Kader HMI Pukuli Jurnalis Persma Unindra yang Kritisi Omnibus Law

Oleh: Riyan Setiawan - 23 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Pemukulan anggota pers mahasiswa LPM Progress diduga terkait dengan tulisn opini yang mengkritik sikap HMI yang mendukung Omnibus Law.
tirto.id - Anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Progress Universitas Indraprasta (Unindra) PGRI Jakarta, Rizky Muazam dianiaya yang diduga dilakukan oleh kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Teknik Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FTMIPA) Unindra PGRI.

Hal itu karena Rizky menulis sebuah opini berjudul "Sesat Berpikir Kanda HMI Dalam Menyikapi Omnibus Law". Opini itu dimuat pada 21 Maret 2020 di situs web LPM Progres. Isinya merupakan kritik sikap HMI Komisariat FTMIPA Unindra PGRI yang mendukung Omnibus Law.

Padahal saat ini, menurutnya, mahasiswa dan buruh ramai-ramai menolak Omnibus Law yang dibuat oleh pemerintah itu.

Dugaan pemukulan tersebut berawal ketika Rizky bersama rekannya anggota LPM Progress coba mengklarifikasi terkait opininya itu ke pihak HMI Komisariat Unindra yang diwakili Kevin, Abdul, Ramandi alias Remon, dan Ridwan Gusung di warung Jempol sekitar pukul 19.05 WIB, Minggu (22/3/2020) malam.

"Kami diskusi dengan perwakilan dari HMI Komisariat Unindra. Lalu kondisinya memanas, mereka dan beberapa kawan lainnya tidak terima atas tulisan yang diterbitkan," kata Risky kepada Tirto, Senin (23/3/2020).

Selang beberapa menit kemudian, ketika dia menjelaskan lebih detail tentang isi tulisannya, sejumlah orang yang tidak diketahui asalnya mulai berdatang.

Salah satu anggota HMI Komisariat Unindra tiba-tiba mengancam dengan sebilah parang. Beberapa orang pun langsung mengerumuninya.

Ketika diskusi lebih memanas sekitar pukul 19.20 WIB, Rizky pun langsung dipukul dari belakang dan mengenai bagian telinganya. Dia kembali dipukul pada wajah. Akibatnya bibirnya sobek dan berdarah.

"Kawan-kawan saya berusaha melindungi saya dari pukulan dari orang yang tidak dikenal. Beberapa kawan saya pun diserang secara membabi buta," tuturnya.

Tak sempat mengambil barang-barang, Rizky dan rekannya langsung pergi untuk menyelamatkan diri. Namun mereka masih terus dikejar oleh anggota HMI Komisariat Unindra itu.

Padahal saat itu, warga berusaha melerai, tetapi sebagian dari anggota HMI Komisariat Unindra tetap mengejar.

"Salah satu anggota HMI mengejar dengan motor dan menyetop saya. Lalu mengancam untuk membunuh saya," jelas dia.

Berdasarkan foto yang diterima Tirto, mulut Rizky dipenuhi dengan darah. Darah itu mengucur ke dagu dan bercaknya hingga ke sweater kuning yang dikenakannya.

Usai kejadian itu, Rizky mengatakan telah melaporkan perbuatan sejumlah anggota HMI Komisariat Unindra itu ke Polres Jakarta Timur, Minggu malam. Kemudian ia juga melakukan visum di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur.



Respons HMI

Salah satu anggota HMI Komisariat FTMIPA Unindra, Remon mengatakan akan memberi klarifikasi terkait dugaan pemukulan ketika telah mengumpulkan anggotanya. Dia tak mau memberi klarifikasi seputar kejadian tersebut melalui telepon.

Berdasarkan informasi yang Tirto dari mahasiswa kampus setempat, Remon memiliki nama asli Ramadin Putra Ananda. Ia merupakan orang yang berhubungan langsung dengan Rizky yang merupakan korban pemukulan.

"Saya tidak bisa lewat seperti ini [telepon] bung, ente kalau emang wartawan, kita duduk bareng dulu. Ente itu kalau emang mau minta klarifikasi terkait dengan apa yang terjadi semalam, ente kalau mau, ketemu saya. Saya tidak mau konfirmasi lewat seperti ini," kata dia kepada Tirto, Senin (23/3/2020).

Padahal Tirto coba menjelaskan bahwa mewawancarai narasumber melalui telepon merupakan salah satu cara untuk mencari informasi tanpa harus bertemu langsung. Termasuk meminta klarifikasi.

"Gitu ya, wartawan sekarang sudah canggih ya, jadi wartawan bukan biasanya turun lapangan, tapi ini komunikasi lewat telepon," ucapnya.

Ketika diminta untuk memberikan klarifikasi, ia pun bersikeras tetap tidak berkenan. Malahan dia menilai wawancara melalui telepon merupakan cara yang tidak etis.

"Kurang etis saja, jadi siapa yang butuh, kalau memang ente butuh saya, ayo duduk, saya akan buat klarifikasi. Saya tidak bisa buat klarifikasi, saya tidak bisa buat seperti ini [wawancara lewat telepon] tidak menunjukan etis," tuturnya.

"Saya banyak kenal wartawan, tapi attitude-nya tidak seperti ini. Saya tunggu, sekarang kalau bisa, kalau ente minta klarifikasi terhadap saya, saya tunggu ente sekarang," jelas dia.

Tetapi saya sekali lagi coba jelaskan bahwa mewawancarai narasumber melalui telepon diperbolehkan untuk mendapatkan informasi. Namun ia tetap tidak mau memberikan klarifikasi.

"Baik pak wartawan mungkin itu saja," imbuhnya.




Baca juga artikel terkait PENOLAKAN OMNIBUS LAW atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Zakki Amali
DarkLight