Kenali Penyakit Chikungunya yang Punya Gejala Mirip Demam Berdarah

Penulis: Yulaika Ramadhani - 11 Jul 2019 13:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Beberapa orang kadang melakukan kesalahan diagnosa terhadap gejala chikungunya, dan menganggapnya sebagai demam berdarah.
tirto.id - Kementerian Kesehatan RI mencatat, penyakit chikungunya merupakan penyakit yang sudah cukup lama ada di Indonesia. Kasus chikungunya terbanyak di Indonesia adalah tahun 2010 yaitu 32.703 dan turun dari tahun ke tahun hingga berjumlah 126 kasus pada tahun 2017.

Dilansir Mayo Clinic, chikungunya adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Alphavirus yang ditularkan oleh nyamuk.

Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan oleh nyamuk yang pertama kali ditemukan di Tanzania selatan pada tahun 1952. Nama "chikungunya" berasal dari sebuah kata dalam bahasa Kimakonde, yang berarti "menjadi berkerut", dan menggambarkan penampilan bungkuk penderita dengan nyeri sendi (arthralgia).

Infografik SC Penyakit Cikungunya
Infografik SC Penyakit Cikungunya. tirto.id/Sabit


Penyakit ini menyebabkan timbulnya demam secara tiba-tiba dan nyeri sendi yang parah.

Tanda dan gejala lain adalah kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan ruam. Tanda dan gejala chikungunya biasanya muncul dalam dua hingga tujuh hari setelah digigit nyamuk yang terinfeksi.

Sementara itu, WHO menyatakan gejalan dan tanda yang dihadapi oleh penderita chikungunya paling umum ditandai dengan timbulnya demam secara tiba-tiba disertai dengan nyeri sendi.

Rasa nyeri sendi sangat dominan, biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga berminggu-minggu. Virus chikungunya dapat menyebabkan penyakit akut, hingga subakut atau kronis.

Sebagian besar pasien bisa sembuh dan pulih sepenuhnya, tetapi dalam beberapa kasus nyeri sendi dapat berlangsung hingga beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Beberapa kasus dilaporkan seperti komplikasi dengan bagian mata, saraf, hingga jantung dan saluran pencernaan.

Kasus komplikasi tidak terlalu banyak terjadi, namun komplikasi yang terjadi pada orang yang telah berumur bisa menjadi penyebab kematian.


Beberapa orang kadang melakukan kesalahan diagnosa terhadap gejala chikungunya, dan menganggapnya sebagai demam berdarah.

Chikungunya sudah teridentifikasi di lebih dari 60 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Penyakit ini menuar dari manusia ke manusia dengan gigitan dari nyamuk betina yang sudah terinfeksi virus chikungunya terlebih dahulu.

Nyamuk yang paling sering menyebarkan virus Chikungunya adalah nyamuk Aedes aegypti and Aedes albopictus, dua jenis nyamuk ini juga bisa menyebarkan virus demam berdarah.

Kedua nyamuk ini bisa kapan saja menggigit manusia, namun punyaknya ada pada pagi dan sore hari. Kedua spesies ini kebanyakan menggigit di luar ruangan namun Aedes aegypti juga banyak beraktivitas di dalam ruangan.

Setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi, timbulnya penyakit biasanya terjadi antara 4 dan 8 hari. Namun, kisarannya terjadi dari 2 hingga 12 hari.

Dikutip cdc.gov, cara yang paling efektif untuk mencegah chikungunya adalah mencegah gigitan nyamuk yang terjangkit virus. Nyamuk bisa menggigit baik siang maupun malam hari.

Berikut beberapa cara pencegahan penularan penyakit chikungunya:
  • Gunakan pengusir serangga yang terdaftar pada Badan Perlindungan Lingkungan. Pastikan pengusir serangga tersebut aman bahkan bagi ibu mengandung dan menyusui
  • Jangan gunakan obat penolak serangga pada bayi yang berumur kurang dari 2 bulan. Lebih baik gunakan baju lengan panjang dan kelambu anti nyamuk.
  • Jangan menggunakan produk yang mengandung minyak lemon eucalyptus (OLE) atau para-menthane-diol (PMD) pada anak di bawah 3 tahun.
  • Gunakanlah baju panjang saat keluar rumah
  • Gunakanlah lapisan kelambu anti nyamuk pada jendela dan pintu rumah Anda.
  • Laksakana gerakan 3M (menutup rapat tempat penyimpanan air, menguras tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas yang bisa menampung air).
  • Mencegah nyamuk bertelur. Seminggu sekali, kosongkan dan gosok, balikkan, tutupi, atau buang benda-benda yang menampung air. Yaitu benada-benda seperti ban, ember, pekebun, mainan, kolam, birdbath, pot bunga, atau tempat sampah.
Tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk chikungunya. Pengobatan diarahkan untuk menghilangkan gejala-gejala, termasuk nyeri sendi menggunakan anti-piretik, analgesik dan obat-obatan lain. Bisa dikatakan belum ada vaksin chikungunya secara komersial.


Baca juga artikel terkait CHIKUNGUNYA atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani

DarkLight