Kebakaran Kilang Pertamina Berulang: "Jangan Dianggap Angin Lalu"

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 16 November 2021
Dibaca Normal 3 menit
Kebakaran di area Kilang Minyak Pertamina terjadi 3 kali beruntun selama 2021. Mengapa insiden ini terus berulang dan apa langkah pemerintah?
tirto.id - Kebakaran kilang milik PT Pertamina (Persero) kembali terjadi pada Sabtu malam, 13 November 2021. Kali ini, yang terbakar adalah Tangki 36T-102 milik Pertamina yang berisi komponen Pertalite sebanyak 31.000 kiloliter di Kilang Refinery Unit (RU) IV di Lomanis, Cilacap Jawa Tengah.

Kasus kebakaran tangki tak hanya terjadi kali ini saja. Berdasarkan catatan Tirto, sedikitnya sudah tujuh kali Kawasan Kilang Pertamina terbakar sejak tahun 1995.

Insiden tiga kebakaran yang terjadi tahun ini, yaitu terbakarnya area pertangkian 39 Pertamina RU IV Kilang Cilacap pada 11 Juni 2021. Serta masih segar dalam ingatan saat empat tangki di Kilang Balongan, Indramayu Jawa Barat terbakar pada 29 Maret 2021. Dan yang terbaru, kebakaran di tangki Pertamina Cilacap, Jateng, Sabtu lalu.

Dari tiga kasus kebakaran kilang yang terjadi pada tahun ini, dua di antaranya terindikasi disebabkan sambaran petir. Insiden di Kilang Balongan dan yang terakhir terjadi di Kilang Cilacap. Peristiwa yang terakhir dikonfirmasi oleh Sekretaris Perusahaan PT Kilang Pertamina Internasional Ifki Sukarya. "Di mana intensitas petir cukup tinggi," kata dia, Minggu (14/11/2021).

Bagaimana Pengamanan Kilang Pertamina?

Pertamina mengklaim telah melakukan asesmen dan evaluasi atas proteksi dan pencegahan kebakaran dari faktor alam seperti petir. "Dari hasil tersebut, alat-alat penangkal petir sudah memenuhi standar acuan internasional, dan mempertimbangkan perkembangan kondisi alam," ujar Ifky.

"Dari hasil atas sistem proteksi petir saat ini dengan adanya fenomena cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Indonesia di mana kilang berada, hasil evaluasi kami dibantu pakar petir perlu dilakukan penambahan alat yang lebih sesuai dengan kondisi cuaca saat ini," jelasnya.

Salah satu alat yang ditambahkan yakni penangkal petir dgn jenis Early Streamer Emission (ESE). Selain itu, Light Protecting System (LPS) yang terkait desain juga jenis penangkal petir yang sesuai untuk dipasang di area-area kilang yang rawan tersambar petir.

Di Kilang Pertamina Internasional, setiap Refinery Unit terdapat fungsi yang menangani keandalan kilang selama ini jadi tidak ada organisasi baru atau tim yang dibentuk.


Dampak Kebakaran Kilang Pertamina


Terkait dengan ketersediaan stok BBM dan LPG akibat insiden tersebut, CEO Subholding Commercial and Trading Alfian Nasution menegaskan bahwa stok baik nasional maupun lokal terjaga dengan baik. Untuk stok BBM jenis Premium saat ini berada di posisi 27 hari, Pertamax 15 hari, Pertalite di atas 10 hari, Solar 20 hari, Avtur 35 hari serta Pertamax Turbo 50 hari dan LPG 12,7 hari.

"Dengan demikian kami sampaikan masyarakat tidak perlu khawatir, pendistribusian BBM dan LPG berlangsung seperti biasanya baik di daerah Jawa Tengah maupun sebagian Jawa Barat yang merupakan cover area dari kilang Cilacap," kata Alfian.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menjamin pasokan BBM dan LPG aman dan tidak terganggu akibat insiden tersebut. Dia berharap tidak ada ada kepanikan di masyarakat terkait insiden itu.

"Jadi mohon tidak ada panic buying karena stok sangat aman. Malah beberapa produk ini di atas standar minimum, jadi ini sudah melebihi standar stoknya," kata Nicke.

Meski demikian, Nicke menegaskan akan melakukan evaluasi dan investigasi yang menyeluruh terkait insiden di Kilang Cilacap tersebut.

"Evaluasi dan investigasi ini sangat penting dan kita ambil lesson learned-nya," kata Nicke.

Nicke juga mengatakan, penanganan masyarakat menjadi prioritas utama dalam insiden ini. Dia mengatakan, masyarakat di sekitar lokasi kilang sempat dialihkan ke lokasi yang lebih aman, namun kini semua masyarakat telah kembali ke rumah masing-masing.



Diduga Ada Unsur Kesengajaan: Pertamina Harus Diaudit


Kebakaran di area kilang minyak Pertamina yang terus berulang menimbulkan beberapa reaksi dari masyarakat. Salah satunya soal dugaan unsur kesengajaan dalam peristiwa kebakaran yang beruntun itu.

"Kebakaran kilang dalam beberapa kali mengindikasikan bahwa Pertamina abai terhadap pengamanan kilang. Kebakaran itu tidak hanya meludeskan tangki penyimpanan minyak, tetapi juga mengancam keselamatan warga di sekitar yang harus mengungsi. Mestinya sistem pengamanan kilang Pertamina sudah sesuai dengan standar internasional. Namun, tetap saja terjadi kebakaran untuk kesekian kalinya," jelas Fahmy Radhi, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (15/11/2021).

Ia menjelaskan, kebakaran beruntun Kilang Cilacap semakin menguatkan indikasi bahwa ada unsur kesengajaan dari pihak tertentu untuk tujuan peningkatan volume impor pasca kebakaran yang menjadi lahan pemburuan rente.

"Sudah pasti kebakaran, yang akan memperbesar biaya impor BBM, akan memperburuk kinerja keuangan Pertamina pada 2021. Pertamina harus punya komitmen tinggi dan tidak abai dalam mengamankan seluruh aset penting, utamanya kilang dan tangki minyak," terang dia.

Untuk itu, Pertamina harus menerapkan sistem keamanan kilang minyak secara berlapis, sesuai dengan standar internasional. Sistem pengamanan tersebut harus diaudit secara berkala oleh Kementerian ESDM dan lembaga independen.

Senada, anggota DPR juga menaruh curiga mengenai kebakaran yang terus berulang, bahkan dengan pemicu yang sama yakni petir. Apakah Pertamina tak punya teknologi yang bisa memitigasi risiko sambaran petir pada kilang yang bisa memicu kebakaran?

Apalagi kecelakaan serupa pernah terjadi. Berangkat dari fakta tersebut, anggota DPR Komisi VI Mufti Anam mendorong agar dilakukan investigasi menyeluruh terhadap Pertamina.

Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi BUMN, Mufti Anam, mengatakan, Pertamina harus melakukan evaluasi total atas kinerjanya dalam melakukan mitigasi terhadap risiko operasional yang bisa merugikan perusahaan, lingkungan, dan masyarakat.

“Perlu dicatat ini bukan pertama kalinya terjadi insiden di lingkungan kerja Pertamina. Sudah berulang kali terjadi. Harus diusut tuntas agar tidak terjadi di kemudian hari,” jelas dia dalam keterangan resmi, Senin (15/11/2021).

Mufti menegaskan, kasus-kasus kelalaian semacam itu menunjukkan bahwa Pertamina abai terhadap manajemen risiko.

”Abai pada langkah pemeliharaan aset vital, abai memastikan SDM prima sehingga tidak ada potensi human error, dan abai pada standar operasi secara aman,” jelasnya.

Mufti mendesak manajemen Pertamina bertanggung jawab penuh. Audit total dengan melibatkan kementerian terkait dan lembaga independen wajib dilakukan.

”Manajemen Pertamina jangan menganggap ini sebagai angin lalu. Merasa tidak memiliki lingkungan sekitar, merasa bukan asetnya, toh kalau ada kebakaran atau kebocoran, biaya perbaikan ditanggung perusahaan, juga mungkin asuransi. Jangan seperti itu,” imbuh politisi PDIP itu.

Ia menambahkan, berbagai insiden di lingkungan kerja juga sangat menurunkan kepercayaan investor dan pasar kepada BUMN migas tersebut. Terbukti, PT Pertamina tidak lagi memenuhi syarat dari daftar JP Morgan ESG EMBI Emerging Market Bond Index (JESG EMBI).

JPMorgan ESG EMBI disusun oleh JP Morgan, sebuah perusahaan jasa keuangan dan bank investasi multinasional, untuk memantau investasi yang bertanggung jawab dengan merujuk pada prinsip-prinsip ESG, yaitu pengelolaan environmental, sosial, dan good governance.

“Publik dan pasar bisa melihat Pertamina tidak serius pada prinsip ESG, prinsip investasi berkelanjutan. Katanya mau IPO, tapi kok mitigasi risiko operasionalnya tidak cukup baik? Kalau begini caranya, ya nanti IPO dan bond Pertamina bisa kurang diminati pasar,” terang dia.

Mengenai langkah ke depan yang akan dilakukan pemerintah untuk mengevaluasi kinerja PT Pertamina belum ada kejelasan. Hingga berita ini diterbitkan, Tirto berupaya menghubungi Juru Bicara Menteri BUMN Arya Sinulingga, tetapi belum juga mendapatkan respons.


Baca juga artikel terkait KEBAKARAN KILANG PERTAMINA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Maya Saputri
DarkLight