Kaitan Kinerja Jantung dan Perasaan Positif

Kontributor: Wahyu Hidayat, tirto.id - 14 Sep 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Jika kita ingin mendapatkan manfaat dari berpikir positif, maka kita juga harus merasakan emosi positif.
tirto.id - Berpikir positif sering menjadi seruan wajib untuk seseorang yang mengalami keterpurukan jiwa akibat merasa takut, cemas, khawatir, sedih, kurang percaya diri, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Seruan itu kadang terdengar membosankan atau bahkan menyebalkan. Karena, dalam emosi kekecewaan atau kesedihan, disarankan untuk tetap berpikir positif menjadi sekedar ilusi, bahkan bualan semata.

Memang, berpikir positif akan berdampak positif. Sudah banyak penelitian membuktikan hal itu. Sebuah studi meta-analisis terhadap 300 studi selama lebih dari 30 tahun menemukan bahwa berpikir positif dapat meningkatkan sistem imun tubuh. Sedangkan riset yang dilakukan para peneliti di Kings College, London, menyimpulkan bahwa berpikir positif (dengan visualisasi dan self-talk) dapat mengurangi kecemasan.

Fakta lainnya, tim peneliti di John Hopkins yang dipimpin Lisa R. Yanek, MPH menemukan, orang dengan riwayat keluarga penyakit jantung yang memelihara pikiran positif memiliki sepertiga lebih kecil kemungkinan untuk mengalami serangan jantung atau kejadian kardiovaskular lainnya dalam lima hingga 25 tahun ketimbang orang yang berpandangan negatif.

Setengah Isi atau Setengah Kosong?

Pertanyaan di atas biasanya diajukan untuk mendeteksi apakah pikiran kita positif atau negatif. Kita diperlihatkan dengan sebuah gelas yang berisi air setengah dan diminta untuk menjawabnya. Jawaban “setengah kosong” menunjukkan pikiran yang negatif, dan vice versa, “setengah isi” menunjukkan pikiran positif.

Jadi dapat diartikan, berpikir positif adalah proses berpikir dalam menghadapi sebuah masalah dengan fokus pada hal positif. Diharapkan, energi yang keluar dari berpikir positif ini akan menghasilkan pemikiran dan sikap yang baik sehingga mudah mencari solusi atas masalah tersebut.

Tentu gelas berisi air setengah itu hanyalah sebuah analogi. Masalah sebenarnya akan jauh lebih berat untuk dijalani. Ketika kita sedang terpuruk gegara kena PHK, sementara kita adalah tulang punggung keluarga, tentu tidak bisa langsung menyikapi situasi tersebut sebagai “gelas setengah isi”.

Jika kita dipaksa untuk mencoba berpikir positif atas kejadian tersebut, maka yang terjadi adalah kita terpaksa menimpa (bukan mengalihkan) pikiran negatif kita dengan pikiran positif. Akibatnya justru berpotensi memunculkan konflik batin.


“Untuk beberapa saat, pikiran negatif mungkin teratasi, namun sebetulnya sama sekali tak lenyap. Kita hanya menyembunyikannya di dalam hati menjadi perasaan negatif. Di kepala, pikiran kita mencoba positif, tapi di dalam hati perasaan negatif itu bersembunyi untuk suatu saat muncul kembali,” kata Erbe Sentanu, pendiri Katahati Institute, penulis buku fenomenal Quantum Ikhlas.

Sebuah penelitian gabungan yang dilakukan oleh Cairnmillar Institute dan Deakin University di Australia, menemukan bahwa pikiran positif yang berlebihan cenderung menciptakan ilusi yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

“Ketika menemukan situasi buruk, kita harus memaksakan diri berpikir positif dengan berpura-pura seakan semuanya baik-baik saja. Maka, ketika upaya itu gagal, kita bisa ‘kena mental’,” kata salah satu peneliti, James Collard.

We Are What We Think

Kita adalah buah dari pikiran kita sendiri. Begitulah gambaran dari kekuatan pikiran. Baik buruknya pikiran kita akan memengaruhi perkataan, sikap, dan tindakan kita, yang pada ujungnya akan menciptakan karakter kita.

Temuan sains menyatakan, seluruh sikap dan tindakan kita dipengaruhi oleh 95% pikiran bawah sadar dan 5% pikiran sadar. Ini juga dibuktikan oleh sains yang menemukan keterhubungan korteks prefrontal—area otak yang berperan dalam proses kebiasaan dan pembentukan kepribadian—dengan bagian yang mengontrol aktivitas motorik kita.

Ahli biologi sel, Bruce Lipton, dalam bukunya Biology of Belief: Unleashing the Power of Consciousness, Matter, and Miracles, mendeskripsikan dalam memproses informasi, pikiran sadar memiliki kemampuan hanya 40 bit informasi per detik. Sangat-sangat jauh ketinggalan dengan pikiran bawah sadar yang mampu memproses 20 juta bit informasi setiap detiknya!

Selain berperan dalam menentukan identitas kita, pikiran bawah sadar juga bertanggung jawab dalam menciptakan realitas yang kita alami. Sudah banyak studi dan penelitian yang menunjukkan bahwa kesuksesan, kebahagiaan, kesehatan, juga sebaliknya, kegagalan, penderitaan, serta gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh dominannya pikiran bawah sadar.

Dengan peran yang begitu besar, maka sangat beralasan kalau kita diminta mengaksesnya untuk hal-hal yang positif. Sayangnya, ketika didorong untuk berpikir positif, kita hanya bermain di ranah pikiran sadar, yang perannya cuma 5% dengan kemampuan pemrosesan hanya 40 bit informasi per detik!


Selaraskan dengan Jantung

Kini, pertanyaannya adalah bagaimana cara ‘berpikir positif’ yang benar sehingga bisa membangkitkan potensi pikiran bawah sadar. Jawaban dari pertanyaan itu, ajaibnya, adalah dengan memanfaatkan kekuatan jantung.

Bidang ilmu baru neurokardiologi menyebutkan bahwa otak dan jantung memiliki hubungan yang jauh lebih ‘akrab’ ketimbang organ-organ lainnya. Mereka selalu berinteraksi setiap saat dengan empat cara: neurologis (melalui transmisi impuls saraf), biokimia biokimia (melalui hormon dan neurotransmiter), biofisik (melalui gelombang tekanan), dan energik (melalui interaksi medan elektromagnetik).

Dr. Joe Dispenza, seorang ilmuwan yang memfokuskan studinya pada bidang neurosains dan fisika quantum, menyebutkan, setiap kita berpikir, otak akan merilis zat kimia yang sesuai dengan pikiran kita tersebut. Zat kimia ini ditangkap oleh jantung yang pada gilirannya akan menciptakan sebuah emosi atau perasaan. Emosi inilah yang bisa membuka pintu pikiran bawah sadar untuk kemudian bersemayam di dalamnya.

Mengingat salah satu fungsinya sebagai gudang penyimpan informasi, Gregg Braden menganalogikan pikiran bawah sadar dengan diska lepas komputer. Di sini tersimpan segala sesuatu yang pernah kita alami sepanjang hidup. Informasi tentang kejadian-kejadian, lengkap dengan emosi dan keyakinan kita—baik maupun buruk—yang menyertai kejadian tersebut. Rekaman pengalaman ini akan muncul dalam perjalanan hidup kita dengan cara yang tak terduga dan kadang tidak kita harapkan.

HeartMath Institute (HMI), sebuah organisasi penelitian dan pendidikan nirlaba yang meneliti peran organ jantung menemukan 40.000 sel otak di dalamnya. Ini artinya, jantung memiliki “otak” sendiri. Para peneliti MHI telah membuktikan bahwa dengan menyatukan pikiran dari otak (bermuatan elektrik) dengan perasaan atau emosi dari jantung (bermuatan magnetik), kita mampu mengubah energi biologis kita, dan pada akhirnya akan mengubah hidup kita.

Infografik Hati-hati Halu
Infografik Hati-hati Halu. tirto.id/Quita


Secara gampang, Erbe Sentanu menjelaskan, jika kita ingin mendapatkan manfaat dari berpikir positif, maka kita juga harus merasakan emosi positif. “Yang utama itu perasaan positif, bukan berpikir positif,” tandasnya.

Erbe menguraikan, konsep berpikir positif yang selama ini kita pahami adalah dengan memasukkan sugesti positif ke dalam otak (pikiran sadar) di kepala, sementara ‘otak’ (pikiran bawah sadar) di dalam jantung yang lebih powerful justru diabaikan. “Jadi ketika ingin kaya, jangan hanya berpikir ‘kaya’, tapi juga harus merasa ‘kaya’,” katanya.

Dengan contoh analogi komputer Gregg Braden, Erbe menyebut kondisi tersebut akan diterima oleh sistem sebagai software incompatibility issue alias terganggunya kinerja komputer yang disebabkan oleh software yang tidak cocok satu sama lain. Jika dipaksakan, maka komputer bisa mengalami crash atau hang.

“Biasanya, kalau kita berpikir ingin kaya, di dalam hati tetap merasa kekurangan atau miskin,” ucap Erbe. “Software ‘ingin kaya’ tidak selaras dengan software ‘merasa miskin’. Makin kuat sugesti ‘ingin kaya’, makin kuat pula kemiskinan yang kita rasakan. Dan karena jantung (bawah sadar) jauh lebih powerful dalam mengubah hidup kita, maka bisa ditebak justru makin miskinlah yang akan lebih cepat terwujud.”


Melatih Perasaan Positif

Dr. Joe Dispenza memberikan solusi agar kita mudah menggunakan positive feeling, yaitu dengan melatih diri merasakan emosi-emosi baik seperti rasa syukur, kasih sayang, terima kasih, bahagia, cinta, suka cita, dan sebagainya.

Temukan hal-hal di sekitar kita yang bisa membangkitkan perasaan-perasaan tersebut lalu simpan di dalam hati (jantung), dan lakukan sesering mungkin.

Maka, pada saat pikiran kita galau karena mengalami keterpurukan atau penderitaan, rasa-rasa baik tersebut akan lebih mudah muncul dan mengusir pikiran-pikiran negatif yang sedang berusaha mengekang pikiran kita.

Baca juga artikel terkait DETAK JANTUNG atau tulisan menarik lainnya Wahyu Hidayat
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Wahyu Hidayat
Penulis: Wahyu Hidayat
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight