Kampus Merdeka Nadiem Makarim Dikritik saat Aksi Gejayan Memanggil

Oleh: Zakki Amali - 9 Maret 2020
Kebijakan Kampus Merdeka yang diinisiasi Mendikbud Nadiem Makarim dikritik dalam aksi Gejayan Memanggil hari ini.
tirto.id -
Seorang orator dari Gerakan Nasional Pendidikan (GNP) mengkritik kebijakan Kampus Merdeka yang diinisiasi Mendikbud Nadiem Makarim.

Terutama, salah satu program Kampus Merdeka yang mengubah waktu kuliah mahasiswa di kampus menjadi lima bulan.

"Secara substansi [Kampus Merdeka] menjadikan mahasiswa dan pelajar sebagai komoditas yang siap dieksploitasi oleh pemerintah Jokowi," kata seorang orator di aksi Gejayan Memanggil yang digelar Aliansi Rakyat Bersatu, di Jalan Afandi, Sleman, DIY, Senin (9/3/2020).

Menurutnya, Kampus Merdeka yang memberikan peluang magang setelah 5 semester kuliah hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri sendiri.

"Kampus Merdeka tidak sesuai dengan jati diri pendidikan untuk mencerdaskan dan memanusiakan manusia. Jangan mau dieksploitasi," katanya.

Ia berharap agar mahasiswa pendemo yang ikut aksi Gejayan Memanggil kelak jadi sarjana yang berpihak kepada kepentingan rakyat. "Banyak sarjana yang masuk ke gelanggang politik tapi hanya jadi kacung," katanya.

Aksi Gejayan Memanggil berlangsung sejak 12.00 WIB. Dari pantauan hingga pukul 13.50 WIB, pendemo telah memenuhi ruas persimpangan Jalan Afandi-Jalan Colombo. Massa dari aliansi mahasiswa lainnya dikabarkan akan bertambah ke lokasi.

Massa berasal dari puluhan aliansi mahasiswa, kelompok masyarakat, dan komunitas. Diperkirakan jumlahnya telah mencapai ribuan.

Mereka juga membawa sejumlah poster. Di antaranya bertulis 'Ada Yang Tegak Tapi Bukan Keadilan', 'Gagalkan Omnibus Law', hingga 'Negara Kesatuan Republik Investasi'.


Baca juga artikel terkait GEJAYAN MEMANGGIL atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Zakki Amali
Penulis: Zakki Amali
Editor: Hendra Friana
DarkLight