Cara Melawan Perbudakan ala Charles Darwin

Charles Darwin (1809-1882), pencetus Teori Evolusi sekaligus penentang perbudakan. Ilustrasi/John Collier, 1881
Oleh: Husein Abdulsalam - 27 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Charles Darwin menentang superioritas rasial kulit putih dan menganggap perbudakan tidak bisa dibenarkan secara moral.
tirto.id - Dalam On the Origin of Species, Charles Darwin tidak menyebut manusia adalah hasil perubahan dari kera.

Dalam catatan hariannya, Charles Darwin menulis, “Baik oleh ruang dan waktu, kami seolah dibawa [Galapagos] kepada sesuatu yang dekat dengan kenyataan—misteri dari segala misteri—yakni kemunculan makhluk hidup baru di bumi.”

Menurut Rebecca Stefoff dalam Charles Darwin and the Evolution Revolution (1996), kalimat tersebut diucapkan Darwin untuk menggambarkan Kepulauan Galapagos. Gugusan kepulauan di seberang barat Ekuador itu menjadi habitat spesies endemik, seperti burung finch dan kura-kura raksasa, yang menjadi salah satu ilham Darwin untuk merumuskan Teori Evolusi sebagaimana disampaikannya dalam On the Origin of Species (1859) dan The Descent of Man (1871).

Kepulauan Galapagos memang kemudian menjadi bahan perbincangan hingga ratusan tahun setelah Darwin meninggal (19 April 1882). Namun, sedikit yang tahu bahwa sebelum sampai di Galapagos, kapal Beagle yang ditumpangi Darwin itu mampir di Brazil pada April 1832. Di wilayah itu lah Darwin menyaksikan suramnya dunia perbudakan.

Baca juga: Skandal Daging Brazil yang Membuat Resah Dunia

Menyaksikan Langsung Perbudakan


Saat Darwin tiba di Brazil, negeri itu masih dijajah Portugis yang kekuasaan kolonialnya bertumpu, salah satunya, kepada perbudakan. Hampir semua pekerja perkebunan dan pelayan rumah adalah budak keturunan Afrika.

Kondisi para budak yang dilihat Darwin pun amat mengenaskan. Dia mencatat ada seorang budak yang masih anak-anak dipukuli dengan pecut kuda. Terdengar pula suara seorang majikan mengancam untuk menjual istri dan anak-anak dari semua budaknya.

Dua sejarawan sains, Adrian Desmond dan James Moore, dalam Darwin's Sacred Cause (2009) mengisahkan keresahan batin Darwin melihat kondisi tersebut.

“Saya harap hari itu akan tiba ketika mereka akan menegaskan hak mereka sendiri dan melupakan balas dendam atas kesalahan ini," sebut Darwin.

Baca juga: Menghujat dan Memuja Teori Evolusi Darwin

Sementara itu, menurut Stefoff, di Brazil itu pula Darwin sempat adu mulut dengan Kapten Kapal Beagle, Robert Fitzroy. Kepada Darwin, sang kapten mengatakan budak dibutuhkan untuk mengolah perkebunan besar dan dia mengaku pernah mengunjungi perkebunan di mana para budaknya merasa senang.

Sejurus kemudian, Darwin menolaknya. Menurutnya, para budak tidak mungkin berkata "tidak senang" di hadapan majikan. Lalu, Fitzroy tidak terima. Dia kehilangan kesabaran dan memerintahkan Darwin keluar dari kabin—meski beberapa saat kemudian Fitzroy meminta maaf.

Jika dilihat dari garis keturunan, kakek dan paman Darwin—masing-masing bernama Josiah Wedgwood dan Josiah Wedgwood II—adalah orang-orang Inggris pendukung dihapusnya perbudakan. Kelompok anti-perbudakan itu dikenal dengan istilah abolisionis. Sikap ini, menurut Desmond dan Moore, "menurun" kepada Darwin.

Mempertanyakan Keberadaan Ras Unggul

Dalam artikel berjudul “Did Darwin’s Theory of Evolution Encourage Abolition of Slavery?” Profesor emeritus di Departmen Ekologi dan Evolusi University of Chicago Jerry A. Coyne mengungkapkan, sesungguhnya On the Origin of Species mengesampingkan bahasan mengenai evolusi manusia.

Darwin pun tidak menyebut manusia merupakan hasil perubahan dari kera (apes). Bahkan, hanya dalam 12 kata saja—dari karya setebal 400 halaman itu—Darwin menyinggung soal evolusi manusia: “Light will be thrown on the origin of man and his history” atau "Terang akan terbit pada asal usul manusia dan sejarahnya". Laki-laki yang lahir 12 Februari 1809 itu juga sama sekali tidak menyinggung tentang ras.

Namun jelas, ada dua argumen utama yang diutarakan Darwin. Pertama, spesies berevolusi dan beradaptasi agar sesuai dengan keadaan alam mereka. Kedua, seleksi alam adalah mekanisme utama yang membuat spesies baru terbentuk secara perlahan.

Baca juga: Sejarah Angka Nol dari Babilonia Hingga Pilgub DKI

Lantas, apa kaitan kata-kata Darwin tersebut dengan gagasan anti-perbudakan?

Menurut Coyne, pada saat itu, asal-usul manusia sedang diperdebatkan: “Apakah manusia memiliki moyang tunggal atau jamak dengan setiap ras diciptakan secara terpisah?”

Untuk menjawab hal itu, beberapa orang menyatakan bahwa ras manusia berasal dari moyang berbeda (poligenisme). Bagi mereka, "manusia pertama" Adam dan Hawa hanya menurunkan generasi orang-orang kulit putih, sedangkan orang-orang dari ras lain tidak berasal dari manusia pertama tersebut.

Cara berpikir itu akhirnya mengarahkan orang-orang melihat ras kulit hitam sebagai perantara antara manusia atau bahkan sebagai anggota spesies yang berbeda—alias bukan manusia—sehingga secara moral dibenarkan untuk dijadikan budak.

Semesta pembicaraan dalam sains pun turut memberikan landasan bagi hal itu. Dalam Kolonialisme/Pascakolonialisme yang disusun Ania Loomba disebutkan, penggagas taksonomi Carolus Linneaus (1707-1778) membedakan antara Homo sapiens dengan Homo monstrous.



Selain itu, pada 1758, dalam The Wild Man's Pedigree: Scientific Method and Racial Anthropology, John Burke mempercabangkan lagi pembedaan tersebut sekaligus mengaitkan beberapa ciri fisik dengan ciri psikis suatu ras. Simak lah betapa mengerikannya pembedaan ras antara orang Eropa dan orang Afrika yang disampaikan dalam The Wild Man’s Pedigree:

Orang Eropa: Warna kulit terang, optimis, berotot; rambut kuning, cokelat, berombak; mata biru; lembut, cerdas, cerdik. Berpakaian ketat. Diatur oleh hukum.

Orang Afrika: Hitam, lamban, santai. Rambut hitam, keriting; kulit halus sutra, hidung pesek, bibir tebal; banyak akal, malas, lalai. Mengolesi tubuh dengan gemuk. Diatur oleh kehendaknya sendiri.

Dalam hal ini, sains jelas punya andil dalam segregasi rasial yang menopang kolonialisme dan perbudakaan.

Baca juga: Melacak Riwayat Manusia Dalam DNA

Gagasan yang menjadi antitesis pemikiran di atas adalah monogenisme. Darwin dan orang-orang yang berpikir monogenis menganggap manusia memiliki moyang tunggal, seperti yang termaktub dalam kitab-kitab suci agama Abrahamik.

“Ini mungkin salah satu dari sedikit peristiwa dalam sejarah biologi evolusi—yang menurut gagasan Darwin—selaras dengan penafsiran Kitab Suci secara literal,” sebut Coyne.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, gagasan ini memberikan fondasi pemikiran bahwa superioritas rasial kulit putih dan perbudakan tidak dapat dipertahankan secara moral.

"Tidakkah pemegang budak ingin membuat orang kulit hitam itu jenis lain? ... dari asal mula kita berasal dari moyang yang sama, kita mungkin terjaring bersama," sebut Darwin dalam buku catatan yang digunakannya saat menyusun tulisan mengenai seleksi alam.

Baca juga artikel terkait PERBUDAKAN atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight