tirto.id - Konser Simfoni untuk Bangsa 2025 sukses digelar pada Sabtu (2/8) lalu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Konser Simfoni tahun ini mengusung tema “8 Dekade Musik Indonesia”, menyajikan perjalanan musikal bangsa dari 1945 hingga 2025.
Konser Simfoni untuk Bangsa 2025 merupakan edisi ke-16 yang dipersembahkan The Resonanz Music Studio dan Jakarta Concert Orchestra.
Di bawah arahan konduktor Maestro Avip Priatna, Konser Simfoni untuk Bangsa 2025 melibatkan Batavia Madrigal Singers, The Resonanz Children Choir, Armonia Choir, serta penampilan solo dari Ingrid Patricia, Farman Purnama, dan Isyana Sarasvati.
Penonton disuguhkan harmoni lintas zaman, dari lagu perjuangan hingga ekspresi musik digital masa kini. Avip menyebut konser ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus inspirasi untuk masa depan musik Indonesia.
Seluruh penampilan disusun berdasarkan kekuatan representatif lagu-lagu tiap dekade, dengan aransemen segar yang tetap menjaga roh asli karya. Penonton diajak bernostalgia lewat lagu-lagu ikonik seperti "Bengawan Solo", "Badai Pasti Berlalu" hingga "Ada Apa dengan Cinta".
Ada Apa di Konser Simfoni untuk Bangsa 2025

Konser Simfoni untuk Bangsa 2025 dibuka dengan babak 1945-1955 yang sarat semangat nasionalisme lewat lagu-lagu seperti "Berkibarlah Benderaku", "Indonesia Pusaka", dan medley Lagu Perjuangan.
TRCC tampil mencuri perhatian membawakan "Berkibarlah Benderaku" dengan penghayatan tinggi dan koreografi yang energik. Momen pembuka ini langsung menghidupkan suasana dan mendapat sambutan hangat dari penonton.
Perjalanan musikal memasuki rentang 1955 hingga 1985 menampilkan perubahan sosial dan budaya yang tecermin dalam lagu-lagu populer pada masanya. Musik film, romansa kehidupan sehari-hari, dan suara hati rakyat menjadi benang merah yang mengikat dekade-dekade ini. Setiap nomor dipilih untuk merepresentasikan dinamika zaman yang sedang berkembang.
“Satu dekade bisa punya 10 lagu penting, tapi hanya beberapa yang bisa dibawakan,” kata Karen Laurencia dari BMS sebagaimana keterangan yang diterima Tirto,id.
Lagu-lagu seperti "Tiga Dara", "Bengawan Solo", "Nurlela" hingga "Badai Pasti Berlalu" disusun dengan aransemen baru yang tetap menjaga roh lagu aslinya.
Isyana Sarasvati tampil menyentuh lewat lagu "Tuhan", menggambarkan refleksi sosial era 1965-1975. Armonia Choir membawa kesegaran lewat "Kolam Susu", sementara vokalis pria BMS membawakan "Terajana" dengan penuh semangat. Ketiga lagu ini menjadi sorotan kuat dalam satu babak yang emosional dan menggugah.
Memasuki era 1985-1995, penonton diajak bernostalgia lewat warna pop dan rock yang mendominasi dekade tersebut. TRCC tampil centil membawakan "Kumpul Bocah", sementara BMS wanita dengan penuh percaya diri menyanyikan "Tua-Tua Keladi". Babak ini ditutup dengan meriah oleh Alin Pontoh dan Alexandra Januarvian lewat "Selamat Datang Cinta" yang dikemas seperti pesta festival.
Nuansa semakin intim pada dekade 1995-2005 ketika musik Indonesia mulai tumbuh di ruang-ruang kolektif dan independen. Lagu-lagu legendaris seperti "Cantik", "Bahasa Kalbu", "Sephia", dan "Ada Apa dengan Cinta" dibawakan dengan sentuhan nostalgia.
“Kami pilih lagu-lagu yang bisa mewakili suasana dan semangat setiap masa,” tegas Karen lagi, menjelaskan dasar kurasi lagu.
Babak terakhir menampilkan potret musik Indonesia terkini yang bebas genre dan sarat ekspresi diri. Lagu "Rungkad", "Lathi", "Manusia Kuat", dan "Lexicon" dibawakan dengan semangat generasi muda yang tidak takut bereksperimen.
Konser ditutup dengan duet Isyana dan Farman lewat "Berharap Tak Berpisah" yang mengajak seluruh penonton bernyanyi bersama dan larut dalam euforia.
Ingin tahu lebih banyak tentang dunia musik dan konser terbaru? Tirto.id telah merangkumnya dalam artikel yang bisa diakses melalui tautan di bawah ini.
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Syamsul Dwi Maarif
Masuk tirto.id


































