Kenali Psikosomatis, Gangguan Kecemasan Usai Baca Berita COVID-19

Oleh: Yulaika Ramadhani - 30 November 2020
Dibaca Normal 1 menit
Reaksi rasa cemas setelah membaca berita tentang COVID-19 termasuk gangguan psikosomatis.
tirto.id - Apakah Anda pernah merasakan, setelah membaca atau menonton berita yang berhubungan dengan Corona COVID-19 tiba-tiba merasa demam, pegal-pegal, dan sakit tenggorokan. Reaksi gejala semu ini timbul akibat rasa cemas dan lazim disebut gangguan psikosomatis.

Psikosomatis ini berasal dari stres emosional dan bermanifestasi dalam tubuh sebagai rasa sakit dan gejala lainnya. Saat stres, kita mengalami psikosomatis, akhirnya merasa binggung dan merasa seperti sesak nafas. Padahal, bisa jadi itu hanya karena cemas.

Infografik Gangguan Kecemasan
Infografik Gangguan Kecemasan


Secara biologis, dikutip dari Britannica, gangguan psikosomatis terjadi karena amygdala, pusat rasa cemas pada otak, merespons dengan mengaktifkan sistem saraf otonom secara berlebihan. Tubuh dibuat seolah sedang menghadapi ancaman sehingga selalu siaga. Akibatnya gejala psikosomatik muncul, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, menciptakan rasa sakit di dada.


BKKBN memberikan tips untuk mengendalikan psikosomatis atau kecemasan sebagaimana dilansir lewat situs resmi Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19.

1. Tidak perlu menangkal rasa cemas

Menangkal perasaan cemas tidak akan membantu mengelola stres karena cemas merupakan sesuatu yang wajar dan bersifat alami. Selain itu, kecemasan dapat membantu untuk bersiap dan merasa lebih aman, asalkan jangan terlalu cemas berlebihan.

2. Jangan hanya fokus pada informasi negatif

Diharapkan agar lansia menghindari informasi-informasi negatif tentang Covid-19. Jangan lupa pula memberitahukan kepada mereka bahwa Covid-19 bisa disembuhkan. Untuk itu, beritahu lansia mengenai pengalaman orang-orang yang sudah sembuh. Bila ingin mengetahui informasi tentang Covid-19, pilihlah informasi yang valid.

3. Aktif bergerak

Selama masa pandemi ini, ada baiknya para lansia untuk tetap aktif bergerak, salah satunya melaukan olahraga dasar yoga karena bisa membantu menenangkan pikiran. Kemudian, lakukan senam ringan sambil berjemur atau meditasi di pagi hari. Selain itu, jalan-jalan di pekarangan rumah juga baik untuk dilakukan karena bagus untuk fisik dan mental.

4. Makanan seimbang dan tidur tepat waktu

Lansia diharapkan untuk menjaga pola tidur dengan durasi 7-8 jam sehari. Selain pola tidur yang cukup, jaga pula pola makan dengan menu dan nutrisi seimbang, terutama mengandung Vitamin C, E dan Zinc serta mengonsumsi multivitamin.

5. Rileks

Selama pandemi, lansia juga disarankan untuk meluangkan waktu agar bisa beristirahat, bersantai dan menenangkan diri. Kemudian, lakukan teknik pernafasan sederhana. Tak hanya itu, bisa juga menonton film atau video untuk memperbaiki suasana hati. Terakhir, bisa pula mendengarkan musik atau suara yang bisa menenangkan seperti suara kicauan burung, hujan dan audio relaksasi.

6. Bikin kegiatan menyenangkan

Melakukan kegiatan yang menyenangkan selama pandemi ini baik untuk mengatasi kecemasan. Kegiatan itu bisa berupa membaca, melukis, menyulam, memainkan alat musik, mengurus tanaman, memberi makan ikan dan menikmati pemandangan hijau di sekitar rumah sambil berjemur di pagi hari.

7. Tetap berhubungan dengan keluarga dan teman

Selama masa Covid-19 ini, lansia harus membatasi interaksi langsung. Tapi hal itu bukan berarti meninggalkan hubungan dengan keluarga dan teman. Tetaplah berkomunikasi menggunakan telepon, email dan media sosial. Hal itu diyakini bisa membantu lansia mengatasi kecemasan.

Jangan lupa selalu #ingatpesanibu dan menerapkan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Psikosomatis
Psikosomatis Pada Lansia. foto/covid19.go.id


____________________

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).



Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight