Menuju konten utama

Jacub Sitanala, Aktivis Pergerakan Nasional yang Pakar Kusta

Dr. Sitanala adalah pendiri PMI, pakar lepra, dan aktivis pergerakan nasional. Namanya kemudian menjadi sebuah rumah sakit di Tangerang.

Jacub Sitanala, Aktivis Pergerakan Nasional yang Pakar Kusta
Jacob Bernadus Sitanala. FOTO/Dok RSK Sitanala

tirto.id - Salah satu ahli kusta yang pernah dimiliki Indonesia adalah Jacub Bernadus Sitanala. Pemuda kelahiran Kayeli, negeri yang terletak di pantai selatan Pulau Buru, pada 18 September 1889 ini mendapat gelar Indische Arts (dokter Hindia) setelah tamat belajar di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Kwitang dari 18 Januari 1904 hingga 30 Juli 1912.

Sebagai dokter pemerintah, Sitanala muda telah mengunjungi banyak daerah. Buku Orang Indonesia Terkemoeka di Djawa (1944:355) menyebut Sitanala pernah ditugaskan ke Merauke, Sumatra Timur, Sibolga, dan Jawa. Lebih detail, John Pattikaihattu dalam Dr. Jacub Bernadus Sitanala: Hasil Karya dan Pengabdiannya (1982:20, PDF) menyebut Sitanala pernah bertugas di Merauke sampai 1917, lalu dipindah ke sekitar Selat Panjang Sumatra. Ketika Gunung Kelud meletus pada 1923, dia dipindah ke Kediri.

Setelah bertahun-tahun bekerja di dalam negeri dan dengan pertimbangan memiliki prestasi cukup baik, Sitanala naik kapal juga ke Negeri Belanda pada 1923, ditugaskan untuk belajar di Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam. Tapi ia tak hanya berkutat di negara tersebut. Sitanala juga mengunjungi beberapa negara untuk lebih mendalami studi medisnya.

Sitanala kemudian tak hanya berhasil menjadi dokter yang setara dengan dokter Belanda, tapi juga menjadi ahli lepra. Ia bahkan dianggap orang Indonesia pertama yang ahli penyakit karena bakteri yang menyerang jaringan kulit hingga saluran pernapasan tersebut.

Setelah kembali, seperti disebut John Pattikaihattu, Sitanala ditempatkan di jawatan yang mengurusi penyakit kusta di Plantungan, Jawa Tengah, pada 1928. Tiga tahun kemudian, dia naik pangkat menjadi kepala pemberantasan kusta di Semarang. Dia juga banyak menulis karya ilmiah kedokterannya.

Dalam Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia 2 (1980:123) Sitanala juga disebut pernah punya ide menemukan penderita kusta sebanyak-banyaknya pada 1932. Ia ingin mengubah pandangan masyarakat tentang penyakit ini (penderita kusta biasanya dijauhi dalam kadar yang ekstrem, padahal penanganannya bisa tetap dengan cara yang humaniter sebagaimana Sitanala pelajari di Norwegia). Ia berpendapat perubahan pandangan masyarakat dapat sangat membantu pemberantasan penyakit.

Sitanala tetap dipercaya sebagai dokter ketika militer Jepang menggantikan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemampuannya tentang kusta sangat dibutuhkan rezim-rezim di masa lalu.

Aktivitas Politik

Sitanala tak hanya ahli kesehatan, tapi juga seorang aktivis politik. Sejak baru menyandang predikat dokter pemerintah, ia telah tertarik dengan Sarekat Ambon yang dipimpin Alexander Jacob Patty. Ketika belajar di Eropa, Sitanala memutuskan menjadi anggota Perhimpoenan Hindia (PH) yang lalu menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI).

Salah satu anggota PI bernama Noto Soeroto, sepupu Ki Hajar Dewantara. Ketika kawan-kawan yang lain berpendapat satu-satunya tujuan perjuangan yang dapat diterima adalah kemerdekaan, Noto Soeroto justru menganjurkan semacam persemakmuran Belanda-Hindia. Ia pun dianggap pengkhianat; dinilai anti-Indonesia.

Sitanala tidak bisa menerima pemecatan itu. “Sitanala tampil membela Noto Soeroto. Ia menulis dua karangan dalam koran Algemeen Handelsblad dan menyerang Perhimpoenan Hindia serta keputusan pemecatan itu. Pengurus PH memberikan reaksi cepat; Sitanala pun diminta keterangannya, dituduh “melakukan fitnah” dan tanggal 11 Januari (1925) ikut dipecat juga,” tulis Harry Poeze, dkk. dalam Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008:181).

Setelah dipecat Sitanala hanya fokus dengan studinya. Namun, ketika kembali ke Indonesia, ia kembali masuk dalam pergerakan nasional.

Di zaman pendudukan Jepang, Persiapan Persatuan Kaum Kristen dibentuk oleh beberapa tokoh seperti Johannes Leimena dan Amir Sjarifoeddin. Organisasi ini bermarkas di Jalan Kramat 65 Jakarta. Keadaan memburuk setelah Amir ditangkap militer Jepang atas tuduhan melawan pemerintah.

“Kegiatan PPKK Jalan Kramat 65 itu kepemimpinannya diambil alih dr. Sitanala. Gedung ini kemudian diubah namanya menjadi Balai Pertemuan Kristen. Di gedung inilah umat Kristen Indonesia untuk pertama kalinya mendengar hasil pekerjaan Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia berupa Rancangan Undang-Undang Dasar yang sekarang terkenal dengan UUD 45. Di gedung inilah umat Kristen Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap pembentukan suatu negara merdeka,” tulis Frans Hitipeuw dalam Dr. Johannes Leimena, Karya dan Pengabdiannya (1986:97).

Sitanala menjadi salah satu orang Ambon yang mendukung Republik setelah merdeka. Ketika dr. Boentaran menjadi Menteri Kesehatan, Sitanala dilibatkan dalam Panitia Lima bersama dokter-dokter senior seperti Djuhana, Marzuki, Mochtar, dan Bahder Djohan. Dari Panitia Lima ini terbentuklah Palang Merah Indonesia (PMI) beserta pengurus besar pertamanya, Mohammad Hatta ditunjuk sebagai ketua umum dan Boentaran sebagai ketua harian.

PMI tentu saja berjasa besar di masa revolusi. Mulai dari memberikan pertolongan medis kepada korban perang, mencari tahu posisi keluarga korban, bahkan memulangkan romusha yang disiksa oleh militer Jepang.

Ketika Sitanala berposisi mendukung Republik sejak awal, anaknya, Harry, sempat berada di sisi yang lain.

Benjamian Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit 'Dari Tiga Warna ke Merah-Putih' (1995:390) menyebut Harry Sitanala—kelahiran 19 Mei 1920—pernah menjadi calon perwira milisi CORO sebelum 1942. Di zaman pendudukan Jepang, ia menjadi tawanan perang dan nyaris tewas ketika kapal Junyo Maru yang ditumpanginya tenggelam di Mukomuko tepat di hari ulang tahun dr. Sitanala tahun 1944. Meski selamat, Harry tetap terus jadi tawanan perang Jepang di Sumatra. Para tawanan dipaksa ikut mengerjakan proyek militer.

Setahun setelah Jepang kalah, Harry tercatat berdinas di KNIL Belanda sebagai letnan kelas dua infanteri cadangan. Pada 1947 dia menjadi staf Menteri Sosial Negara Indonesia Timur. Pangkatnya naik menjadi letnan kelas satu dengan ditempatkan di Batalyon Infanteri ke-12 KNIL di Bali.

Sebagaimana banyak anggota KNIL lain yang kembali ke pangkuan Republik, Harry pun demikian. Pada 1950 ia tercatat sudah berpangkat mayor TNI.

infografik mild jacub bernadus sitanala

infografik mild jacub bernadus sitanala. (tirto.id/Fuad)

Masa Senja

Jacub Bernadus Sitanala akhirnya pulang kampung ke Ambon pada 1947. “Sitanala disambut hangat di Ambon oleh rekan-rekan intelektual dan PIM (Partai Partai Indonesia Maluku)-nya. Dia menunjukkan preferensinya sendiri melalui hubungan dekat dengan PIM. PIM memproklamirkannya sebagai 'bapa tanah air' (bapak bangsa),” tulis Richard Chauvel dalam Nationalist, Soldiers and Separatist: Ambonese Island from Colonialism and Revolt 1880-1950 (1990:263).

Sitanala lalu membentuk PMI cabang Ambon dan lagi-lagi organisasinya berjasa besar bagi masyarakat. Ketika itu di berbagai wilayah sedang terjadi banyak pemberontakan, tak terkecuali di Ambon. Republik Maluku Selatan (RMS) diproklamasikan pada 25 April 1950. Saat RMS bergejolak, PMI Ambon berjasa besar menolong mereka yang terdampak.

Sitanala yang sudah sepuh lebih bergiat di PMI dan tak terseret dalam kabinet RMS.

Pusat melawan RMS dengan pendekatan militer yang awalnya tidak lain dipercayakan kepada Harry, anak Sitanala. “Sejak semula orang yang diharapkan Kolonel T. B. Simatupang untuk menjadi komandan Operasi Penumpasan RMS ini adalah Mayor Harry Sitanala. Namun perwira ini tidak sampai hati menghadapi suku bangsanya sendiri,” tulis Frans Hitipeuw (1986:117). Operasi itu lalu dipimpin Kolonel Alex Kawilarang. Harry sendiri berdinas di TNI hanya sampai 1954.

Selain PMI, Sitanala juga dianggap berjasa dalam pendirian Universitas Pattimura di Ambon. Pemerintah RI menganggapnya perintis kemerdekaan juga.

Dr. Sitanala tutup usia pada 30 Agustus 1958. Sitanala kemudian dijadikan nama rumah sakit khusus lepra di Tangerang.

Baca juga artikel terkait PERGERAKAN NASIONAL atau tulisan lainnya dari Petrik Matanasi

tirto.id - Humaniora
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Rio Apinino