tirto.id - PT Merdeka Battery Materials Tbk (“MBMA” atau “Perseroan”; IDX: MBMA) membukukan pendapatan sebesar AS$455,1 juta pada kuartal I 2026, naik 24% dari AS$366,1 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut didukung oleh peningkatan volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, serta penguatan margin Nickel Pig Iron (“NPI”).
EBITDA MBMA meningkat 361% secara tahunan menjadi AS$143 juta dari AS$31 juta pada kuartal I 2025, sementara laba bersih konsolidasian mencapai AS$82 juta, dibandingkan AS$6 juta pada kuartal I 2025. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, atau net profit after minority interests (“NPATMI”), tercatat sebesar AS$29,9 juta, berbalik dari rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar AS$3,5 juta pada kuartal I 2025.
“MBMA mencatat awal tahun yang kuat pada 2026, didukung oleh peningkatan volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, dan penguatan margin NPI, sejalan dengan kenaikan produksi limonit dan saprolit. Fokus kami tetap pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, serta kelanjutan pengembangan proyek-proyek hilir sebagai pendorong pertumbuhan Perseroan,” ujar Teddy Nuryanto Oetomo, Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk.
Aktivitas penambangan nikel tetap menjadi salah satu pendorong utama kinerja Perseroan. Volume bijih yang ditambang meningkat 143% secara tahunan menjadi 7,7 juta wet metric tonnes (“wmt”), didorong oleh kenaikan produksi limonit dan saprolit. Penjualan limonit naik 126% secara tahunan menjadi 4,8 juta wmt, terutama untuk mendukung operasi High Pressure Acid Leaching (“HPAL”), sementara pengiriman saprolit meningkat 42% menjadi 1,9 juta wmt seiring upaya MBMA mengoptimalkan pasokan dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral (“SCM”) untuk operasi smelter Perseroan.
Margin bijih nikel tetap kuat, didukung oleh harga jual rata-rata yang lebih baik dan peningkatan volume pengiriman. Saprolit dan limonit masing-masing mencatat margin tunai sebesar AS$4,0 per wmt dan AS$10,1 per wmt. Kinerja ini menegaskan pentingnya basis cadangan bijih MBMA dalam mendukung operasi hilir dan menjaga ketahanan margin di sepanjang rantai nilai.
Pada segmen NPI, fasilitas RKEF MBMA mengolah 2,2 juta wmt bijih saprolit dengan kadar nikel rata-rata 1,57%, menghasilkan 19.990 ton nikel dalam bentuk NPI, termasuk Low-Grade Nickel Matte (“LGNM”). Produksi dan penjualan NPI meningkat 23% secara tahunan setelah penyelesaian kegiatan pemeliharaan pada 2025. NPI mencatat margin tunai sebesar AS$3.982 per ton nikel, didukung oleh harga jual yang lebih tinggi dan berkurangnya ketergantungan terhadap saprolit pihak ketiga.
Produksi High-Grade Nickel Matte (“HGNM”) meningkat 9% secara tahunan menjadi 10.361 ton, sementara penjualan turun 19% karena faktor waktu pengiriman. Di segmen pengolahan hilir, PT ESG New Energy Material memproduksi 5.194 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (“MHP”), didukung oleh pengiriman bijih yang lebih efisien setelah penyelesaian Feed Preparation Plant SCM dan jalur pipa slurry menuju IMIP pada kuartal IV 2025.
MBMA juga terus memajukan fase pertumbuhan hilir berikutnya melalui PT Sulawesi Nickel Cobalt (“SLNC”). Hingga akhir kuartal I 2026, pembangunan pabrik HPAL dan Feed Preparation Plant masing-masing telah mencapai 95% dan 94%. Proyek HPAL SLNC telah menyelesaikan commissioning pada akhir kuartal II 2026 dan saat ini menunggu penerbitan Izin Usaha Industri (“IUI”). Produksi dijadwalkan meningkat secara bertahap sepanjang semester II 2026.
MBMA mempertahankan posisi likuiditas yang solid sepanjang kuartal I 2026. Per 31 Maret 2026, Perseroan memiliki kas dan setara kas sebesar AS$350 juta. Total utang tercatat sebesar AS$1,06 miliar, sementara utang bersih sebesar AS$710 juta. Rasio utang bersih terhadap EBITDA berada pada level 2,1 kali, masih jauh di bawah batas rasio yang dipersyaratkan sebesar 5,0 kali.
Untuk 2026, MBMA menargetkan pengiriman bijih saprolit sebesar 8,0 juta hingga 10,0 juta wmt dan penjualan bijih limonit sebesar 20,0 juta hingga 25,0 juta wmt. Perseroan juga menargetkan produksi NPI sebesar 70.000 hingga 80.000 ton nikel dan produksi HGNM sebesar 44.000 hingga 48.000 ton. Produksi MHP dari operasi HPAL ESG ditargetkan mencapai 27.000 hingga 30.000 ton. Panduan kinerja 2026 tersebut tetap bergantung pada persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (“RKAB”).
Ke depan, MBMA berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan momentum kinerja kuartal I 2026, didukung oleh peningkatan volume bijih nikel, visibilitas margin yang lebih baik, peningkatan pasokan mandiri untuk operasi RKEF, serta pengembangan platform HPAL Perseroan. MBMA akan terus berfokus pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, dan pengembangan portofolio bahan baku baterai terintegrasi untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































