Bagian II

Kisah Anak Panti Asuhan Korban Pencabulan 'Bruder Angelo'

Oleh: Alfian Putra Abdi - 31 Agustus 2020
Dibaca Normal 5 menit
Anak-anak panti asuhan ini dilecehkan secara seksual dan fisik oleh seorang yang mengaku biarawan Katolik di Depok.
tirto.id - Pada dini hari Senin, 9 September 2019, dalam tidurnya Joni merasakan “ada yang aneh” pada bagian perut ke bawah. Ia merasa seakan mengompol. Saat membuka mata, ia melihat Lukas Lucky Ngalngola atau Bruder Angelo.

“Dia kaget dan kabur,” kata Joni, “Saya mengenakan kembali celana dan mengejarnya.”

Joni, saat itu berusia 19 tahun, ingin sekali menghajar Angelo, pria asal Tanimbar berusia 45 tahun, pendiri Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani di Depok, pinggiran Jakarta.

“Dia minta maaf dan bilang khilaf. Dia mau mencium kaki saya untuk minta maaf,” ujar Joni.

Joni menopang tubuhnya yang gemetaran atas apa yang menimpanya. Angelo, yang seharusnya jadi pelindungnya dan sudah dianggap sebagai orangtua, malah tega melakukan pelecehan seksual.

Kebingungan dan menangis, Joni pergi ke ruang doa. “Saya berdoa minta Tuhan ampuni dosa saya dan dosa dia.”

Lalu Joni melapor ke Yosina atau Mama Ejon, yang tidur di kamar lantai atas panti. Mama Ejon, yang mengonfirmasi kisah Joni, melompat dari kasur setelah mendengar pintu kamarnya diketuk dengan keras. Joni menangis di depan pintu, lalu memeluk erat Mama Ejon.

Mama Ejon mengusulkan agar Joni melapor ke Aloysius Tolok, staf panti dan pengikut setia Angelo. “Tapi kalau Pak Alo tidak ada tindakan, kamu ke kantor polisi,” ujarnya.

Ketika pagi tiba dan mau berangkat sekolah, masih dalam keadaan terpukul dan tubuhnya gemetar bila ingat kejadian itu, Joni malah melihat Angelo bersikap biasa saja—“seakan tak punya salah,” ujar Joni.

Saran Mama Ejon diikuti Joni. Alo malah meminta Joni menyelesaikan secara kekeluargaan dengan Angelo. Joni tukar pendapat dengan Simone, anak satu panti, untuk kemungkinan ke kantor polisi.

“Ia datang dengan keadaan panik, sedih, dan marah. Saya juga kesal Joni diperlakukan begitu,” ujar Simone.

Keduanya mengisahkan ke Lorenzo, teman satu panti, lalu bertiga mulai mengumpulkan keberanian buat melaporkan Angelo ke polisi. Mereka meminta saran ke Maikel dan Sinta, suami-istri yang bekerja sebagai sopir dan tukang masak panti. Sinta, yang mengonfirmasi kisah ini, meyakinkan tekad anak-anak bahwa masih ada pihak-pihak yang mendukung kejadian ini dilaporkan ke polisi.

Ketiganya satu sekolahan; mereka mengadu ke kepala sekolah, yang kemudian menghubungi Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Mereka juga menceritakan kejahatan seksual Angelo ke para bruder di gereja setempat. Kemudian membawa mereka ke Perumahan Mutiara, tempat Panti Asuhan Kencana Bejana Rohani. Ketua lingkungan setempat memutuskan mengusir Angelo dari panti hari itu.

Angelo diminta untuk menjauhi anak-anak. Ia dilarang tidur di panti manapun. Menurut Yosina, Angelo menumpang tidur di rumah Alo untuk sekian malam sebelum pindah ke rumah kerabatnya di Cilodong.

Atas keberanian Joni, Lorenzo, dan Simone, pada 13 September, Angelo dilaporkan ke Polres Depok. Esoknya, Angelo ditangkap.

Namun, Angelo dibebaskan setelah tiga bulan dalam tahanan karena polisi gagal melengkapi berkas penyidikan untuk membawa kasusnya ke pengadilan. Selepas itu, Angelo membuat yayasan baru pada 14 April 2020 untuk sebuah panti baru di Vila Pamulang. Ada kekhawatiran kejadian sama berulang.


Dijuluki ‘Kelelawar Malam’, Mencabuli & Menyiksa Anak Asuh

Joni, Lorenzo, dan Simone mengisahkan ceritanya kepada Tirto, bersama lima anak panti lain, dalam wawancara terpisah pada 12 dan 22 Agustus 2020. Nama-nama kedelapan anak ini adalah nama samaran dalam laporan ini.

Angelo membuka panti pada Desember 2015, setahun berikutnya mengontrak dua rumah di Perumahan Mutiara, dan satu rumah lagi di Jl Belimbing untuk anak-anak usia remaja-dewasa. Sampai tahun lalu, ia telah menampung 70-an anak asuh.

Cerita anak-anak ini, Angelo tak cuma mencabuli anak asuhan “yang disukainya” tapi juga melakukan kekerasan terhadap anak “yang tak disukainya”. Ada juga yang tidak secara sadar ketika Angelo melakukan itu. Anak-anak ini meyakini Angelo membius korban. Mereka menyebut Angelo sebagai ‘kelelawar malam’—karena Angelo selalu memakai jubah dan penutup wajah serba hitam saat mencabuli anak-anak.

Paul, yang masih satu kerabat dan tinggal bersama Angelo sejak umur 13 tahun, menyaksikan si pelindungnya melakukan pencabulan kepada anak panti lain pada 2016. Saat itu hanya ada lima anak panti, termasuk satu bayi pemulung yang menderita busung lapar.

Paul dan empat anak lain ditugaskan Angelo untuk merawat bayi: mengganti popok dan memberikan susu dan kebutuhan lain. Setiap malam salah satu dari mereka bergantian menjaga bayi.

Sekitar pukul 2 dini hari, Paul tak sengaja memergoki Angelo mencabuli anak panti yang menjaga bayi, yang tengah tertidur.

Paul menyaksikan Angelo melakukan hal sama sebanyak tiga kali dengan anak berbeda.

“Setiap kali ketahuan kami, dia berusaha buat hati senang. Dia ajak kami ke bioskop. Dia minta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi,” ujar Paul. “Tapi terus saja berulang.”

Setiap ada anak baru, anak-anak panti lama memberitahu kejahatan seksual yang dilakukan Angelo. Mereka saling menjaga. Anak yang lebih tua menjaga adik-adiknya.

“Tidur kami tidak tenang. Kami tertekan. Kami jadi mengantuk di sekolah,” ujar Paul.

Mereka juga berupaya mengganjal pintu kamar dengan tempat tidur tingkat dari besi, tapi—entah bagaimana caranya, kisah anak-anak ini—Angelo tetap bisa menerobos.

Joni berkata mereka pernah mengikat dua tempat tidur untuk mengganjal pintu kamar, tapi Angelo tetap bisa masuk. Mereka tak mengetahui bagaimana itu bisa terjadi.

“Tetap bisa renggang. Jadi untuk malam itu, ia harus dapat (korban),” ujar Joni.

Markus, yang berumur 16 tahun saat dilecehkan secara seksual oleh Angelo, pernah mengadu ke orangtuanya. Pada kejadian 2017 itu Angelo memohon-mohon dan berjanji tak mengulanginya lagi.

Bardo, yang tinggal di panti sejak umur 12 tahun, mengajak Paul melarikan diri pada 2016 karena tak tahan dengan perilaku kasar dan kekerasan yang dilakukan Angelo.

Bardo kerap dipukul Angelo dengan bambu penyangga jemuran pakaian dan kayu rotan.

Mereka memutuskan berjalan kaki sejauh 22 kilometer, dari pukul 12 siang sampai jam 9 malam, menuju rumah kerabat di Cileungsi.

Mereka tak punya bekal makanan dan uang sepeser pun. Mereka kehausan di tengah jalan. Bardo sampai harus meneguk air bekas cucian piring di sebuah ruko. Paul membiarkan tenggorokannya kering. Bardo sempat menggendong Paul karena kelelahan.

Menurut Bardo, Angelo hanya kasar terhadap anak berkulit gelap, yang menurut Paul, itu berhubungan dengan perilaku seksual Angelo terhadap anak berkulit putih.

Gelasius, yang ikut panti sejak umur 16 tahun, mengisahkan saat ia pulang dari acara ulang tahun teman sekolahnya, ia ditendang dan dimaki-maki oleh Angelo. Gelasius mengeram sakit sembari memegangi perutnya yang lapar. Angelo menyerocos dan memaki orangtua Gelasius.

“Saya mencintai ibu saya,” ujar Gelasius. “Bruder boleh meludahi saya, pukul saya, tapi jangan maki ibu saya.” Angelo menamparnya.

Gelasius meminta maaf jika tidak pamit pergi dianggap sebagai kesalahan. Angelo justru melampar kunci motor, yang mengenai pelipis Gelasius hingga berdarah. Puncaknya, Gelasius diusir, tapi kemudian dijemput kembali setelah melangkah beberapa meter keluar panti.

“Lewat tidak permisi saja, dia maki dengan bahasa tak pantas,” ujar Gelasius, kini berumur 18 tahun. “Saya tidak mau adik-adik saya mengalami yang saya rasakan.”

Infografik Bruder Angelo
Infografik Bruder Angelo. tirto.id/Lugas

Dipenjara Kemiskinan, Anak Panti berkata “Hidup Kami di Tangan Angelo”

Anak-anak panti asuhan di bawah perlindungan finansial dan pendidikan Angelo mengisahkan kepada kami bahwa mereka sesungguhnya ingin berontak, tapi mereka tahu masa depan mereka di tangan Angelo. Mereka datang dari Sumatera Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan sebagainya.

Joni dibawa Angelo dari Sumatera Utara pada 2017 karena ingin sekali bersekolah. Bapaknya seorang nelayan, ibunya sakit-sakitan dan tak mampu membiayai pendidikannya. Angelo menyekolahkannya di salah satu SMA swasta di Depok.

Markus, yang mengadu kepada orangtuanya, melihat ibunya hanya bisa kesal tapi tak bisa marah karena Angelo sudah banyak membantu keluarga. Bapaknya marah besar, lalu mendatangi Angelo ke panti. Angelo memohon maaf agar tidak membawa kasus pelecehan seksual ke polisi. Sebagai gantinya, Angelo menjamin uang pendidikan Markus hingga tamat SMA. Markus diberikan uang muka Rp8 juta. Sejak kejadian itu Markus memilih tinggal di rumah orangtuanya.

“Ketika itu bapak menganggur dan susah. Begitu bapak kerja, Angelo tidak pernah berikan lagi uang itu. Saya juga tidak mau berurusan lagi dengannya. Bukannya karena takut, tapi saya jijik,” tutur Markus.

Bardo, yang kabur bersama Paul ke rumah kerabatnya di Cileungsi, harus kembali ke panti setelah Angelo menelepon ibunya dan meminta maaf.

Simone, berasal dari keluarga miskin di Sumatera Utara, datang ke panti pada 2016 melalui seseorang bernama Pilipus, yang datang ke kampungnya. “Orangtua saya tahu. Awalnya tidak diizinkan karena takutnya penjualan anak,” ujarnya. “Tapi karena Pilipus sudah ke sana, jadi dibolehkan.”

Lorenzo, juga dari Sumatera Utara, ikut Angelo karena Pilipus, yang liburan bersama Angelo ke kampung halamannya. Ia ingin melanjutkan sekolah tapi keluarga tak punya biaya. Angelo membawanya pada 2017.

Ia menduga Pilipus menjadi penghubung Angelo, yang “mungkin mengambil hati orangtua di kampung agar anak-anak mereka ikut panti Angelo” di Depok. Lorenzo juga menduga Pilipus tahu keburukan Angelo.

“Saya sudah tidak berkomunikasi dengan dia. Kami tidak bermusuhan. Kami hanya gengsi menegur karena sudah beda pendapat. Jadi secara tidak langsung pertemanan itu terbatas,” ujarnya mengenai Pilipus.

Lorenzo, anak paling tua saat ini di panti, sakit hati melihat adik-adiknya dilecehkan. Namun ia juga tak punya cukup kekuatan.

“Kami tidak bisa banyak omong. Hidup kami di tangan Angelo. Tapi, kalau setiap hari begini, kami mau jadi apa?” ujar Lorenzo.

Anak-anak ini sebetulnya berulangkali mengadu ke Aloysius Tolok, orang dekat Angelo, tapi Alo selalu meminta mereka berdamai dengan pengasuhnya; sampai kemudian terjadi kasus terhadap Joni.

Kami sudah berusaha mengonfirmasikan dugaan tindakan kekerasan seksual dan fisik yang dilakukan Angelo. Kami dua kali mendatangi kediaman Angelo pada 23-24 Agustus di Vila Pamulang, dan menitipkan surat kepada Aloysius Tolok yang bekerja di sana, serta melayangkan pesan singkat. Angelo tak merespons konfirmasi dari kami.

Kini sebagian anak yang dulunya diasuh Angelo—ada sekitar 44 anak—ditampung di rumah Darius Rebong, warga awam Gereja Katolik. Saat ditahan di Polres Depok, Angelo menulis perjanjian menyerahkan pengasuhan anak-anak ke Darius sejak 14 Oktober 2019, termasuk berjanji memberikan seluruh fasilitas Yayasan Kencana Bejana Rohani untuk dimanfaatkan anak-anak di rumah Darius.

Darius lantas mendirikan Yayasan Delapan Sabda Bahagia pada 13 Desember 2019. Beberapa pegawai eks Kencana Bejana Rohani seperti Sinta, Yosina, dan Maikel tinggal bersama dan membantu Darius. Mereka berbagi tugas merawat dan mencari donatur untuk anak-anak.

Simone, kini berumur 18 tahun, berkata kepada kami bahwa mereka sepakat untuk bersatu di rumah Darius.

“Kami tidak mau terpisah-pisah. Pak Darius bantu kami,” katanya.

======

Laporan ini terbit berkat kolaborasi Tirto dan The Jakarta Posdi bawah tajuk 'Nama Baik Gereja' untuk mengusut dugaan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan Gereja Katolik.

Baca seri laporan kolaborasi:

- Penyangkalan Kekerasan Seksual di Balik Tembok Tebal Gereja Katolik
- Bungkamnya Korban Kekerasan Seksual demi Nama Baik Gereja Katolik
- Korban Pelecehan Seksual Bersuara: 'Gereja Katolik Mengkhianati Saya'

Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL DI GEREJA atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight