tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi melantik Kevin Warsh sebagai Ketua Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam upacara pengambilan sumpah di Gedung Putih, Jumat (22/5/2026). Mantan Gubernur The Fed berusia 56 tahun ini resmi menggantikan Jerome Powell untuk memimpin bank sentral di tengah situasi ekonomi global yang bergejolak dan tekanan laju inflasi Amerika Serikat.
Apalagi, tindakan Trump terhadap The Fed selama ini sempat memicu kekhawatiran dari kedua partai (bipartisan) mengenai adanya intervensi eksekutif terhadap bank sentral yang secara historis bersifat independen. Meski begitu, Trump menyatakan bahwa ia ingin Warsh "melakukan hal sesuai pilihannya sendiri dan bekerja dengan sangat baik."
“Saya ingin Kevin benar-benar independen," ujar Trump di awal acara pada Jumat (22/5/2026) pagi waktu setempat. "Jangan lihat saya, jangan lihat siapa pun,” tambahnya, dikutip CNBC.
Namun, upacara pelantikan pimpinan anyar The Fed ini justru menegaskan keterlibatan presiden yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap bank sentral selama masa jabatan keduanya: Warsh adalah Ketua The Fed pertama yang dilantik di Gedung Putih sejak Alan Greenspan pada tahun 1987.
Melalui pelantikan di Gedung Putih ini, Trump seakan memperjelas ekspektasinya terhadap era kepemimpinan Warsh pada Jumat sore, saat ia mengeklaim bahwa suku bunga akan turun "dengan sangat cepat."
"Lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Dulu saya punya ketua The Fed yang buruk, dan sekarang saya punya ketua The Fed yang hebat," ujar Trump dalam rapat umum bergaya kampanye di Suffern, New York.
"Kevin baru saja dilantik hari ini, dia hebat, dan dia akan melakukan hal-hal hebat," lanjut dia.
Trump sempat mulai membahas rancangan undang-undang perumahan di Kongres, sebelum akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Sejujurnya, masalah perumahan itu sepenuhnya berkaitan dengan suku bunga... mereka bisa saja mengesahkan undang-undang apa pun yang mereka mau, tapi intinya tetap pada suku bunga. Begitu Anda menurunkan suku bunga, semua orang akan sangat, sangat senang," katanya kepada para hadirin di sebuah perguruan tinggi setempat.
Upacara pelantikan Warsh di East Room dihadiri oleh deretan tokoh terkemuka, termasuk Hakim Agung Clarence Thomas dan Brett Kavanaugh, Ketua DPR Mike Johnson, serta banyak politisi dan pejabat Kabinet lainnya. Thomas memimpin pengambilan sumpah jabatan untuk Warsh.
"Mandat kami di The Fed adalah menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja," kata Warsh setelah dilantik.
"Ketika kita mengejar tujuan tersebut dengan kebijaksanaan dan kejelasan, kemandirian serta keteguhan hati, inflasi dapat ditekan, pertumbuhan menjadi lebih kuat, pendapatan bersih riil masyarakat meningkat, dan Amerika bisa menjadi lebih makmur. Yang tidak kalah penting, posisi Amerika di mata dunia pun akan semakin aman," ujarnya.
"Untuk memenuhi misi ini, saya akan memimpin Federal Reserve yang berorientasi pada reformasi, belajar dari keberhasilan dan kesalahan masa lalu, keluar dari kerangka berpikir serta model yang kaku, sekaligus menjunjung tinggi standar integritas dan kinerja yang jelas," tutur Warsh.
Warsh, yang berusia 56 tahun, merupakan Ketua The Fed ke-11 dalam era perbankan modern, menggantikan Jerome Powell yang telah menjabat selama delapan tahun. Pelantikan kemarin tersebut menandai periode kedua bagi Warsh di The Fed.
Ia sebelumnya pernah menjabat sebagai gubernur dari tahun 2006 hingga 2011, masa di mana bank sentral bekerja sama dengan pejabat Departemen Keuangan untuk menyelamatkan ekonomi dari krisis keuangan global.
Meski sempat mendukung upaya The Fed saat itu, Warsh belakangan menjadi kritis terhadap bank sentral karena membiarkan kebijakan era krisis terus berjalan dan dianggap melampaui mandatnya untuk menjaga stabilitas harga serta menekan pengangguran.
Sebagai contoh, ia menyoroti upaya The Fed sebelumnya dalam mengatasi perubahan iklim dan kesenjangan sosial sebagai bentuk perluasan fungsi yang menyimpang (mission creep), dan ia telah berjanji untuk mengurangi intervensi bank sentral di pasar keuangan.
Warsh berhasil menduduki jabatan tersebut setelah melalui proses seleksi ketat yang dimulai pada musim panas tahun 2025. Seleksi ini diikuti oleh 11 kandidat, mulai dari pejabat dan mantan pejabat The Fed, ekonom terkemuka, hingga pakar strategi Wall Street.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































