tirto.id - Eskalasi perang di Timur Tengah memasuki babak baru yang berbahaya pada Minggu (22/3). Amerika Serikat dan Iran kini saling melempar ancaman untuk menyerang infrastruktur sipil vital. Keteganan ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya kejahatan perang besar-besaran.
Ancaman 48 Jam dari Trump
Presiden Donald Trump, yang menghabiskan akhir pekan di Florida, mengeluarkan ultimatum keras melalui media sosialnya. Ia menetapkan batas waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur logistik yang memasok seperlima kebutuhan minyak dunia, atau menghadapi kehancuran total pada infrastruktur energinya.
Trump menegaskan jika Iran tidak segera bertindak, AS akan menghancurkan “berbagai PEMBANGKIT LISTRIK, DIMULAI DARI YANG PALING BESAR TERLEBIH DAHULU!”
Langkah ini dianggap banyak pihak sebagai strategi yang menunjukkan keputusasaan Trump.
Senator Chris Murphy mengkritik tajam langkah tersebut melalui unggahannya di media sosial. “Dia (Trump) telah kehilangan kendali atas perang ini dan dia panik," tulisnya seperti dikutip dari AP News.
Senada dengan itu, Senator Ed Markey menyatakan, “Trump tidak punya rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz, jadi dia mengancam akan menyerang pembangkit listrik sipil Iran. Ini akan menjadi kejahatan perang.”
Ancaman Balasan "Permanen" dari Teheran
Iran tidak tinggal diam. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, merespons melalui platform X, dikutip dari Reuters, menegaskan bahwa jika pembangkit listrik mereka diserang, maka infrastruktur vital di seluruh Kawasan Teluk termasuk fasilitas energi dan desalinasi air minum yang krusial bagi negara-negara Telukakan menjadi target sah dan akan “dihancurkan secara permanen.”
Qalibaf juga menambahkan bahwa “entitas yang mendanai anggaran militer AS adalah target yang sah.”
Duta Besar Iran untuk PBB bahkan telah menyurati Dewan Keamanan, memperingatkan bahwa serangan terhadap pembangkit listrik sipil akan bersifat “inheren, tidak diskriminatif, dan jelas tidak proporsional.”
Iran juga menyatakan bahwa Selat Hormuz, yang krusial bagi ekspor minyak dan komoditas lainnya, akan "ditutup sepenuhnya" jika AS benar-benar menjalankan ancaman Presiden Donald Trump untuk menyerang pembangkit listrik mereka.
Hingga hari ini, Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan dunia luar. Iran hanya mengizinkan jalur aman bagi kapal-kapal dari negara selain dari AS dan aliansinya. Selat Hormuz sendiri merupakan area vital sebab sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur ini, namun serangan terhadap kapal-kapal telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas tanker.
Situasi Perang Makin Meluas
Perang yang pecah sejak 28 Februari ini telah menewaskan lebih dari 2.000 orang. Kondisi terkini di Kawasan Teluk kian mencekam:
- Israel: PM Benjamin Netanyahu menyebut sebuah “mukjizat” bahwa tidak ada korban jiwa saat rudal Iran menghantam komunitas dekat situs riset nuklir rahasia milik Israel. Namun, juru bicara militer Brigjen Effie Defrin memperingatkan, “Minggu-minggu pertempuran melawan Iran dan Hizbullah kemungkinan masih akan berlanjut.”
- Lebanon: Presiden Joseph Aoun mengecam serangan Israel ke jembatan-jembatan di selatan sebagai “awal dari invasi darat.”
- Kawasan Teluk: Kuwait dan Uni Emirat Arab melaporkan aktivitas pertahanan udara pada Senin dini hari, sementara sirene serangan udara mulai terdengar di Bahrain.
Dilema Hukum dan Militer
Pakar hukum militer dari Texas Tech University, Geoffrey Corn, menilai strategi Trump terasa seperti “siap, tembak, bidik” (ready, fire, aim). Menurutnya, serangan luas terhadap infrastruktur sipil kemungkinan besar merupakan bentuk kejahatan perang.
“Dia (Trump) melebih-lebihkan kemampuannya untuk mengendalikan peristiwa setelah melepaskan gelombang kekerasan ini,” ujar Corn.
Bagi para pemimpin militer, perintah ini akan memaksa mereka memilih antara mematuhi perintah kejahatan perang atau menghadapi sanksi kriminal karena pembangkangan yang disengaja.
Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pemberontakan rakyat di Iran seperti yang diharapkan AS, sementara harga minyak dunia terus melonjak, menjepit konsumen Amerika menjelang pemilu midterm yang krusial.
Penulis: Rina Nurjanah
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id
































