Ketika Polisi Belanda Menembak Mati Pemuda di Pegangsaan Timur 56

Presiden Republik Indonesia, Dr. Soekarno, terlihat di Batavia, Indonesia, pada 18 Oktober 1945, di mana pertempuran antara Indonesia dan Belanda sedang berlangsung. FOTO/AP
Oleh: Petrik Matanasi - 11 Mei 2020
Dibaca Normal 2 menit
Seorang anggota pandu tewas di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 saat merayakan hari ulang tahun RI yang ke-3.
Pada 17 Agustus 1948, Sukarno sudah tidak tinggal di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta. Ia beserta keluarga dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya mengungsi ke Yogyakarta.

Saat itu, Jakarta adalah daerah pendudukan Belanda. Bahkan pada Agresi Militer Belanda I yang dimulai tanggal 21 Juli 1947, rumah ini pernah didatangi oleh Kapten Westerling. Meski demikian, Jakarta masih menyisakan orang-orang yang mendukung Republik. Para pemuda di Jakarta bahkan hendak menggelar acara api unggun di sekitar rumah tersebut untuk memperingati hari ulang tahun Kemerdekaan RI yang ke-3 pada tanggal 17 Agustus 1948.

Dalam buku Aku Ingat: Rasa dan Tindak Siswa Sekolah Menengah Kolonial di Awal Merdeka Bangsa (1995) diceritakan bahwa Netty Awaludin adalah salah satu remaja putri yang mendapat izin dari orangtuanya untuk hadir dalam acara api unggun tersebut. Dalam kesempatan itu, hadir pula sejumlah anggota pandu yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Salah seorang anggota pandu itu bernama Soeprapto. Ia merupakan siswa kelas tiga SMP Taman Dewasa—milik perguruan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara—di Kemayoran. Soeprapto, seperti dicatat Ayatrohaedi dan kawan-kawan dalam Kumpulan Buklet Hari Bersejarah (1994:42), dalam acara itu bertugas sebagai pengatur tata tertib perayaan.

Remaja ini adalah cucu dari Mas Ngabehi Dwidjosewojo dan anak dari ahli hukum Mr. Dwidjosewojo—yang kala itu pegawai pemerintah Belanda. Kakak Soeprapto bahkan ada yang disekolahkan ke Belanda.

Menurut Netty Awaludin, di tengah pendudukan Belanda atas Jakarta, rumah nomor 56 di Jalan Pegangsaan Timur termasuk salah satu bangunan yang relatif dikuasai para pejuang pro Republik. Oleh karena itu, meski saat itu berlaku jam malam, namun para pemuda tak hendak melewatkan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia.

“Pada malam tanggal 17 Agustus 1948, bersama-sama murid serta pamong-pamong Taman Dewasa Raya, Soeprapto menembus blokade penjagaan tentara Sekutu yang ketat, menuju ke Gedung Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56,” ungkap tim penulis buku 60 tahun Tamansiswa Jakarta (1989:160).

Aparat keamanan tentu tidak menghendaki aksi ini. Mereka kemudian datang untuk menguasai Gedung Pegangsaan Timur 56 dan hendak menyita dokumen-dokumen terkait Republik dengan jalan kekerasan. Adu mulut terjadi antara anak-anak muda pro Republik dengan polisi Belanda. Dan peristiwa mengerikan kemudian terjadi.

“Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan-tembakan. Semua berlarian memasuki rumah dan bertiarap, kecuali Milly yang sepertinya terpaku tetap duduk di atas meja sambil berpegangan erat pada tepinya,” kata Netty Amaludin.

Milly yang disebut Netty adalah Milia Maria Matulanda 'Milly' Ratulangi, putri Gubernur Sulawesi, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi alias Sam Ratulangie yang kala itu sedang berada di sekitar Yogyakarta.


Polisi yang melepaskan tembakan itu adalah seorang inspektur polisi Indo-Belanda yang datang bersama satu regu Poh An Tui (milisi Tionghoa yang dijadikan polisi kampung). Insiden itu kemudian dikenal sebagai Peristiwa Pegangsaan.

Netty sangat terkejut ketika tahu bahwa salah satu korban tembakan itu adalah Titing, adiknya yang diam-diam hadir dalam acara tersebut. Selain Titing, Soeprapto juga ikut tertembak.

“Soeprapto meninggal dunia sedangkan Titing selamat, tetapi mengalami luka cukup parah. Ia terkena peluru yang berasal dari peluru yang telah mengenai Soeprapto. Jiwa Titing tertolong walaupun peluru hampir mengenai jantungnya,” ujar Netty.



Belanda Menuai Protes

Keluarga Soeprapto sangat berduka dan marah. Ayahnya bahkan mengambil keputusan untuk berhenti bekerja kepada Belanda. Tak hanya dia, seorang pegawai Belanda bernama Verdoorn juga ikut berhenti sebagai bentuk protes kepada pemerintah Belanda.

Ribuan orang mengiringi pemakaman Soeprapto. Arak-arakan berlangsung dari rumah sakit di Salemba menuju TPU Menteng Pulo. Terbunuhnya Soeprapto membuat lebih banyak kaum pro Republik untuk berkumpul di Jakarta.

Kesalahan polisi Belanda dalam Peristiwa Pegangsaan itu ditindaklanjuti pihak Indonesia dengan tidak melanjutkan perundingan-perundingan dengan Belanda sebelum kekebalan diplomatik Indonesia di Jakarta dijamin oleh Belanda.

Empat bulan setelah peristiwa itu, militer Belanda yang dipimpin Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor menyerbu ibukota RI di Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Agresi Militer Belanda II itu kemudian menjadi titik balik bagi Belanda hingga mereka akhirnya kehilangan negeri jajahannya.

Dan belum genap setahun Soeprapto ditembak hingga tewas, Spoor juga tutup usia karena serangan jantung dan dimakamkan tidak jauh dari Soeprapto, yakni di Ereveld Menteng Pulo.

Jauh setelah tentara Belanda angkat kaki, Peristiwa Pegangsaan nyaris tak diingat lagi oleh orang-orang Indonesia. Apalagi bekas rumah Sukarno itu telah dirobohkan, Peristiwa Pegangsaan makin dilupakan.

Baca juga artikel terkait AGRESI MILITER BELANDA II atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight