22 Maret 1994

Kilas Balik 26 Tahun Gigi

Ilustrasi Header Mozaik Gigi. tirto.id/Nauval
Oleh: Nuran Wibisono - 21 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
Gigi mengalami beberapa kali bongkar pasang personel.
6 Juli 2005, Hard Rock Cafe, Jakarta. Gigi, salah satu band tenar di Indonesia, mengadakan konser yang tak biasa: The Last Gigi Live in Concert. Ini memang konser perpisahan, sebab vokalis Gigi, Armand Maulana akan pergi ke Amerika Serikat untuk mengikuti audisi band rock asal Australia, INXS.

INXS bukan band sembarangan. Dibentuk pada 1977, band ini punya banyak hits global, termasuk “New Sensation” dan “Suicide Blonde”. Pada 1997, band yang sudah menjual lebih dari 30 juta keping album ini kena pukulan telak. Sang vokalisnya yang dikenal kharismatik pun flamboyan, Michael Hutchence meninggal dunia. Apa boleh buat, mereka harus jalan terus. Setelah Jon Stevens sempat mengemban tugas sebagai vokalis selama 2000 hingga 2003, kursi itu kosong.

Pada 2004, INXS mengadakan acara televisi berjudul Rock Star: INXS, untuk mencari pengganti Stevens. Dan di acara itu, Armand akan ikut. Kabar ini bikin geger, tentu saja. Terutama para personel Gigi. Bassist Thomas Ramdhan menangis, sembari mendoakan agar Arman tidak lolos audisi.

Sedangkan gitaris Dewa Budjana sempat bersitegang dengan Armand, walau akhirnya memberi restu. Di salah satu majalah musik, Budjana saat itu malah berkata dengan tegas: kalau Armand pergi, Gigi lebih baik bubar.

Kita kemudian tahu, Gigi tak jadi bubar karena Armand batal mengikuti audisi. Sebagai band besar yang sudah bertahan lebih dari seperempat abad, ini bukan cobaan pertama yang menghantam Gigi.

Definisi Dream Band Era 90

Ketika terbentuk pada 22 Maret 1994, tepat hari ini 26 tahun lalu, para personel Gigi sudah bukan gerombolan remaja yang punya mimpi sebagai musisi profesional lagi. Mereka memang sudah jadi musisi dengan jam terbang yang cukup tinggi.

Armand Maulana, vokalis, sudah dikenal sebagai vokalis Next Band, menggantikan Freddy Tamaela. Di usia yang muda, Armand sudah bermain dengan para legenda seperti Keenan dan Oding Nasution, bahkan sudah merilis album solo Kau Tetap Milikku (1993).

Dewa Budjana, sang gitaris, setelah lulus SMA sudah berani merantau ke Jakarta untuk bermain musik. Di Jakarta, Budjana sempat luntang-lantung karena tak ada yang mau mengajaknya bermain musik.

“Mungkin karena saya nggak main musik yang standar,” ujarnya di buku Gigi: Peace, Love & Respect (2009).

Orang pertama yang mengajaknya bermain musik adalah Dicky Prawoto yang pernah memperkuat Eka Sapta. Ajakan Dicky seperti tambahan napas bagi Budjana. Setelah itu, perlahan jalan terbuka untuk Budjana. Dia diajak Fariz RM untuk mengisi gitar di rekaman lagu “Cinta di Balik Noda” yang dinyanyikan Meriam Bellina.

“Edan! Ini bintang film datang, terus rekaman. Menurut saya, ini dahsyat!” kenang Budjana tentang pengalaman rekaman pertamanya itu. Budjana kemudian malang melintang di sejumlah band, bermain bersama banyak musisi tenar, rekaman dengan band Spirit, dan menjadi session player untuk Twilite Orchestra.


Sedangkan duo departemen ritmik, bassist Thomas Ramdhan dan drummer Ronald Fristianto sejak lama dikenal sebagai langganan banyak produser musik.

“Mereka berdua andalannya Pay (gitaris Slank sekaligus produser laris),” ujar Armand di obrolannya bersama Gofar Hilman.

Formasi ini dipungkasi oleh Aria Baron, gitaris asal Bandung yang namanya juga populer di Tanah Pasundan. Dia sempat bikin Badai, yang jadi cikal bakal /rif.

Armand berkisah sebenarnya para personel ini kumpulnya sejak September 1993 di studio Triple M, Jakarta Pusat. Yang berjasa mencetuskan ide untuk bikin band adalah Pay. “Budj, kenapa lo gak bikin band bareng Ronald dan Thomas?” tanya gitaris Slank itu suatu ketika. Mereka setuju.

Di buku biografi Gigi, dikisahkan trio Budjana, Thomas, dan Ronald mulai latihan di Studio 45 di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saat itu vokalis yang diajak adalah Pierre, pria yang juga menjadi vokalis awal dr. PM. Namun kehadiran Pierre tak lama, hingga tercetus nama Armand.

Setelah lima orang ini terkumpul, mereka kemudian bikin demo di studio A Sytem, milik Andy Ayunir, rekan Armand di Next Band. Di sana, Gigi merekam tiga lagu dalam sehari, “Kuingin”, “Angan”, dan “Adakah yang Tersisa”.

Dari sana, baru Gigi merekam album pertamanya, Angan. Album ini dirilis oleh Musica, dan diedarkan oleh Union Artist Indonesia. Meski tak ada jumlah pastinya, diperkirakan album ini terjual sekitar 100.000 keping. Bukan angka yang buruk untuk album debut band baru.



Anti Bendera Putih

Di album kedua, Dunia (1995), Gigi mulai mengalami cobaan pertama. Usai rekaman album yang melejitkan lagu “Janji” dan “Nirwana” dan meluncurkan nama Gigi ke sirkuit band top Indonesia, Baron mengundurkan diri karena harus sekolah ke Amerika. Jadilah Budjana sebagai gitaris tunggal di Gigi, posisi yang terus bertahan hingga sekarang.

Di masa ini, Thomas kecanduan putaw. Dia sempat menyembunyikan kecanduannya itu, walaupun dicurigai oleh Ronald. Di sebuah acara pentas seni, Thomas akhirnya tak bisa menyembunyikannya lagi: dia ambruk ketika sedang bermain. Sejak itu, hubungan mereka memburuk.

Album berikutnya, 3/4 (1996), cobaannya makin besar. Usai album dirilis, Thomas hanya diikutkan satu kali dalam tur promosi. Selanjutnya posisinya diganti oleh Opet Alatas, yang sejak lama jadi kru Thomas. Di tahun ini, Thomas akhirnya mengundurkan diri karena berpikir dia akan menghambat Gigi. Keputusannya keluar diikuti oleh Ronald.

Gigi akhirnya berjalan hanya dengan sisa dua orang. Meski begitu, Armand dan Budjana tak mau mengibarkan bendera putih. Mereka mengajak Opet dan Budi Haryono untuk membuat album 2 X 2 (1997). Album ini bisa dibilang ambisius, melibatkan banyak orang, termasuk Indra Lesmana dan pemain bass Mr. Big, Billy Sheehan, serta proses mixing dan mastering di Amerika Serikat.


Proses bongkar pasang personel Gigi ini tak berhenti. Opet memutuskan keluar setelah Thomas sembuh. Budi juga keluar, dan merekomendasikan Gusti Hendy, yang kemudian resmi jadi personel Gigi sejak 2004 hingga sekarang.

Sebagai sebuah band, Gigi bisa dibilang berada di jalur tengah. Lahir dan berproses di antara band-band seperti Slank dan Dewa 19, Gigi bisa dibilang punya kekuatan sendiri. Mereka mungkin tidak seslengean dan tak punya basis penggemar sebesar Slank, pun secara penulisan lirik mungkin tak sebagus Dewa 19.

Namun Gigi punya banyak kekuatan. Karakter suara dan energi Armand ketika di atas panggung, permainan gitar Budjana yang kalem tapi mengeluarkan notasi-notasi asyik, juga permainan bass Thomas yang hidup. Mereka juga konsisten dalam hal produktifitas. Ketika Dewa 19 tak punya banyak album, dan Slank berjuang keras untuk konsisten usai album kelima, Gigi relatif menjalani jalur produktifitas ini dengan landai saja.

Hingga sekarang, Gigi merilis lebih dari 25 album. Gigi juga berhasil diterima kalangan beda generasi. Meski berasal dari gelombang band 1990-an, kuartet ini masih bisa menggaet penggemar muda lewat “Nakal” dan “11 Januari” dari album Peace, Love and Respect (2007), juga “Ya.. Ya.. Ya..” dan “My Facebook”, lagu yang jadi amat besar, sekaligus menggambarkan keberhasilan Gigi bertahan hingga era media sosial.

Baca juga artikel terkait MUSISI INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Windu Jusuf
DarkLight