pak.”

Seingat M Jusuf, seperti ditulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit (2006:183), Presiden Sukarno menengok kepada tiga jenderal yang menghadap di Istana Bogor itu.

“Ini semua sudah benar?” tanya Sukarno.

Serentak tiga jenderal itu bilang: “Itulah yang terbaik.”


“Bung Karno membubuhkan tanda tangan dalam Surat Perintah Sebelas Maret adalah karena digerakkan oleh Allah SWT setelah adanya ucapan Bismillahirrahmannirahim yang serempak dari semuanya yang hadir di lstana Bogor pada waktu itu,” aku Amirmachmud dalam H. Amirmachmud, Prajurit Pejuang: Otobiografi (1987: 270). Bagi Amirmachmud, “Supersemar itu benar-benar mukjizat.”

Supersemar yang dibawa tiga jenderal itu pun membuka jalan bagi Letnan Jenderal Soeharto menjadi orang nomor satu di Indonesia. Tiga jenderal itu ikut meninggi pula kariernya. M. Jusuf menjadi Menteri Perindustrian hingga 1978, setelahnya jadi Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan Keamanan. Sementara itu Basuki Rachmat dan Amirmachmud jadi Menteri Dalam Negeri.


Karier Naik Berkat Supersemar

Sebelum jadi Menteri Dalam Negeri, yang dilantik pada 28 Januari 1969, persis setelah Basuki Rachmat meninggal dunia, Amirmachmud cukup lama jadi Panglima Kodam Jaya. Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1988: 180-181), ia menjabat dari 7 Desember 1965 hingga 26 Januari 1969.

Ketika hendak dijadikan Menteri Dalam Negeri menggantikan Basuki Rachmat, menurut catatan Julius Pour dalam Baramuli Menggugat Politik Zaman (2000: 270), “Amirmachmud semula menolak dengan halus tawaran tersebut.” Amirmachmud mengaku kaget karena tidak terbayang olehnya yang lama berkarir sebagai militer (setidaknya dari 1943) dan tak terbayang posisi sipil untuknya.

“Pendidikan saya hanya Sekolah Teknik (Ambachtschool) setelah menamatkan HIS. Ditambah berbagai kursus sehingga dapat disamakan hanya setingkat SMA sekarang. Menyadari kemampuan bahasa Inggris saya yang juga minim,” aku Amirmachmud, seperti dicatat Julius Pour.

Tapi, yang terjadi terjadilah. Ia pun menambah daftar orang Sunda yang jadi Menteri Dalam Negeri setelah Ipik Gandamana, Sanusi Hardjadinata, dan, tentu saja, Menteri Dalam Negeri pertama R.A.A. Wiranatakoesoema V.


Sebagai jenderal yang menjadi menteri, Amir termasuk elite militer yang berpengaruh di masa Orde Baru. David Jenkins dalam Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1983 (2010) menyebut, Amirmachmud bersama dengan Mayor Jenderal Ali Moertopo, Mayor Jenderal Benny Moerdani, Laksamana Sudomo, dan Letnan Jenderal Yoga Sugomo sebagai perwira penting Soeharto dalam pucuk sistem politik Indonesia. “Meski tidak biasa tapi tertancap kuat,” tulis Jenkins (hlm. 163-164).


Di masanya menjadi menteri, terjadi penyederhanaan partai di Indonesia. Dia pernah bilang soal pengurangan jumlah partai itu. “Apakah jumlah partai nanti 5, 4 atau 3, itu tergantung pada penelaahan lebih lanjut. Tapi bila ternyata dengan 2 partai akan lebih bermanfaat bagi seluruh bangsa, apa salahnya kita hanya dua partai saja,” akunya seperti dikutip Jakarta Post (6/10/1971).

Belakangan memang hanya dua partai politik saja, tapi ditambah satu golongan yang dikenal sebagai Golongan Karya (Golkar) dalam perpolitikan di Indonesia.


Selain itu, selama lebih dari 13 tahun menjabat Menteri Dalam Negeri, dia dikenal keras terhadap orang-orang yang dianggap terlibat G30S. Asvi Warman Adam dalam Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi, Pelaku, dan Peristiwa (2009) menyebut, Amirmachmud pernah mengeluarkan Instruksi Mendagri No. 32 Tahun 1981 tentang Pembinaan dan Pengawasan Eks Tapol/Napol G30S/PKI. Isinya adalah melarang para eks tapol/napol bekerja sebagai ABRI atau PNS (termasuk di BUMN dan sebagai guru), menjadi anggota parpol dan Golkar, pers, dalang, lurah, lembaga bantuan hukum, dan pendeta (hlm. 175).

Setelah tak jadi Menteri Dalam Negeri, Amirmachmud menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat (DPR/MPR) dari 1982 hingga 1987.

Infografik Mozaik Amirmachmud

Berbakat Jadi Serdadu

Jika jadi pejabat sipil tak pernah dia bayangkan sebelumnya, maka bergabungnya Amirmachmud sebagai militer, dinginkan atau tidak, ada kaitan dengan kota tempatnya dilahirkan, Cimahi. Sejak zaman kolonial, Cimahi adalah kota tangsi daripada tentara kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Banyak kaum militer dari berbagai suku bangsa di Indonesia dan Eropa di sana. Laki-laki kelahiran Cimahi, 21 Februari 1923 ini pasti tidak asing dengan dengan pemandangan kaum militer.

Sekolah dasarnya dilalui hingga tamat di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Ardjoena di Bandung. Meski sekolah itu tidak elit seperti ELS milik pemerintah, dia bukan dari golongan orang susah di zamannya. Dia anak yang keras kepala dan bernyali besar. Garry van Klinken, dalam tulisannya, "Aku Yang Berjuang", di buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (2008), mengkritisi autobiografi yang ditulis Amirmachmud yang “suka memukul teman-teman sekelasnya di sekolah dasar” dan berusaha agar anak-anak lain menuruti kehendaknya (hlm. 135).

“Dan pernah, katanya, ia mengancam adik laki-lakinya untuk membatalkan niatnya memainkan peran utama dalam sebuah sandiwara di sekolah dasar, dan ia menganggap hal ini lucu,” tulis Gerry.

Orang ini sepertinya memang cocok jadi serdadu sejak bocah. Tak jauh beda dengan serdadu-serdadu KNIL yang kerap ia lihat di sekitar Cimahi.


Setelah lulus dari HIS partikelir itu, Amirmachmud yang merupakan anak pasangan Ganirah dan Atang—seorang pegawai rumah sakit Dustira Cimahi—lalu masuk Gemeentelijke Ambachtsschool (sekolah teknik menengah milik pemerintah). Selain pernah belajar di sekolah teknik itu, dia pernah tiga bulan kursus di Topografische Dienst (Dinas Topografi). Di zaman Jepang, barulah dia masuk tentara sukarela Pembela tanah Air (PETA) dan jadi Shodancho (komandan peleton) PETA di Bandung.

“Ketika Kemerdekaan lndonesia diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta, saya sedang berdiam di rumah kakak di Lembang. Beberapa minggu sebelumnya saya sudah dikeluarkan dari PETA,” tuturnya.

Belakangan, dia sempat masuk BKR. Di Lembang, dia kemudian jadi komandan kompi di Tentara Keamanan Rayat (TKR). Belasan tahun karier militernya dihabiskan di Divisi Siliwangi. Pernah juga jadi Deputi Kepala Staf di Tentara dan Teritorial Wirabuana dan Panglima Kodam Lambung Mangkurat. Sampai akhirnya dia jadi Panglima Kodam di Jakarta.

Baca juga artikel terkait SUPERSEMAR atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan