Jesse Washington dan Rasisme yang Menghantui Amerika Serikat

Oleh: Faisal Irfani - 28 Desember 2018
Dibaca Normal 4 menit
Pembunuhan Jesse Washington memperlihatkan bahwa AS pernah punya sejarah kelam tentang ketegangan rasial.
tirto.id - Waco, Texas, 15 Mei 1916. Jesse Washington, pemuda kulit hitam berusia 17 tahun yang punya keterbatasan mental, diputus bersalah atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan terhadap perempuan kulit putih bernama Lucy Fryer. Vonis diambil setelah 12 juri—semuanya kulit putih—bersepakat mengkambinghitamkan Jesse dalam perundingan yang berlangsung kurang dari lima menit.

Oleh anak-anaknya, Lucy ditemukan tanpa nyawa di lahan milik keluarganya, seminggu sebelum persidangan. Jesse, yang saat itu jadi buruh di keluarga Fryer, langsung dituduh sebagai pelaku. Waco pun, sebagaimana dicatat Kurt A. Terry dalam “Forgetting the Lynching of Jesse Washington: Manifestations of Memory and the ‘Waco Horror’” (2007, PDF), seketika geger.

Alasan Jesse dijadikan pesakitan cuma satu: ia kulit hitam. Publik dan aparat tak menggubris fakta bahwa Jesse punya keterbatasan mental. Mereka juga tak peduli ketika laporan Chicago Defender menyebut suami Lucy, George, terindikasi kuat sebagai tersangka. Di pikiran mereka sudah terpaku keyakinan: Jesse adalah pembunuh dan pemerkosa.

Beberapa jam usai Jesse ditangkap, aparat membawanya ke penjara di Hillsboro, sebelum dipindahkan ke Dallas demi alasan keamanan. Di sana, aparat memaksa Jesse mengakui pembunuhan itu. Aparat berjanji ketika Jesse mengakui “perbuatannya”, mereka akan mencegah Jesse dihukum mati.


Jesse, yang tak bisa membaca dan menulis, akhirnya terpaksa mengaku. Pengakuan Jesse, yang tertuang dalam bentuk surat pernyataan bertandatangan “X”, lantas dicetak oleh tiga surat kabar lokal.

Pada akhirnya, janji aparat menghindarkan Jesse dari vonis mati hanyalah kibul belaka. Pengadilan Wilayah McClennan tetap menghukum mati Jesse.

Namun, yang terjadi lebih dari itu.

Saat persidangan selesai, Jesse ditangkap segerombol orang yang telah berkumpul di luar gedung. Lehernya dirantai, tubuhnya diseret, dan ia diarak menuju alun-alun Robinson yang menjadi tempat kematiannya.

Sepanjang perjalanan, menurut Patricia Bernstein dalam bukunya yang berjudul The First Waco Horror: The Lynching of Jesse Washington and the Rise of the NAACP (2006), massa tak henti-hentinya mencaci Jesse.

“Hajar Negro itu!”

“Habisi dia!”

Dari yang semula verbal, serangan terhadap Jesse merembet pula sampai fisik. Ia dipukul dengan sekop dan batu bata, perutnya ditusuk dengan pisau, dan, yang paling mengerikan, Jesse dimutilasi serta dikebiri sebelum akhirnya ia digantung dan dibakar di hadapan 15 ribu pasang mata penduduk Waco.

Nyawa Jesse berakhir dengan tragis, sementara massa yang membunuhnya tertawa puas.

Kematian Jesse, yang dikenal sebagai insiden “Waco Horror,” merupakan salah satu potret gelap sejarah Abang Sam, momen kala sentimen rasial mampu menghilangkan nalar dan mendorong manusia melakukan tindakan barbar.

Selatan yang Rasis

Sebelas tahun sebelum Jesse tewas dibakar, seorang kulit hitam bernama Sank Majors lebih dulu mengalami hal serupa: ia digantung di Jembatan Washington, Waco, oleh massa yang tak percaya pada sistem hukum. Sank, kala itu, sedang berada di penjara untuk menunggu persidangan ulang atas tuduhan pemerkosaan yang dialamatkan kepadanya.

Apa yang dialami Jesse maupun Sank adalah fenomena umum di AS pada awal 1900-an tatkala orang-orang kulit hitam dihukum mati tanpa proses pengadilan yang memadai (lynching). Sejarawan dari Universitas Baylor, James SoRelle, dalam “’The Waco Horror’: The Lynching of Jesse Washington” (1983), menyebut bahwa hukuman mati yang diarahkan ke orang-orang kulit hitam semata didasarkan pada rasisme.

Tak sekadar menarget orang-orang kulit hitam, praktik lynching pun terkadang menyasar komunitas Yahudi sampai Latin.

Lynching telah digambarkan sebagai respons yang dapat dibenarkan terhadap serangan [seksual] terhadap perempuan,” kata SoRelle.

Praktik lynching marak dijumpai di kawasan selatan AS. Kota-kota di kawasan ini masih mempertahankan ketegangan rasial dalam intensitas yang cukup tinggi sehingga memungkinkan terjadinya kekerasan massa dan penggantungan dalam skala masif.

Data dari Equal Justice Initiative—LSM yang mendorong kesetaraan ras—di Texas, daerah tempat Jesse dibakar, praktik lynching terjadi sebanyak 376 kali, dari 1877 sampai 1950. Sedangkan di kota lain, kondisinya tak kalah memprihatinkan. Di Georgia, misalnya, ada sekitar 586 kasus lynching dalam rentang tahun yang sama. Kemudian di Mississippi, praktik lynching muncul sebanyak 576 kali.


Total, apabila diakumulasikan, dari 12 negara bagian yang diteliti oleh Equal Justice Initiative, praktik lynching terjadi 3.959 kali.

Stigma “kota rasis” yang hinggap di Waco merupakan sesuatu yang ironis mengingat dalam beberapa dekade terakhir, di masa itu, Waco sedang gencar-gencarnya mempromosikan kota yang moderat. Sekolah agama sampai gereja banyak dibangun. Publik mengenal Waco dengan sebutan “Athens of Texas.”

Di saat bersamaan, perekonomian kota juga menggeliat akibat ledakan kapas yang didukung keberadaan Jalur Chisholm. Kondisi ini membikin Waco menjadi kota yang metropolitan.

Tapi, apa yang nampak di permukaan nyatanya tak bisa menutupi bobrok Waco tatkala masyarakat di sana ramai-ramai menyerang kulit hitam dengan tindakan yang begitu brutal. Yang bikin miris lagi: semua ditempuh atas nama keadilan.

Melahirkan Perlawanan Sipil

Tragedi "Waco Horror” melahirkan dorongan untuk mengakhiri hukuman mati tanpa proses pengadilan di seluruh negeri. Masyarakat AS melihat praktik lynching sebagai tindakan biadab serta mengutuk orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya.

Salah satu pihak yang konsisten melawan praktik ini ialah NAACP (National Association for the Advancement of Colored People), organisasi sipil yang berfokus pada isu rasial. NAACP berdiri di garda terdepan menuntut keberadaan lynching dimusnahkan.

Organisasi yang didirikan pada 1908 ini mulanya hadir untuk memerangi segala macam segregasi. Akan tetapi, usai mendengar berita Jesse yang tewas secara tragis, mereka sepakat untuk turut mengadvokasi. Targetnya: mencegah agar tak ada yang bernasib sama seperti Jesse.

Sekretaris NAACP, Roy Nash, sebagaimana ditulis Andrew Belonsky dalam “How the NAACP Fought Lynching – By Using the Racists’ Own Pictures Against Them” yang dipublikasikan di The Guardian (2018), lantas mengirim Elisabeth Freeman, aktivis asal Inggris, guna menyelidiki apa yang sebetulnya terjadi di Waco.

Pada masa itu, Freeman dikenal sebagai aktivis yang lantang menolak diskriminasi berdasarkan ras. Freeman tak serta merta menerima tawaran Nash karena tidak yakin bisa menunaikan tugasnya dengan baik. Pasalnya, Freeman tak paham seluk beluk kasus di Waco dan ia juga tak pernah mengadvokasi penghapusan lynching.

“Aku sangat ‘hijau’ dalam pekerjaan ini dan hampir enggak mengerti apa yang ingin kamu ketahui [di sana],” Freeman bilang dalam surat balasannya kepada Nash.

Akhirnya, Freeman bersedia mengambil pekerjaan ini setelah Nash memohonnya dengan sangat. Alasan lainnya, Freeman percaya bahwa kesetaraan ras bukanlah mimpi di siang bolong.


Freeman pun segera bergerak. Sejak hari pertama di Waco—dari delapan hari yang ada—Freeman mulai mewawancarai mereka yang jadi saksi mata tragedi Jesse. Upaya Freeman tak mudah. Banyak dari mereka yang menolak untuk jadi narasumber karena tak ingin citranya jadi buruk.

Kendati demikian, Freeman tak menyerah. Ia terus mengeluarkan sepik-sepiknya guna menggali keterangan masyarakat dan pejabat di Waco. Jurus andalannya yakni memulai perbincangan dengan pembuka: “Aku berada di Texas selama empat bulan ke depan dan ingin membuktikkan bahwa masyarakat di sini tak seburuk yang digambarkan orang-orang Utara.”

Mendengar sepik Freeman, penduduk Waco pun tersanjung. Mereka lalu membuka semua informasi yang dibutuhkan Freeman, termasuk jepretan foto dari Fred Gildersleeve yang menggambarkan kekejaman 15 Mei 1916. Foto tersebut, bagi Freeman, adalah jackpot.

Hasil investigasi Freeman lantas dimuat di buletin Crisis dengan tajuk “The Waco Horror.” Dalam laporan tersebut, pihak redaksi lebih banyak bermain gambar. Foto-foto Gildersleeve disajikan secara kronologis.

Dampak publikasi Crisis begitu signifikan. Hukuman mati tanpa proses pengadilan memang bukan hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat AS kala itu. Mereka sudah banyak mendengarnya. Namun, masalahnya, hanya sedikit yang pernah melihatnya. Dengan adanya laporan Crisis, publik seperti memperoleh jawaban bahwa kekejaman rasisme itu ada.

Upaya Freeman dan NAACP belum selesai. Di saat laporan Crisis disebarkan ke sekitar 30 ribu pembaca, pihak organisasi juga memulai rangkaian advokasi ke kota-kota lain seperti Detroit, Buffalo, dan Des Moines. Dampaknya, gerakan menolak hukuman mati tanpa proses pengadilan semakin gencar dilakukan. Freeman dan NAACP seakan memberi energi baru dalam gerakan-gerakan sipil yang menuntut dihapuskannya kejahatan rasial.

“Kamu enggak akan puas dengan nasib kamu sementara di saat bersamaan, saudara-saudara kamu kehilangan hak-haknya,” ujar Freeman.

Infografik Jesse Washington
Infografik Jesse Washington


Secara keseluruhan, praktik lynching memang mengalami penurunan sejak inisiatif NAACP muncul ke permukaan. Walaupun begitu, aksi-aksi diskriminasi yang ditujukan kepada kulit hitam belumlah sirna.

Pada 1998, misalnya, seorang kulit hitam bernama James Byrd dirantai ke mobil dan diseret hingga meninggal dunia di jalanan Jasper, Texas. Insiden serupa juga muncul pada 2017 saat Timothy Caughman, penganut supremasi kulit putih, menikam orang kulit hitam di New York. “Aku benci kulit hitam sejak aku masih kecil,” jelas Timothy mengenai motif kejahatan yang ia lakukan.

Sementara di Waco, sehubungan dengan tragedi Jesse, pandangan publik masih terbelah ke dalam dua kubu: mereka yang menolak minta maaf dan mereka yang menuntut pemerintah mengakui dosa tersebut.

Kasus pembunuhan Jesse, sekali lagi, memperlihatkan wajah kelam Amerika Serikat. Kasusnya boleh berlalu, namun diskriminasi yang ditujukan kepada orang-orang kulit hitam terus menghantui.

Sampai sekarang.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Nuran Wibisono