Menuju konten utama

Kasus Usus Buntu pada Anak Kecil Lebih Sulit Didiagnosis

Usus buntu atau appendicitis akut merupakan salah satu penyebab operasi pencernaan darurat yang paling sering ditemui.

Kasus Usus Buntu pada Anak Kecil Lebih Sulit Didiagnosis
Seminar mengenali usus buntu pada anak yang di selenggarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia, Selasa (01/09/26). foto/Putri
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi, Dr. Himawan Aulia Rahman, mengatakan diagnosis usus buntu pada anak kecil lebih sulit dilakukan karena anak belum tentu dapat menjelaskan lokasi dan karakteristik sakit yang dirasakan.

Himawan menjelaskan usus buntu atau appendicitis akut merupakan salah satu penyebab tersering operasi pencernaan darurat. Pada anak, appendicitis akut paling sering terjadi pada usia dekade kedua atau remaja. Sementara itu, kurang dari 5 persen kasus appendicitis terjadi pada balita.

“Appendicitis akut ini paling sering kalau pada anak terjadi di usia dekade kedua. Jadi usia remaja, belasan tahun, itu justru lebih sering dibandingkan usia anak-anak,” kata Himawan dalam seminar media IDAI, Selasa (1/9/2026).

Menurut Himawan, usus buntu pada anak usia lebih kecil lebih sering datang dengan komplikasi. Salah satu komplikasi terberat adalah perforasi atau usus buntu bocor. Kondisi tersebut membuat isi usus buntu dapat keluar ke rongga perut dan menyebabkan infeksi perut secara umum.

“Pada anak-anak yang usia lebih kecil, lebih muda, di bawah 5 tahun, kejadian komplikasi ini lebih sering dibandingkan anak-anak yang usianya lebih tua,” ujarnya.

Himawan mengatakan kesulitan diagnosis juga terjadi karena gejala usus buntu dapat tumpang tindih dengan penyakit lain. Beberapa kondisi yang disebutnya antara lain diare akibat infeksi pencernaan atau gastroenteritis, konstipasi, infeksi saluran kemih, mesenteric adenitis, dan intussusception.

“Kalau anak kecil—apalagi anak yang belum bisa bicara, maka sering kali dia tidak bisa menyebutkan sakit perutnya di daerah mana. Dia tidak bisa bilang sakitnya itu karakteristiknya seperti apa,” kata Himawan.

Himawan menjelaskan gejala klasik usus buntu biasanya diawali dengan berkurangnya nafsu makan, kemudian sakit perut di bagian tengah, sekitar pusar atau ulu hati. Setelah itu pasien biasanya mengalami muntah dan sakit berpindah ke bagian kanan bawah.

“Sakit perut di bagian tengah, di sekitar pusar ataupun di sekitar ulu hati. Makanya sering diduga sakit lambung dulu,” ujarnya.

Himawan mengatakan sakit perut merupakan keluhan yang umum pada anak. Dia meminta dokter maupun orang tua berhati-hati jika sakit perut memiliki karakteristik tertentu.

Tanda tersebut meliputi sakit perut yang bertambah berat, sakit terutama di bagian kanan bawah, sakit yang bertambah saat bergerak atau berjalan, muntah saat sakit perut, demam, serta sakit ketika perut ditekan ringan.

“Misalnya sakit perutnya intensitasnya bertambah berat. Ini harus hati-hati, ini adalah usus buntu. Sakit yang terutama di kanan bawah,” kata Himawan.

Himawan mengatakan dugaan usus buntu kemudian dapat dinilai secara objektif oleh dokter menggunakan Pediatric Appendicitis Score. Penilaian tersebut digunakan untuk mengelompokkan pasien berdasarkan risiko, mulai dari risiko rendah, meragukan, hingga risiko tinggi.

Jika risiko tinggi, dokter anak perlu segera berkonsultasi dengan dokter bedah untuk menentukan rencana penanganan, termasuk kemungkinan operasi. Sementara pada kondisi yang masih meragukan, pemeriksaan radiologi dapat digunakan untuk membantu memastikan diagnosis.

“Kalau sakit perutnya semakin berat, ada sakit perut yang anaknya sendiri menunjuk terutama di kanan bawah, sakit perut yang bertambah ketika jalan, atau muntah setelah sakit perut muncul, bawalah ke dokter. Jangan ditunda-tunda,” kata Himawan.

Baca juga artikel terkait PENYEBAB USUS BUNTU atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi