Kisah Sara Baartman, Salah Satu Babak Kelam Peradaban Eropa

Oleh: Patresia Kirnandita - 15 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Ia dibawa paksa dari Afrika, lalu tubuh—termasuk bokongnya yang besar—dipertontonkan di hadapan khalayak di Inggris dan Perancis.
tirto.id - “When the sharpest words wanna cut me down
Gonna send a flood, gonna drown them out
I am brave, I am bruised
I am who I'm meant to be, this is me
Look out 'cause here I come
And I'm marching on to the beat I drum

I'm not scared to be seen
I make no apologies, this is me
.

Keala Settle, pemeran perempuan sintal berjanggut tebal dalam film The Greatest Showman bernama Lettie Lutz, melantunkan lagu ini dengan begitu prima. Oleh juri-juri Golden Globe, lagu bertajuk “This is Me” ini diganjar penghargaan best original song.

Film The Greatest Showman, yang masih diputar di bioskop Indonesia, mengambil petikan kisah nyata hidup pengusaha sirkus orang aneh (freakshow) ternama, Phineas Taylor Barnum (1810-1891). Orang bertato, kerdil, kulit hitam, berbobot ratusan kilo, tinggi bak jerapah, albino, dan rupa-rupa manusia yang ditolak masyarakat lainnya dikumpulkan Barnum untuk berbisnis.

Berkat freakshow tersebut, para penampil—Lettie Lutz dan kawan-kawan—menjadi percaya diri. Mereka menyuarakan isi hati lewat lagu “This is Me” tadi setiap kali merasa ada penolakan dari orang sekitar. Mereka bangga dengan keganjilan-keganjilannya dan menunjukkan bahwa mereka adalah manusia yang punya kehendak bebas juga.

Barnum, si pebisnis freakshow, bisa saja dipandang heroik oleh sebagian orang, setidaknya seperti yang tergambar dalam film garapan Michael Gracey ini. Namun, realitas lain menunjukkan kondisi yang berseberangan tentang dunia freakshow. Tepat pada tahun kelahiran Barnum, seorang perempuan Afrika mesti mengalami tragedi demi tragedi ketika menjadi penampil freakshow di tanah Eropa.

Hottentot Venus: Perempuan Afrika Tontonan Warga Eropa

Pada 1789, seorang perempuan Afrika keturunan suku Khoikhoi yang disebut Sara “Saartjie” Baartman oleh penjajah Belanda lahir di Eastern Cape. Sejak muda, ia telah menjadi budak orang Eropa dan mengalami kekejian demi kekejian. Pada usia 16, tunangan Sara dibunuh oleh orang Belanda. Selanjutnya, ia tidak ubahnya sebagai properti yang dengan mudah dipindahtangankan dari satu orang Eropa ke orang Eropa lainnya.

Sekitar tahun 1810, seorang berkebangsaan Inggris, William Dunlop dan temannya, Hendrik Cesars memiliki ide membawa Sara ke Eropa. Mereka berpikir, dengan fitur tubuh perempuan Khoikhoi yang “unik”: berbokong superbesar dan bentuk alat kelamin memanjang, Sara akan menjadi daya tarik bagi warga Eropa. Hal ini potensial mendatangkan keuntungan. Lantas, Sara pun diboyong ke London dengan kapal.

Kisah hidup Sara di Eropa kemudian disampaikan oleh sutradara Zola Maseko lewat dokumenter The Life and Times of Sara Baartman (1998). Di sana diceritakan, Sara yang kemudian bernama panggung Hottentot Venus dijanjikan ketenaran dan uang, suatu hal yang jauh lebih baik dibanding tetap hidup sebagai budak di benua kelahirannya sendiri.

Narasi-narasi yang mengindikasikan Sara dengan sukarela mengiyakan pergi ke Eropa serta memiliki kehidupan layak di Eropa terus disuarakan oleh Dunlop dan Cesars. Sementara menurut pendapat sejumlah sejarawan yang dikutip dalam dokumenter tersebut, kenyataan yang ada justru berkebalikan dengan klaim dua orang Eropa ini.

Sara hidup menderita. Sejak freakshow yang menampilkan Baartman digelar, ia dipaksa-paksa dan mendapat ancaman bila tidak mau berlaku sesuai perintah tuannya. Sara bahkan ditempatkan di kandang dalam freakshow tersebut. Ia mesti “bekerja” sejak jam 1 siang hingga 5 sore di Piccadily Circus, mempertontonkan tubuhnya yang tidak tertutupi pakaian di hadapan orang-orang kulit putih yang bertanya-tanya, “Apakah orang-orang Khoikhoi benar-benar manusia?”

Sementara sebagian orang kulit putih terkesima dan terhibur dengan penampilan Sara, sekelompok orang lainnya melihat freakshow Sara adalah bentuk degradasi kemanusiaan. Tahun 1807, Inggris sebenarnya sudah menghapuskan perdagangan budak. Namun pada praktiknya, masih terlihat orang-orang kulit hitam yang melayani elit-elit Inggris.

Freakshow Sara pun dipandang sebagai bagian dari perbudakan yang semestinya tidak lagi terjadi. Maka, orang-orang dari African Institute dan kelompok abolisionis—orang yang pro-penghapusan perbudakan—mencoba mengadvokasi Sara dengan membawa kasusnya ke pengadilan.

Advokasi terhadap Sara juga dilakukan lewat pemberitaan The Times. Menurut The Life and Times of Sara Baartman, surat kabar itu melaporkan bahwa Sara dipertontonkan seperti binatang buas, diperintah-perintah dari luar kandang, lebih serupa beruang yang dirantai daripada manusia. Ketika Sara menolak perintah “pawangnya”, sang pawang menutup tirai lalu mengancam Sara di baliknya. Bahkan saat Sara sakit, ia tetap dipaksa menari demi memuaskan rasa penasaran orang-orang Eropa.

Yvette Abrahams, ahli sejarah dan profesor studi gender dan perempuan dari University of the Western Cape menyatakan, pada saat itu orang Khoikhoi yang dibawa ke Eropa tidak punya agensi untuk menentukan nasibnya. Untuk kasus Sara, klaim-klaim Dunlop dan Cesars bahwa Sara datang dengan sukarela makin tidak masuk akal karena saat itu Sara belum menginjak usia dewasa. Tidak mungkin ia bisa bertanggung jawab atas pilihan yang diambilnya.

Sejalan dengan pemikiran Abrahams, sejarawan lain yang berfokus pada isu Black British, Steve Martin mengungkapkan bahwa Sara tidak punya pilihan. Bila memutuskan pulang ke Afrika, ia akan kembali menjadi budak atau mati di tengah jalan. Pasalnya, ketahanan tubuh orang-orang pada masa itu belum seperti orang zaman sekarang, bisa saja ia mati terserang penyakit ketika menempuh perjalanan dengan kapal selama berbulan-bulan.

Setelah ke London, Sara sempat dibawa ke kota lain di Inggris, Bath, dan Limerick, Irlandia, demikian dicatat oleh Dr. Natasha Gordon-Chipembere, editor buku Representation and Black Womanhood: The Legacy of Sarah Baartman (2011). Setelah pengadilan memutuskan freakshow Sara ilegal di Inggris karena mempertontonkan hal yang tak pantas, Cesars membawanya ke Perancis pada tahun 1814.

Di sana, ia dijual ke seorang pelatih hewan dan kembali dipertontonkan di Palais Royal, setiap hari sejak pukul 11 siang sampai 10 malam. Tidak hanya itu, Sara juga dijadikan surprise guest oleh elit-elit Perancis dalam pesta-pesta privat mereka.

Setahun berselang, Sara dikabarkan meninggal. Ada yang mengatakan ia mati karena penyakit yang diakibatkan kebiasannya minum-minum, ada pula yang mengabarkan ia mati karena perilaku seksualnya yang memicu sifilis. Menurut Gordon-Chipembere, pendapat-pendapat ini adalah bentuk viktimisasi Sara yang tidak pernah memilih sukarela untuk menjadi budak atau penampil freakshow.

Narasi-narasi yang ada saat itu begitu bias Barat sehingga kemalangan apa pun yang menimpa perempuan Khoikhoi ini dianggap sebagai kesalahannya sendiri.

Infografik Hottentot Venus

Eksploitasi yang Tak Berhenti

Setelah Sara meninggal, eksploitasi terhadap dirinya tak juga berhenti. Eksploitasi ekonomi dan tubuh selama bertahun-tahun yang dialaminya seolah tak cukup. Pada tahun 1817, naturalis dan ahli zoologi Perancis, Georges Cuvier membelek jenazah Sara untuk diteliti.

Jika tindakan Cuvier masih punya pembenaran dari sisi ilmu pengetahuan, ada episode yang sulit dijustifikasi: otak, tengkorak, serta alat kelaminnya dipertontonkan di Museum of Man di Paris sampai 1974. Dua puluh tahun kemudian, presiden Afrika Selatan Nelson Mandela meminta jenazah Sara dipulangkan ke kampung halamannya, dan hal tersebut baru dilakukan pemerintah Perancis pada 2002.


Sejumlah kajian sosial tentang Sara telah dipublikasikan untuk membeberkan imbas kolonialisasi terhadap orang Afrika. Kendati demikian, perilaku tidak sensitif ketika mengangkat wacana Sara masih saja ditemukan.

Kim Kardashian pernah berpose untuk majalah Paper pada 2014 dengan menonjolkan bagian bokongnya. Oleh sebagian orang, bokong Kim disamakan dengan bokong Sara. The New York Times malah sempat menyebut bahwa Sara adalah Kim Kardashian pada masanya. Hal ini mengundang kemarahan sebagian khalayak karena dianggap tidak pantas dan cenderung abai terhadap isu kemanusiaan yang terkait kehidupan Sara.

Kontras dengan kehidupan Sara, Kim Kardashian lebih memiliki agensi untuk memilih seperti apa dia menampilkan tubuhnya, kepada siapa, serta keuntungan apa yang bisa ia dapatkan dengan melakukan hal tersebut. Kendati berdarah campuran, Kim tidak mengalami perbudakan sebagaimana yang Sara alami. Wacana pembebasan seksual masih belum tersentuh pada era Sara, berbeda dengan konteks Kim berpose di majalah Paper.


Kehidupan orang-orang seperti Sara memang berlangsung pada lebih dari dua abad silam. Namun, isu kemanusiaan, perdagangan manusia, dan eksploitasi tubuh tetap menjadi bagian dari masalah-masalah sosial budaya yang ada pada saat ini.

Apakah penampil, baik itu dalam freakshow maupun jenis pertunjukan lain dalam medium-medium berbeda, benar-benar berkehendak bebas ketika unjuk diri di hadapan publik, atau ada serangkai tekanan yang mendorongnya memilih tindakan tertentu, baik disadari maupun tidak?

Baca juga artikel terkait RASISME atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight