tirto.id - Kapan Jumat terakhir Ramadhan 2026? Apakah 13 Maret, ataukah masih ada Jumat berikutnya pada 20 Maret? Bagi kalangan Muhammadiyah, Jumat (13/3) adalah Jumat terakhir bulan puasa tahun ini. Lantas bagaimana untuk kalangan NU dan yang mengikuti kalender Kemenag RI?
Sebagian umat Islam Indonesia, yaitu yang mengikuti panduan Kemenag RI dan kalangan NU, mengawali bulan Ramadhan 1447 H pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal ini sesuai dengan keputusan sidang isbat penetapan awal puasa yang dilaksanakan pada Selasa, 17 Februari 2026 lalu. Berdasarkan rukyatul hilal, pada Selasa (17/2) bulan belum tampak sehingga bulan Syaban dibulatkan jadi 30 hari.
Di sisi lain, kalangan Muhammadiyah lebih dulu memulai 1 Ramadhan 1447 H, yaitu pada Rabu (18/2). Ini terjadi karena Muhammadiyah dalam menetapkan awal bulan hijriah berpatokan pada hisab, dan tahun ini menggunakan KHGT. Hal tersebut tertuang dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Perbedaan penetapan awal Ramadhan 2026 antara Muhammadiyah, Pemerintah, dan Nahdlatul Ulama (NU) menimbulkan pertanyaan. Lantas, apakah Jumat terakhir Ramadhan 2026 versi Muhammadiyah, NU, dan pemerintah sama?
Kapan Jumat Terakhir Ramadhan 2026, Apakah 13 atau 20 Maret?
Terdapat beberapa amalan yang dapat dilakukan sepanjang Jumat terakhir bulan Ramadhan. Setiap muslim dan muslimah dapat menunaikan amalan-amalan tersebut agar meningkatkan nilai pahala selama berpuasa Ramadhan.
Salah satu amalan wajib yang dilakukan setiap Jumat, termasuk Jumat terakhir Ramadhan adalah shalat jumat bagi muslim laki-laki. Amalan wajib lainnya, yakni shalat fardu 5 waktu yang tidak boleh dilewatkan. Adapun amalan-amalan sunah yang bisa dilakukan, yakni membaca selawat, tadarus Al-Qur'an, iktikaf, salat malam, bersedekah, dan berdoa.
Mengenai kapan Jumat terakhir Ramadhan 2026, kemungkinan terdapat perbedaan antara Muhammadiyah dan Pemerintah. Pasalnya, dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, ditetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat Legi, 20 Maret 2026.
Dalam maklumat tersebut, dijelaskan bahwa ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis Kliwon, 30 Ramadhan 1447 H atau 19 Maret 2026 pukul 01.23.28 UTC.
Ketika Matahari terbenam pada hari terjadinya ijtimak, sebelum pukul 24.00 UTC, ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1. Tinggi Bulan lebih dari 5 derajat dan elongasi Bulan lebih dari sama dengan 8 derajat.
Hal itulah yang menjadi dasar penetapan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Artinya, Jumat terakhir Ramadhan 2026 versi Muhammadiyah adalah sepekan sebelumnya, yakni Jumat, 13 Maret 2026.
Sementara itu, Pemerintah baru menggelar Sidang Isbat pada 19 Maret 2026 untuk menentukan 1 Syawal 1447 H. Dengan demikian, Jumat terakhir Ramadhan versi Pemerintah belum diketahui, apakah pada 13 Maret atau 20 Maret 2026.
Pasalnya, terdapat dua kemungkinan mengenai penetapan 1 Syawal 1447 H versi Pemerintah. Jika hilal sudah terlihat pada 19 Maret 2026/29 Ramadhan 1447 H, artinya Idul Fitri akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, sama seperti Muhammadiyah.
Kemudian, jika hilal tidak terlihat pada 19 Maret 2026, bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Dengan begitu, Pemerintah akan menetapkan 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri 2026 bertepatan dengan Sabtu, 21 Maret 2026.
Apabila Idul Fitri 2026 versi Pemerintah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, Jumat terakhir Ramadhan 2026 terjadi pada Jumat, 20 Maret 2026. Namun, jika Idul Fitri 2026 bertepatan dengan Jumat, 20 Maret 2026, artinya Jumat terakhir Ramadhan 2026 jatuh pada 13 Maret 2026, sama seperti Muhammadiyah.
Lebaran NU 2026 Apakah Jumat 20 Maret atau Sabtu 21 Maret?
Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) belum mengumumkan data hilal untuk penentuan 1 Syawal 1447 H atau Idul Fitri 2026. Masyarakat muslim NU perlu menunggu ikhbar untuk mengetahui kapan Lebaran 2026 versi NU; apakah pada Jumat, 20 Maret, atau Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam tradisi penentuan awal bulan Hijriah di lingkungan Nahdlatul Ulama, metode yang dijadikan patokan utama adalah rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung terhadap kemunculan bulan sabit pertama (hilal) setelah matahari terbenam pada akhir bulan Ramadan. Hasil rukyat ini kemudian menjadi dasar penetapan masuknya 1 Syawal. Hisab tetap dilakukan, tetapi sebagai parameter awal, bukan kunci penentu keputusan.
Apabila hilal berhasil terlihat oleh perukyat yang telah disumpah dan kesaksiannya diterima, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru atau 1 Syawal. Namun jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idul Fitri jatuh pada hari berikutnya.
Proses rukyatul hilal biasanya dilakukan di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia yang dikoordinasikan oleh LF PBNU. Hasil pengamatan tersebut kemudian diumumkan secara resmi melalui ikhbar oleh pengurus Nahdlatul Ulama kepada warga nahdliyin dan masyarakat luas.
Jika pada 29 Ramadhan 1447 H (19 Maret 2026) hilal sudah terlihat, Idul Fitri akan jatuh sehari setelahnya, yakni pada 20 Maret 2026. Namun, jika hilal belum terlihat, bulan Ramadhan 1447 H akan digenapkan 30 hari (istikmal) sehingga 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026.
Pembaca dapat mengakses artikel lain terkait Ramadhan 2026 melalui tautan ini.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Fitra Firdaus
Masuk tirto.id

































