Kegagalan Modern Group Mereposisi Fuji Film Menjadi 7-Eleven

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 4 Juli 2017
Dibaca Normal 3 menit
Group Modern sempat merajai bisnis fotografi di bawah merek Fuji Film. Namun, perkembangan teknologi membuat bisnis studio foto itu lesu. Modern lalu banting setir ke segmen ritel, mengusung merek 7-Eleven yang kini juga gulung tikar.
tirto.id - Ada masanya ketika masyarakat mengandalkan studio foto untuk urusan fotografi. Mulai dari membeli roll film, mencetak foto, hingga berpose di studio. Tahun 1970-an, 1980-an, hingga 1990-an, bisnis fotografi dan studio foto masih menjanjikan. Perusahaan yang berkecimpung di bidang inipun berkembang dengan pesat, salah satunya Modern Grup.

Sejak tahun 1971, PT Modern International Tbk sudah menjadi distributor resmi Fuji Photo Film Co. Ltd, sebuah perusahaan produsen kamera dan perlengkapan fotografi di Jepang. Saat itu, Modern belum melantai di bursa. Namanya pun masih PT Modern Photo Film Company. Ia menjadi distributor tunggal. Tak hanya menjual dan melakukan perbaikan peralatan fotografi, Modern juga mendistribusikan berbagai produk serta jasa dari Fuji.

Tahun 1988, Modern mendirikan Fuji Image Plaza, gerai foto yang kemudian menjamur di kota-kota. Namun, memasuki tahun 2000-an, ketika teknologi kamera mulai masuk ke digital dan ponsel berkamera semakin banyak dipakai, bisnis fotografi milik Modern ini mulai lesu.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, pendapatan bersih Modern mencapai Rp1,9 triliun pada tahun 2001. Setahun kemudian, angkanya turun ke Rp1,85 triliun, lalu turun lagi ke Rp1,6 triliun pada 2003. Empat tahun kemudian, pendapatan bersih tercatat hanya Rp545,95 miliar. Pada tahun 2007 itu, Modern mengganti namanya menjadi PT Modern International Tbk, menghapus embel-embel photo pada nama perusahaannya.

Untuk mereposisi bisnis Fuji Film yang semakin lunglai, Modern melakukan pendekatan ke 7-Eleven Inc—perusahaan ritel waralaba asal Amerika. Setelah melalui proses panjang dan sempat ditolak oleh pihak 7-Eleven, pada 2008, kedua pihak akhirnya menandatangani perjanjian waralaba atau Master Franchise Agreement. Pada tahun itu, 7-Eleven sudah beroperasi di 15 negara dan memberi lisensi kepada 36.000 gerai di seluruh dunia.

Sejak penandatanganan perjanjian, Modern mendapat hak dan lisensi untuk mengembangkan dan mengoperasikan gerai 7-Eleven di Indonesia selama 20 tahun dengan masa perpanjangan 10 tahun. Operasional 7-Eleven di Indonesia tak langsung dikelola PT Modern International Tbk., melainkan melalui anak usahanya PT Modern Sevel Indonesia. Gerai-gerai Fuji Image Plaza disulap menjadi gerai 7-Eleven.

Kehadiran 7-Eleven (Sevel) di Indonesia berbeda dengan di negara-negara lain. Di Australia misalnya, Sevel hanya seperti minimarket tempat orang berbelanja lalu pulang. Begitu juga di Malaysia. Beberapa gerai di Malaysia ada yang menyediakan kursi, tetapi hanya dua atau empat kursi saja.

Di Indonesia, Sevel hadir dengan gaya berbeda. Ia menjadi tempat berkumpul anak-anak muda Jakarta karena di gerai-gerai Sevel ada kursi, meja, dan colokan listrik. Plus wifi gratis.

Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru yang dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat.

Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta mencapai 190. Di tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Tahun berikutnya, penjualan Sevel menurun, pun begitu dengan jumlah gerainya. Tahun 2015 itu, total penjualan bersih Sevel turun menjadi Rp886,84 miliar. Untuk pertama kalinya Sevel melakukan penutupan gerai. Tahun itu, ada 20 gerai yang ditutup. Sementara gerai baru hanya dibuka 18, angka terkecil penambahan gerai sejak 2011.


Berbagai persoalan menghantam Sevel, mulai dari dilarangnya penjualan minuman keras hingga diberlakukannya pajak restoran.

Menurut catatan dari Kepala Badan Pajak dan Retribusi daerah Kota Administrasi Jakarta Barat, Selkiyansyah, dari total 155 gerai Sevel di Jakarta, hanya 97 gerai yang sudah melakukan pembayaran pajak.

“Itu data per Desember, bahwa sejak Januari 2017 sampai kemarin ada yang bayar, itu bisa saja. Tapi saya belum pegang datanya,” kata Selkiyansyah saat ditemui di kantornya, Maret lalu.

Selki tak bisa memberitahu nilai pajak yang harus dibayar Sevel. Tetapi dia menyebutkan, yang jelas, nilainya 10 persen dari omzet. "Jadi gini, kalau omzetnya itu per harinya ada Rp5 juta, ini contoh lho ya, berarti sebulan sekitar 150 juta. Jadi pajaknya seharusnya 15 juta," jelas Selki.

Sevel tak dikenai pajak peritel, tetapi pajak restoran. Itu karena ia berfungsi sebagai restoran, bukan toko kelontong tempat orang-orang membeli kebutuhan lalu pulang. Harga barang-barang di Sevel juga sedikit lebih mahal dari beberapa peritel. Tetapi Sevel menyediakan kursi dan meja, tempat pelanggannya bisa duduk berlama-lama.

Tunggakan pajak dan omzet yang terus menurun membuat Sevel terpaksa menutup beberapa gerainya sampai pada akhirnya, ia harus menutup semua gerainya.

Pada 22 Juni lalu, Direktur PT Modern Sevel Indonesia Chandra Wijaya mengumumkan penutupan seluruh gerai Sevel secara resmi. Mulai tanggal 30 Juni, tak satu pun gerai Sevel di Indonesia beroperasi.

“Hal ini disebabkan oleh keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh perseroan untuk menunjang kegiatan operasional gerai 7-Eleven,” ujar Chandra dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia. Penutupan tersebut menyusul gagalnya kesepakatan pembelian Sevel oleh PT Charoes Pokphand Restu Indonesia.


Anjloknya kinerja Sevel yang berujung pada penutupan ini memengaruhi kinerja keuangan induknya, MDRN. Akhir tahun lalu, total aset perusahaan tercatat Rp1,98 triliun. Dalam laporan keuangan triwulan I tahun ini, total aset MDRN berkurang menjadi Rp1,57 triliun.

Sampai akhir Maret tahun ini, MDRN meraup pendapatan senilai Rp138,6 miliar, turun 37 persen jika dibandingkan dengan pendapatan di periode yang sama tahun lalu. Penurunan pendapatan tersebut berdampak pada anjloknya laba. Pada triwulan I tahun ini saja, perseroan sudah merugi hingga Rp456,14 miliar. Akhir tahun lalu, kerugian tercatat mencapai Rp638,72 miliar dan membuat MDRN tak bisa membagi dividen kepada para pemegang saham.

Infografik Jatuh Bangun 7 Eleven


Kesuksesan Fujifilm di Jepang


Ketika Modern Group gagal mereposisi bisnis fotografi dengan bisnis ritelnya, di Jepang, Fujifilm berhasil membuka lini bisnis baru di bidang kosmetik dengan merek Astalift. Perusahaan kamera dan fotografi itu meluncurkan bisnis perawatan kulitnya pada 2006.

Awalnya, transformasi ke bisnis kosmetik itu diragukan banyak orang. Namun, pada tahun 2010, Fujifilm mencatat total penjualan tahunan lebih dari 10 miliar yen atau sekitar Rp1,1 triliun.

Kini, perawatan kulit sudah menjadi elemen utama dalam portofolio bisnis Fujifilm. Astalift menjadi merek perawatan wajah yang juga diperhitungkan, ia bersaing dengan SK-II. Ia juga sudah memperluas wilayah pemasaran ke Asia dan berusaha menjadi merek perawatan kulit global.

Bagi Fujifilm saat ini, segmen kosmetik menjadi yang paling menguntungkan. Setiap tahunnya, ia menyumbang pendapatan sekitar $3,4 miliar atau setara Rp45 triliun ke total pendapatan Fujifilm. Sayangnya, Modern tak seberuntung dan sejeli Fujifilm dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi dan regulasi. Bisnis film yang ditukar dengan Sevel ternyata berujung pada kegagalan.

Baca juga artikel terkait MINIMARKET atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti