Hikayat Ramadan

Kecemerlangan dan "Kesesatan" Ibnu Arabi yang Merenggut Jiwanya

Ilustrasi Ibnu Arabi. tirto.id/Sabit
Oleh: Fariz Alniezar - 16 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Karya-karya Ibnu Arabi yang kontroversial melahirkan dua kubu pemikiran. Sebagian menghujat, sebagian lagi membelanya.
tirto.id - Cara Ibnu Arabi memungkasi kitabnya yang bertajuk Futūhāt Makiyyah tergolong unik dan menarik. Di akhir kitab yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai salah satu kitab terpenting dalam disiplin ilmu tasawuf, Ibnu Arabi bermunajat:

“Ya Allah, telah kuikhlaskan kehormatan, harta, dan darahku atas hamba-hamba-Mu. Aku tak akan menuntut barang sebiji pun dari yang mereka punya. Tidak di dunia juga tidak di akhirat. Engkaulah sebenar-benarnya saksi dalam persoalan ini."

Munajat itu terdengar melankolis, mengharu-biru, dan bernada meratap. Namun, anggapan itu luntur karena satu alasan bahwa Ibnu Arabi sedang berada di puncak ekstasenya ketika mengarang kitab Futuhat Makiyyah.

Setelah mengalami pelbagai cercaan dan hujatan, Ibnu Arabi tidak membalas. Ia sebagaimana dicontohkan Nabi Saw, justru mendoakan dan memintakan ampun kepada siapa saja yang memusuhi dan menyerangnya.

Dalam An Ocean Without Shore: Ibn Arabi, The Book, and The Law (1993), Michel Chodkiewicz mengatakan tidak ada ulama dari dunia Islam yang lebih kontroversial daripada Ibnu Arabi. Karya dan pemikirannya memiliki daya tarik dan daya tolak yang sama-sama tumbuh subur, meskipun tidak berimbang.

Selain Futūhāt Makiyyah, karya Ibnu Arabi yang lain yang riuh diperbincangkan adalah Fushūsul Hikam. Dua kitab inilah yang menjadi pemantik kontroversialisme Ibnu Arabi abadi, bahkan sampai zaman modern.

Tercatat ada sekitar 125 karya yang merespons pemikirannya. Karya itu wujudnya macam-macam. Ada yang memberikan syarah (penjelasan), ada yang berupa pledoi atau pembelaan, dan tentu ada pula yang berisi hujatan.

Komposisi antara ulama yang menghujat dan ulama yang membela pemikiran Ibnu Arabi tidak seimbang. Karya yang ditulis untuk menghujat Ibnu Arabi tidak lebih dari lima belas buah. Sisanya, sekitar 100 karya lebih membelanya.

Beberapa karya yang terang-terangan menghujat pemikiran dan karya Ibnu Arabi di antaranya Al-Masa’il al-Iskandaraniyyah fi Radd ‘ala al-Ittihad wa al-Hululiyyah dan Al-Radd ‘ala Ibn ‘Arabi wa al-Shufiyah karya Ibnu Taymiyyah, dan Kitab fi Radd ‘ala Ibn ‘Arabi fi Fushushihi karya Mas’ud Taftazany.

Selain itu, ada juga Kitab Bayyana fihi Fasad ‘Aqidah Ibn ‘Arabi karya Ahmad bin Abi Bakr Al-Nasyiri, dan Ibrahim bin ‘Umar Al-Biqa’i dengan kitabnya yang bertajuk Kitab fi Radd ‘ala Ibn ‘Arabi fi Fushushihi. Serta yang paling modern adalah kitab yang ditulis pada abad ke-12 H bertajuk ‘Iddah Rasa’il fi al-Radd ‘ala Ibn ‘Arabi karya Muhammad bin Badruddin Al-Syafi’i.

Meski karya yang menghujatnya lebih sedikit daripada yang membela, tapi citra Ibnu Arabi kadung tidak bagus di mata publik. Propaganda tentang kesesatan dan kekafiran pemikirannya lebih berpengaruh dibandingkan kemonceran dan argumentasi tasawuf falsafinya.

Persoalannya kian runyam karena selain lewat pemikiran dan karya, Ibnu Arabi pun sudah kontroversial sejak dalam pikiran.

Pengakuannya bahwa kitab Fushūsul Hikam yang ia tulis merupakan ilham dari Tuhan yang didiktekan langsung oleh Malaikat Jibril kepadanya, membuat banyak kalangan memperbincangkannya. Gosip dan kabar burung bertebaran, juga fitnah dan hujatan yang menjadi konsekuensi dari pengakuannya.


Pelopor Tasawuf Falsafi

Di luar itu semua, kelak sejarah membuktikan bahwa Ibnu Arabi memang ulama jempolan. Ia tidak hanya berhasil menuliskan pemikirannya yang cemerlang, tapi juga menjadi koki handal yang mampu meracik disiplin ilmu tasawuf dengan filsafat, sekaligus menjadi disiplin baru yang oleh para pengkaji ilmu tasawuf disebut dengan dengan istilah tasawuf falsafi.

Banyak ulama, salah satunya Said Aqil Siroj yang mencoba memberikan pembabakan kategori tegas dalam disiplin ilmu tasawuf. Pertama, tasawuf amali. Yakni, sebuah kolaborasi ilmu tasawuf dengan disiplin keilmuan di luar filsafat. Tawasuf amali berupaya mendamaikan ajaran atau dogma ilmu kalam yang ortodoks dengan operasionalisasi fikih yang matang dan filosofis. Biangnya disiplin tasawuf amali adalah Abu Hamid Al-Ghazali dengan karyanya yang sangat monumental, yaitu Ihya Ulumiddin.

Selain itu, ada juga usaha yang mencoba mengkolaborasikan tasawuf dengan disiplin ilmu filsafat. Inilah yang disebut dengan tasawuf falsafi yang peletak dasar utamanya adalah Syaikh Ibnu Musarrah dari Cordoba, Spanyol. Tokoh sentral tasawuf ini tak lain adalah Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Arabi atau yang lebih populer dengan julukan Ibnu Arabi.

Di luar dua kategori tersebut, sebagian ulama berpendapat bahwa ada juga yang disebut dengan tasawuf irfani yang tokoh utamalnya Rabiah Adawiyah dan Abu Bakar As-Syibli.

Tasawuf falsafi adalah tasawuf rumit. Disiplin ilmu ini memadukan dimensi mistik Islam dengan ilmu filsafat. Dibutuhkan bukan hanya kecerdasan, tapi juga keteguhan sebab risiko yang ditanggungnya adalah kematian.

Riwayat para pelopor tasawuf falsafi kerap berujung di tiang gantungan. Itulah yang terjadi pada Syuhrawardi, Al-Hallaj, dan Ibnu Arabi.

==========

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang kisah hikmah yang diangkat dari dunia pesantren dan tradisi Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Hikayat Ramadan". Rubrik ini diampu selama sebulan penuh oleh Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM.

Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Fariz Alniezar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fariz Alniezar
Editor: Irfan Teguh
DarkLight