Kanye West dan Amnesia Sejarah Perbudakan Kulit Hitam

Oleh: Tony Firman - 8 Mei 2018
Dibaca Normal 4 menit
Kanye West melontarkan penyataan yang layak dikecam. Menurut West, perbudakan kulit hitam di AS selama ratusan tahun adalah pilihan.
tirto.id - Perjalanan karier penyanyi rap Paman Sam Kanye West tak pernah sepi dari pernyataan kontroversial. Mulutnya yang spontan dan meledak-ledak jadi salah satu ciri khasnya yang menonjol.

Teranyar, dalam sesi wawancara langsung dengan TMZ, sebuah portal berita selebriti pada Selasa (30/4) lalu, komentar West kembali memancing polemik.

Dia bilang begini, "Kau dengar tentang perbudakan (terjadi) selama 400 tahun. 400 tahun? Itu terdengar seperti sebuah pilihan" seloroh West. Pemandu acara pun langsung membisu.

Obrolan West di TMZ mulanya berjalan normal. Ia berceloteh tentang banyak hal, mulai dari kesehatan mental, keluarga hingga kesenian. Lalu sampailah West pada topik panas: perbudakan orang kulit hitam di Amerika Serikat. Ia mengatakan: "Ketika Anda mendengar bahwa perbudakan berlangsung selama 400 tahun, 400 tahun? Ini seperti pilihan."

Perbudakan adalah sesuatu yang sensitif di AS, terutama bagi kalangan kulit hitam. Kenyataan bahwa Kanye West adalah orang kulit hitam makin membuat publik heran kenapa pernyataan seperti itu bisa keluar dari mulutnya.

Will.I.Am sesama musisi dan pentolan Black Eyed Peas angkat bicara menanggapi ocehan Kanye West.

"Anda tidak bisa memilih untuk diperbudak atau tidak. Ketika Anda jadi budak, Anda tak bisa mengakses pendidikan. Itu bukan pilihan, itu paksaan," kata Will.I.Am ketika menjadi bintang tamu di Good Morning Britain, Rabu (2/5).

"Saya mengerti kebutuhan atas kebebasan berpendapat, namun bila pandangan Anda tidak berdasar, itu hanya akan membuat pihak lain sakit hati terutama yang masih dalam kondisi tersebut," ujar Will.I.Am dilansir dari BBC.

Kanye West pun dirundung warganet sedunia. Salah satu anggota parlemen Nigeria, Shehu Sani bahkan menawari West tur gratis ke kamp-kamp bekas perbudakan yang ada di Afrika. Dilansir dari CNN, sebuah stasiun radio di Detroit, AS turut menarik lagu-lagu Kanye West sejak Kamis (3/4) kemarin menyusul ucapan West yang kontroversial. Tidak lupa tagar #IfSlaveryWereAChoice bertebaran di Twitter menunjukkan aksi protes.

Melalui akun Twitternya, Kanye West berusaha menjelaskan maksud pernyataannya itu. "Agar lebih jelas, tentu saja saya tahu para budak tidak dibelenggu dan dimasukkan ke kapal karena keinginan mereka sendiri. Maksud saya adalah, ketika kita terus diperbudak sementara jumlah kita sebenarnya banyak, maka artinya mental kitalah yang diperbudak."

Topik Sensitif


Artis yang dikecam karena membuat pernyataan tentang perbudakan bukan cuma West. Pada September 2014, aktor Ben Affleck berusaha mengintervensi dapur redaksi program acara Finding Your Roots yang disiarkan di stasiun TV Public Broadcasting Service (PBS). Bintang film Justice League, Batman vs Superman, dan Daredevil ini tak ingin fakta bahwa nenek moyangnya pernah punya budak kulit hitam terekspos di muka umum. Dilansir dari The Guardian, kakek buyut Affleck mendapat warisan budak kulit hitam dari leluhur, Benjamin L. Cole yang tutup usia pada 1858.


Harga budak-budak peninggalan Cole cukup cukup mahal kala itu. Seorang budak kulit hitam bernama Cuffey dihargai 500 dolar, Henry dan James masing-masing 1.000 dolar, Robert dan Becky senilai 600 dolar. Catatan rinci harga budak-budak tersebut masih tersimpan rapi dalam arsip pengadilan Chatham County. Sesuai arsip Sensus Amerika Serikat 1850, leluhur Afflect total punya 25 budak.

"Saya tak ingin acara televisi tentang keluarga saya mengungkit-ungkit seorang pemilik budak," kata Affleck di sebuah postingan Facebook pada 21 April 2015. "Saya malu. Pikiran [bahwa moyang saya memiliki budak] meninggalkan kesan yang tidak mengenakkan buatku.”

Perbudakan yang Nyata


Menurut UNESCO, perbudakan dapat dikenali dari cara-caranya mengendalikan kehidupan orang lain sebagai hak milik melalui paksaan dan pembatasan gerak. Seseorang yang diperbudak tidak bebas dan dilarang meninggalkan majikannya.

Perbudakan di Amerika Serikat sendiri punya sejarah yang panjang. Praktik perbudakan pertama di AS terjadi pada tahun 1619 di Virginia yang ketika itu masih berstatus sebagai daerah koloni Britania Raya, cikal bakal Amerika Serikat. Kapal Belanda mengangkut orang-orang Afrika yang diperbudak dan diperdagangkan.

Menurut sebuah brosur berjudul Slavery: Cause and Catalyst of the Civil War (PDF) yang dikeluarkan oleh U.S. Department of the Interior National Park Service, kebutuhan akan tenaga kerja murah membuat para penduduk kulit putih Amerika melirik para budak yang diimpor dari Afrika. Mereka dipekerjakan di perkebunan untuk menghasilkan ekspor besar seperti tembakau, beras, hasil hutan dan lainnya.

Sejak itu hingga dua abad kemudian, orang Afrika di tanah Paman Sam mendapat perlakukan tak berperi kemanusiaan. Para majikan tak segan mencambuk budak yang dianggap tak mematuhi tuannya. Jim Crow Museum of Racist Memorabilia yang dikelola oleh Ferris State University menyebut, para pemuka agama dan ilmuwan bahkan melegitimasi praktik-praktik biadab itu.

Khotbah-khotbah pemuka agama menyatakan bahwa perbudakan adalah kehendak Tuhan. Sementara ilmuwan berusaha membuktikan bahwa orang kulit hitam adalah subspesies ras manusia karena dianggap kurang sempurna dalam berevolusi.


Dalam catatan The Gilder Lehrman Institute of American History, dari sekitar 12,5 juta budak yang didatangkan dari Afrika pada tahun 1526 sampai 1867, sebanyak 10,7 juta di antaranya masuk ke benua Amerika. Dari jutaan orang Afrika yang ada di benua Amerika, seperempatnya terkonsentrasi di wilayah Amerika Serikat pada 1825.

Wilayah Massachusetts menjadi daerah koloni Britania Raya pertama di Amerika yang mengesahkan perbudakan secara hukum pada 1641. Ketika itu Amerika Serikat sebagai sebuah negara masih belum dideklarasikan. Namun, lama setelah negara Amerika Serikat berdiri, praktik perbudakan terus berlangsung. Penemuan mesin pemisah kapas pada 1793 makin menguatkan posisi kulit hitam sebagai budak yang harus dipekerjakan secara paksa sebagai pelumas perekonomian negara.

Para budak kulit hitam di AS hidup dan diperlakukan dengan cara yang berbeda dari para kulit hitam lainnya di benua Amerika. Tingkat kematian bayi dan anak dua kali lebih tinggi. Setengah dari seluruh bayi meninggal dunia pada tahun pertama. Penyebab utamanya adalah kekurangan gizi kronis dan pembatasan periode menyusui dari para ibu.

Sedangkan para budak dewasa kondisinya tidak jauh lebih baik lantaran dipaksa bekerja melebihi kemampuan. Kebutaan, busung lapar, kaki pincang, penyakit kulit, dan penyakit kekurangan gizi lazim ditemui di kalangan budak waktu itu. Agar margin profit bertambah lebar, para majikan sengaja memberikan pangan dan papan ala kadarnya untuk budak-budak mereka.

Daina Ramey Berry, sejarawan University of Texas yang menekuni masalah perbudakan, menulis di The Conversation bahwa para budak kulit hitam benar-benar diperlakukan layaknya komoditas perdagangan, diperjualbelikan seperti mobil dan ternak hari ini. Karena dipandang sebagai aset berharga yang dapat diwariskan, mereka juga diasuransikan.

Infografik Kanye West Budak Negro Rev


Meski impor budak Afrika telah dilarang sejak 1808, akan tetapi perdagangan budak domestik masih terus berlangsung. Barulah pada 6 Desember 1865, pasca-kemenangan kubu Union dalam Perang Sipil, konstitusi Amerika Serikat diamandemen dan melarang praktik perbudakan secara penuh.

Selama praktik perbudakan berlangsung, tak sedikit orang-orang kulit hitam yang melawan dan memberontak. Di Virginia pada tahun 1676, misalnya, terjadi pemberontakan terhadap penguasa setempat. Aksi ini digalang oleh aliansi kaum miskin kulit putih dan budak-budak kulit hitam.


Masih di Virginia, pada 1800, sejumlah orang kulit hitam merencanakan pemberontakan besar yang melibatkan 1.000 budak. Namun aksi tersebut gagal lantaran badai dan pengkhianatan orang dalam. Pada 1831, 75 budak melancarkan pemberontakan berdarah yang menewaskan 60 orang kulit putih.

Pada pertengahan abad ke-19, gerakan anti-perbudakan (abolisionisme) mulai menguat. Pada 1861, ketika Lincoln dilantik dan melarang perbudakan di seantero AS, Perang Sipil Amerika dan dimenangkan kubu Union yang anti-perbudakan pada 1865.

Meskipun kini kondisi warga kulit hitam jauh lebih baik, akan tetapi rasisme dari orang kulit putih masih sering ditemui. Jajak pendapat Gallup pada Agustus 2017 lalu menunjukkan enam dari 10 orang Amerika (61%) menyatakan bahwa rasisme terhadap orang kulit hitam masih dipraktikkan dalam berbagai bentuknya di Amerika Serikat. Persentase tersebut naik dari 51 persen pada tahun 2009.

Ironisnya, pada tahun yang sama seorang presiden kulit hitam pertama di AS dilantik. Sembilan tahun kemudian, ironi yang lebih pahit terjadi: Donald Trump, seorang politisi yang berhasil duduk di gedung putih dengan cara menggelorakan sentimen rasis warga kulit putih, mengucapkan terima kasih kepada Kanye West atas jasa-jasanya yang menurut Trump berhasil mendongkrak popularitasnya di kalangan kulit hitam.

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf