Menuju konten utama

Kabut Asap Karhutla di RI Sampai Singapura, F1 Terancam Batal?

Kabut asap dari karhutla Sumatra dan Kalimantan mengancam kualitas udara Singapura. F1 Singapura 2026 pun menyiapkan rencana jika kondisi memburuk.

Kabut Asap Karhutla di RI Sampai Singapura, F1 Terancam Batal?
Personel Manggala Agni Daops Pekanbaru berusaha memadamkan kebakaran lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (18/8/2026). Satgas darat dan udara karhutla Riau terus berupaya memadamkan kebakaran lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau untuk mencegah kabut asap kembali melanda wilayah tersebut. ANTARA FOTO/Rony Muharrman/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Singapura menyebut jika negaranya mengalami peningkatan risiko menerima kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan. Meski telah membuat beberapa tindakan preventif, potensi kabut dari Indonesia itu dapat mengancam berlangsungnya F1 Singapura pada bulan Oktober mendatang.

Dalam sebuah unggahan di Instagram, Dewan Agama Islam Singapura mengumumkan jika khutbah sholat Jumat pada hari ini, 21 Agustus 2026 akan diperpendek. Hal ini dikarenakan cuaca di Singapura yang semakin panas dan munculnya kabut asap di beberapa bagian di negara tersebut.

“Singapura sedang mengalami cuaca yang semakin panas, sementara beberapa daerah juga mulai mengalami kabut asap. Mulai minggu ini [21 Agustus 2026], sesi khutbah Jumat akan dipersingkat untuk membantu menjaga kenyamanan jemaah selama kondisi cuaca yang menantang ini,” tulis pengumuman tersebut di akun @muis.sg.

Apakah F1 Singapura Batal Digelar karena Asap Karhutla Kalimantan?

Pemerintah Singapura telah mengaktifkan kesiapsiagaan risiko kabut asap melalui Haze Task Force (HTF), yang diketuai National Environment Agency (NEA) dan terdiri dari 28 lembaga pemerintah.

Gugus tugas ini memiliki rencana respons berjenjang yang dapat diaktifkan sesuai tingkat keparahan kabut asap, berdasarkan kombinasi data PSI 24 jam, konsentrasi PM2.5 per jam, serta prakiraan cuaca dan kualitas udara.

Dalam siaran pers yang diterbitkan 9 Agustus lalu, gugus tugas tersebut menjelaskan peningkatan risiko kabut asap terjadi setelah kondisi cuaca kering menyebabkan jumlah titik panas (hotspots) meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas dan kepulan asap terpantau di beberapa bagian Sumatra dan Kalimantan.

Layanan Meteorologi Singapura pada Senin (17/8) memperingatkan bahwa Singapura dapat mengalami kondisi berkabut apabila kebakaran di Sumatra dan Kalimantan semakin meluas atau intensif.

“Kondisi kering diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari mendatang. Dengan angin tenggara atau barat daya yang dominan, Singapura mungkin mengalami kondisi berkabut jika kebakaran semakin intensif,” bunyi pernyataan tersebut.

Ancaman kabut asap kali ini juga mendapat perhatian khusus karena Singapura memiliki pengalaman buruk pada September 2019, ketika kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia menyebabkan kualitas udara memburuk hingga mencapai tingkat tidak sehat.

Dikutip CNA (19/8/2026), saat itu, kabut asap bahkan menjadi salah satu kekhawatiran menjelang dan selama penyelenggaraan Singapore Grand Prix Formula 1. Sekitar 268.000 penonton tetap menghadiri balapan, namun penyelenggara menyiapkan petugas pertolongan pertama dan menyediakan masker N95 bagi penonton yang membutuhkannya.

Potensi kabut asap kembali muncul tahun ini menjelang F1 Singapura 2026, sehingga persiapan menghadapi kemungkinan penurunan kualitas udara dilakukan lebih awal.

Pihak Singapore GP menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya kabut asap telah dimasukkan ke dalam rencana kontingensi penyelenggaraan acara. Jika kabut asap sampai mengganggu jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau operasional acara, Singapore GP akan berkoordinasi dengan lembaga terkait sebelum mengambil keputusan bersama mengenai pelaksanaan kegiatan.

"Rencana tersebut telah dirumuskan dan disempurnakan bersama para pemangku kepentingan dan instansi pemerintah. Jika kabut asap menyebabkan masalah visibilitas, kesehatan masyarakat, atau operasional, Singapore GP akan bekerja sama erat dengan instansi terkait sebelum mengambil keputusan bersama mengenai kejadian tersebut," kata juru bicara Singapore GP.

Tak hanya mengancam balapan F1, penyelenggara Singapore Night Festival 2026, yang berlangsung mulai 21 Agustus hingga 5 September, juga memantau perkembangan kabut asap dan kualitas udara. Keputusan mengenai pelaksanaan kegiatan luar ruangan akan mengacu pada imbauan kesehatan NEA.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Reporter: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra