Kopi dan Nyala Api di Balai Kota Bandung

Kontributor: Hevi Riyanto, tirto.id - 12 Nov 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Gedung Bappelitbang di komplek Balai Kota Bandung terbakar. Ini sejarah pembangunan dan pemanfaatannya.
tirto.id - “Semoga penampilan bangunan yang kokoh tetapi juga tenang ini menjanjikan dewan kota yang sama kokohnya.

Kantor yang dipakai oleh Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bappelitbang) Kota Bandung terbakar pada Senin siang, 7 November 2022.

Kantor ini menempati gedung dua tingkat bekas kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung. Lahan kantor ini mempunyai sejarah yang sangat panjang. Dari masa penanaman kopi di Bandung sampai sekarang.

Kutipan di awal artikel ini dilontarkan oleh Walikota Bandung, Ir. J. E. A. Von Wolzogen Kühr dalam acara rapat sekaligus upacara renovasi pertama gedung Balai Kota Bandung, tahun 1934. Ia mengungkapkan sejarah lahan yang ditempati gedung yang menghadap ke taman tertua di Bandung ini sejak masa Andries de Wilde.

De Wilde pada awalnya datang ke Hindia Belanda sebagai dokter bedah pada tahun 1803. Kehidupannya mulai membaik setelah ia dipercaya menjadi dokter dan asisten pribadi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Di masa ini pula, De Wilde diangkat sebagai pengawas perkebunan kopi di Tarogong, Garut.

Herman Willem Daendels merupakan Gubernur Jenderal yang bertugas di Hindia Belanda dari tahun 1808 sampai 1811. Karya Daendels yang terkenal di Pulau Jawa adalah Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer dan Panarukan.

Pembangunan Jalan Raya Pos merupakan strategi militer Hindia Belanda, yang salah satu tujuannya adalah mempercepat gerak pasukan dan juga untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan bangsa lain, terutama Inggris.

Kekhawatiran Prancis (saat itu Belanda di bawah kekuasaan Prancis) akan kekuatan Inggris memang cukup beralasan. Nyatanya, kedatangan pasukan Inggris pada tahun 1811 tidak mampu ditahan oleh tentara Hindia Belanda. Kekalahan ini membuat Jawa jatuh ke tangan Inggris.


Ketika Inggris berkuasa di Hindia Belanda, De Wilde dipercaya sebagai pengawas perkebunan kopi di Bandung pada April 1812. Beberapa bulan kemudian, pria kelahiran 21 November 1781 ini dijadikan Asisten Residen Priangan dan tinggal di Bandung.

Saat menjabat sebagai asisten residen, De Wilde membeli lahan yang sangat luas di Bandung utara. Dalam jilid pertama buku Priangan, De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811, F. De Haan menjelaskan, tanah yang dibeli tahun 1813 itu mempunyai batas antara barat dan timur di Cimahi dan Cibeusi (batas barat Jatinangor sekarang), dan batas selatan dan utara di Jalan Raya Pos dan Gunung Tangkuban Perahu.

Di masa inilah, ujar Walikota Kuhr dalam pidatonya, De Wilde membangun gedung yang terkenal dengan nama “de woning van den assistent der koffiecultuur”.

Bangunan yang berada di ujung Logeweg (sekarang merupakan potongan Jl. Wastukencana antara Jl. Braga dan Jl. Aceh) ini dibangun oleh Johan Jacob Steitz, saudara tiri De Wilde antara tahun 1817 sampai 1819.

Menurut Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, bangunan ini merupakan salah satu dari delapan bangunan di Kota Bandung yang sudah menggunakan tembok.

Sebentar saja De Wilde memiliki rumah ini. Beberapa bulan setelah bangunan tersebut selesai didirikan, ia menjual tanahnya yang ada di Bandung itu pada pertengahan tahun 1819. Dalam Majalah Mooi Bandoeng edisi Mei 1934, W. H. Hoogland menulis bahwa lahan di Bandung dijual kepada C Swalue yang kemudian menjual lahan itu kembali ke pihak pemerintah pada tahun 1823.

Setelah dikuasai pemerintah, bangunan yang sempat direnovasi tahun 1843 ini dihuni oleh orang dari berbagai latar dan kepentingan. Sebelum digunakan sebagai bangunan dinas bagi para Asisten Residen Priangan, gedung tersebut dipakai oleh direktur perkebunan kina pemerintah.

Dalam pidatonya, Walikota Kuhr melanjutkan, bangunan bekas milik Andres de Wilde jatuh ke tangan pemerintah Kotamadya Bandung setelah pertukaran aset dengan pemerintah pada tahun 1927.

Penguasaan atas bangunan ini membuat pemerintah kota melakukan pembangunan gedung balai kota baru. Tujuan pembangunan ini supaya kantor-kantor dinas yang tersebar di dalam kota, bisa disatukan dan warga bisa mengurus semua hal di satu lokasi.

Dalam bukunya berjudul Gemeente Huis, Sudarsono Katam menulis bahwa bangunan lama milik Andries de Wilde dirobohkan untuk membangun gedung Gemeente Huis yang baru atas dasar rancangan arsitek E.H. de Roo, arsitek yang juga membangun Stasiun Bandung tahun 1928.


Dalam rapat pertama pada Mei 1927, Walikota Bandung saat itu Bertus Coops memuji keadaan bangunan yang baru tersebut. Menurutnya, bangunan baru ini jauh lebih luas dan memiliki banyak kelebihan dan kemudahan dibandingkan tempat lama. Coops adalah orang pertama yang menyandang jabatan sebagai Wali Kota Bandung.

Walaupun sudah menyandang sebagai gemeente atau kota praja di tahun 1906, Bandung baru dipimpin oleh seorang wali kota pada 1918 . Menurut Sobana Hardjasaputra dalam disertasinya yang berjudul “Perubahan Sosial di Bandung 1810-1906”, dengan terbentuknya gemeente, maka kekuasaan atas Kota (Bandung) beralih dari Residen Priangan ke Ketua Dewan Kota, yang pada tahap awal dijabat oleh asisten residen.

Infografik Mozaik Balai Kota Bandung
Infografik Mozaik Balai Kota Bandung. tirto.id/Tino


Balai Kota Bandung kemudian diperluas pada tahun 1935 dengan membuat bangunan baru yang menghadap ke arah selatan, menghadap taman tertua di Bandung, Pieter Sijthoffpark atau Pieterspark (sekarang Taman Dewi Sartika).

Perluasan bangunan balai kota dilakukan oleh E. H. Roo dengan menggunakan gaya arsitektur modern dengan motif Art Deco. Karena atapnya yang rendah dan terlihat datar, gedung baru ini terkenal dengan nama Gedung Papak. Dalam bahasa Sunda, kata “papak” mempunyai makna “datar”.

Perubahan kembali dilakukan di kompleks Balai Kota Bandung pada tahun 1980-an. Saat itu dilakukan penambahan dua bangunan besar di sisi timur dan barat balai kota.

Menurut Sudarsono Katam, dua gedung yang memanjang ke arah utara-selatan ini mempunyai gaya arsitektur yang berbeda sama sekali dengan gedung balai kota. Ini menimbulkan kesan tidak menyatu dan gedung balai kota terkesan “tua” karena diapit gedung modern.

Seiring pembangunan dua gedung tersebut, dibangun pula gedung dua tingkat untuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung di belakang balai kota, tepatnya di gedung balai kota lama.

Setelah kantor DPRD Kota Bandung pindah ke Jl. Sukabumi pada 2014, maka gedung dua tingkat di belakang balai kota beralih fungsi. Salah satunya menjadi kantor Bappelitbang Kota Bandung terbakar pada 7 November 2022.

Baca juga artikel terkait BALAI KOTA BANDUNG atau tulisan menarik lainnya Hevi Riyanto
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight