Jelang Demo, Aparat Tutup Jalan Medan Merdeka Dengan Kawat Berduri

Oleh: Mohammad Bernie - 28 Oktober 2019
Dibaca Normal 1 menit
Polisi pun memasang kawat berduri menutup jalan Medan Merdeka Barat untuk menghalangi massa demonstrasi.
tirto.id - Mahasiswa dan Buruh berencana menggelar long march dari Bundaran HI sampai ke Istana Merdeka, Jakarta pada Senin (28/10/2019). Polisi pun memasang kawat berduri menutup jalan Medan Merdeka Barat untuk menghalangi massa.

Berdasarkan pantauan Tirto, kawat berduri terpasang melintang sejak trotoar di sisi pintu masuk Gedung Sapta Pesona sampai ke pagar Monumen Nasional di seberangnya. Aparat juga menyiapkan 4 unit water canon, 2 unit mobil barakuda, 2 mobil komando pengurai massa, dan sejumlah kendaraan taktis lainnya.

Sejumlah anggota Brimob pun telah tampak bersiaga, selain itu tameng dan rotan pun telah dijejerkan di aspal.

Demonstrasi kali ini merupakan tindak lanjut akibat tidak dipenuhinya 7 tuntutan Aksi Reformasi Dikorupsi pada September lalu. Rencananya massa akan long march dari Bundaran Hotel Indonesia sampai ke Istana Merdeka.

Dalam aksi ini massa masih membawa 7 tuntutan Reformasi Dikorupsi, tapi, ada 4 tambahan tuntutan dari Borak. Tuntutan pertama yakni menolak "Kantor Polisi Kuningan" alias menolak Irjen pol Firli Bahuri sebagai Ketua KPK periode 2019-2023. Alasannya, kata Natado, KPK dibentuk lantaran kepolisian dan aparat penegak hukum lain gagal dalam memberantas korupsi.

"Namun hari ini ketika polisi yang akan memimpin KPK maka kami menolak keberadaan kantor polisi kuningan," kata Natado.

Mereka pun menolak Kabinet Indonesia Maju yang baru dilantik Presiden Joko Widodo pekan lalu, sebab sejumlah menteri memiliki catatan terkait kejahatan hak asasi manusia. Dalam kabnet itu ada Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan dan mantan Kapolri Tito Karnavian sebagai Menteri Dalam Negeri.

"Tito Karnavian karena dia bertanggungjawab atas 5 teman kami yang martir dalam aksi represif september kemarin," kata Natado.

Tuntutan ketiga mereka ialah kecaman ruang ekspresi masyarakat yang kian menyempit. Hal itu, kata Natado, bisa dilihat tindakan pihak perguruan tinggi yang mencegah mahasiswa berunjuk rasa.

Terakhir, mereka menuntut dibentuknya Tim Pencarian Fakta atas tewasnya 5 orang dalam aksi September lalu.


Baca juga artikel terkait REFORMASI DIKORUPSI atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Politik)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Widia Primastika
DarkLight