Kisah Ubolratana, Bekas Putri Thailand yang Gagal jadi Politikus

Oleh: Joan Aurelia - 13 Februari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Ubolratana, anak kesayangan Bhumibol Adulyadej, mengincar posisi perdana menteri.
tirto.id - Ubolratana Mahidol, putri sulung mendiang Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, sempat dicap durhaka karena menikahi Peter Jackson, seorang Amerika yang bukan keturunan ningrat. Jackson teman kuliah Ubolratana di Massachusetts Institute of Technology, AS.

Akibatnya, Ubolratana yang saat itu berusia 21 tahun terpaksa menanggalkan status sebagai putri raja Thailand. Ia berganti nama menjadi Julie Jensen, terinspirasi dari penyanyi Julie London. Di AS, Julie Jensen menjalani hari-hari sebagai ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa biasa. Ia melahirkan tiga orang anak, dua perempuan dan satu laki-laki.

Kehadiran buah hati rupanya cukup menghangatkan hubungan Mahidol dan ibunya, Ratu Sirikit, yang bahkan beberapa kali datang ke AS untuk menengok cucu. Tapi pernikahan tanpa restu itu tak awet. Ubolratana cerai pada 1998 dan memutuskan kembali ke Thailand tiga tahun kemudian.

Kepulangan Ubolratana ternyata tak serta-merta membuatnya resmi menyandang gelar putri mahkota. Statusnya malah membingungkan: bukan putri raja, bukan pula rakyat biasa. Ia tak punya hak istimewa tapi tetap diperlakukan sebagai bangsawan. Walhasil, ia memilih jalan tengah agar tetap terpandang, yakni dengan jadi sosialita, selebritas, dan model majalah.


Media lokal Thailand Khaosod memaparkan dua tahun setelah pulang ke Bangkok, Ubolratana membintangi serial televisi Kshatriya dan Great King Saves the Land. Di Ksathriya, ia memerankan puteri raja.

Setelah itu ia tampil di film Anantalai. “Aku berperan sebagai penguasa sebuah kerajaan yang tengah goyah akibat narkoba. Karakterku di sini bertindak sebagai penolong agar rakyat terhindar dari narkoba,” katanya.

Perempuan yang selalu ditampilkan sebagai sosok ‘pahlawan’ ini kemudian main di Where the Miracle Happenssebagai pebisnis-sukarelawan yang mengajar anak-anak desa. Ia juga memerankan jurnalis yang mengungkap skandal penghancuran sebuah kota di My Best Bodyguard.

Ubolratana mendadak laris pada 2012. Di tahun yang sama, Bhumibol hendak merayakan usia ke 88. Sebagai hadiah, ia membintangi film pendek Swimming Across the Sea of Stars di mana Ubolratana memerankan anak yang merawat sang ayah. Di sisi lain, ia pun muncul dalam Together Lovely Day, memerankan anak yang punya hubungan buruk dengan ayahnya.

“Tidak perlu pakar film untuk bisa menilai betapa jeleknya akting Ubolratana. Tapi dia tetap saja jadi bintang film,” ujar Pavin Chachavalpongpun, peneliti Centre for Southeast Asian Studies, Kyoto University, Jepang, dalam tulisannya di New Mandala.

Tidak semua film yang dibintangi Ubolratana naik ke layar lebar. The Legend of Queen, yang menampilkan akting Ubolratana sebagai ratu sekaligus ahli strategi perang, gagal tayang ketika trailernya sudah diputar di mana-mana.

Tapi hal itu tidak jadi masalah besar bagi Ubolratana. Ia masih bisa menambah popularitas dengan cara lainnya. Agar nampak sebagai sosok yang peduli masyarakat, ia membentuk To Be Number One, sebuah gerakan yang bertujuan menjauhkan kaum muda Thailand dari narkoba.

Ubolratana menggandeng berbagai institusi berpengaruh di Thailand, institusi pendidikan setingkat SD, hingga menjalin kerjasama dengan perusahaan seperti Nestle agar programnya bisa diketahui publik.

Infografik Ubolratana Rajakanya
Infografik Ubolratana Rajakanya


Pada 2007, ia terlibat dalam proyek pembuatan iklan Misty—produk kecantikan terlaris di kalangan remaja Thailand—yang menghabiskan dana 70 juta Baht. Iklan tersebut diklaim akan menggaungkan misi To Be Number One.

“Ini iklan dengan dana terbesar yang pernah dibuat di Thailand,” tulis The Nation pada 5 April 2007.

Managing Director Misty Danai Deerojanawong menyatakan hasil penjualan produk akan didonasikan untuk kampanye anti-narkoba.

Sebuah situs resmi pemerintahan Thailand mengklaim anggota komunitas To Be Number One terus bertambah. Komunitas itu juga disebut-sebut sebagai salah satu komunitas terbesar di Thailand. Namun, sampai saat ini To Be Number One tak memiliki situs resmi yang menampilkan seluruh kegiatannya.


Cara lain yang ditempuh agar tetap eksis di publik adalah menjadi duta pariwisata Thailand. Ubolratana memanfaatkan industri film sebagai daya tarik wisata. Los Angeles Times melaporkan Ubolratana kerap mengikuti konferensi internasional guna menarik pelaku industri film untuk datang ke Thailand.

Ia juga pernah tampil sebagai narasumber media gaya hidup jetset yang isinya adalah rekomendasi tempat-tempat liburan mewah di Thailand. Yang direkomendasikan tentu saja istana kerajaan dan berbagai properti yang berhubungan dengan keluarga istana.

“Aku juga konsisten mempromosikan pariwisata Thailand dengan menghadiri pameran seperti World Travel Mart di London atau International Tourismus Borse di Berlin.”

Ubolratana di Tengah Intrik

Kini Ubolratana punya lebih banyak waktu untuk menghadiri berbagai konferensi film dan pariwisata setelah komisi pemilihan umum Thailand mendiskualifikasinya dari calon kandidat perdana menteri Thailand pada Selasa (12/2) lalu.

“Aku ingin melihat Thailand maju, disukai, dan diterima oleh dunia internasional. Aku ingin melihat setiap orang di Thailand bisa mendapat haknya, bisa punya kesempatan, bisa hidup sejahtera dan bahagia,” kata Ubolratana ketika menyatakan alasannya maju dalam perebutan kursi perdana menteri.

Ubolratana adalah anggota keluarga kerajaan pertama yang berani mencalonkan diri sebagai politikus. Sebelumnya, ia bergabung dengan partai Thai Raksa Chart, partai oposisi pendukung mantan perdana menteri Thaksin Shinawatra yang dikudeta militer Thailand.

Klan Shinawatra dikabarkan masih punya pengaruh yang cukup besar di partai, meski Thaksin telah jadi eksil di Dubai. Keanggotaan Ubolratana dalam partai pun membuatnya punya relasi yang cukup dekat dengan Shinawatra.



Dua belas jam setelah mengumumkan pencalonan diri, Vajilalongkorn, raja Thailand yang juga adik Ubolratana, menyatakan keberatan dengan keputusan sang kakak dan akhirnya meminta komisi pemilihan umum untuk membatalkan pencalonan tersebut.

“Semua anggota kerajaan tidak diperkenankan terlibat dalam institusi politik karena berlawanan dengan hukum,” kata Vajilalongkorn.

“Saya sudah menanggalkan semua gelar kerajaan. Sekarang saya warga negara biasa yang punya hak untuk mencalonkan diri,” balas Ubolratana.


Sayang, ucapan itu tidak ada apa-apanya ketimbang keputusan raja.

Beberapa spekulasi pun muncul. Analisis Claudio Sopranzetti di Aljazeera menyatakan pencalonan Ubolratana berhubungan dengan niat Shinawatra untuk memperbaiki relasi dengan keluarga kerajaan yang selama ini buruk dan dinilai berdampak pada ketidakstabilan situasi politik di Thailand.

Menurut sopranzetti, perdebatan soal pencalonan Ubolratana menyiratkan keretakan hubungan antar kaum elite konservatif Bangkok dan di sisi lain kebencian mereka yang mengakar terhadap klan Shinawatra.

“Sudah bukan rahasia kalau keluarga-keluarga yang berpengaruh dan berkuasa di Thailand punya hubungan yang buruk dengan raja baru. Tetapi kecaman keras mereka terhadap keputusan sang putri untuk mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri mungkin menunjukkan bahwa aliansi keluarga-keluarga ini dengan istana tidak segoyah seperti yang diperkirakan sebelumnya,” tulis Sopranzetti.

Baca juga artikel terkait KELUARGA KERAJAAN atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf