Indonesia Negara Tropis, tapi Ada Warganya Kekurangan Vitamin D

Oleh: Aditya Widya Putri - 20 Desember 2020
Dibaca Normal 4 menit
Konsumsi vitamin D disebut berpeluang membantu penyembuhan COVID-19.
tirto.id - Sejak kapan Anda mulai sadar bahwa vitamin D penting untuk menjaga daya tahan tubuh? Sebagian mungkin akan menjawab “beberapa waktu belakangan” saat pandemi COVID-19 menyerang. Pembatasan aktivitas di luar ruangan selama pandemi memang membikin asupan vitamin D jadi berkurang. Maka itu, himbauan berjemur gencar disosialisasikan. Pemandangan orang-orang berjemur di bawah sinar matahari pagi pun segera jadi kelaziman setelah itu.

Selain berjemur, vitamin D juga bisa diperoleh dari suplemen. Mengonsumsi suplemen vitamin D kemudian juga jadi tren anyar selama pandemi karena dianggap lebih praktis daripada berjemur. Seturut riset Markets and Markets, nilai pasar global vitamin D 2020 diperkirakan sebesar USD1,1 miliar dan diproyeksikan mencapai USD1,6 miliar pada tahun 2025.

Compound Annual Growth Rate (CAGR) alias tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun mencapai 7 persen. Fenomena ini didorong oleh kesadaran pentingnya asupan vitamin D, peningkatan kasus osteoporosis perempuan, dan malnutrisi anak-anak,” tulis Markets and Markets dalam laporannya.

Di Inggris, misalnya, penggunaan suplemen vitamin D meningkat 8 persen selama masa pandemi. Pertumbuhan ini menjadi yang paling cepat di pasar suplemen—naik 30 persen dari 2019.

Tren semacam ini juga terjadi di Indonesia. Beberapa selebritas dan influencer mulai menyarankan konsumsi suplemen vitamin D untuk menjaga daya tahan tubuh.

Selain penting untuk kesehatan tulang, gigi, dan otot, vitamin D diyakini bisa meningkatkan sistem imun untuk melawan infeksi dan memiliki efek anti-inflamasi. Bahkan, potensinya untuk mencegah infeksi saluran pernafasan akut sudah disadari dan diteliti sejak 1930-an.

Kala itu, minyak hati ikan kod [yang mengandung vitamin D] diselidiki sebagai suplemen penangkal flu biasa,” tulis Adrian R. Martineau dan Nita G. Forouhi dalam ringkasan studinya yang terbit di jurnal The Lancet.

Meski begitu, masyarakat juga mesti hati-hati karena jika dikonsumsi berlebihan, suplemen vitamin D juga punya efek samping. Konsumsi berlebihan bisa menyebabkan penumpukan kalsium, konstipasi, diare, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, hingga gagal ginjal. Jadi, konsumsi vitamin D harus disesuaikan dengan usia dan kondisi seseorang.

Seturut beberapa penelitian yang dirangkum WebMD, konsumsi vitamin D harian yang direkomendasikan untuk usia 1-70 tahun adalah 600 IU dan 800 IU untuk usia 71 tahun . Sementara untuk bayi usia 0-12 bulan asupan harian yang dianjurkan adalah 400 IU.


Defisiensi Vitamin D di Negara Tropis

Logikanya, masyarakat di negara tropis yang berkelimpahan sinar matahari tidak akan kekurangan vitamin D. Namun, beberapa penelitian justru menunjukkan fakta sebaliknya karena penduduk wilayah tropis pun bisa mengalami kerentanan yang sama. Di bagian selatan Florida yang beriklim tropis, contohnya, sebanyak 40 persen orang tua tidak mendapat asupan vitamin D yang optimal.

Hubungan antara kurangnya paparan sinar matahari terhadap risiko defisiensi vitamin D ini terlihat dari penelitian Dian Caturini Sulistyoningrum, dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gajah Mada.

Dian melakukan riset terhadap berbagai kelompok etnis di Kanada yang beriklim dingin. Kelompok etnis yang menjadi sampel risetnya di antaranya etnis Kaukasia, Asia Timur, Asia Selatan, dan Aborigin. Hasilnya risetnya menunjukkan, orang Asia Selatan memiliki tingkat vitamin D terendah dibandingkan dengan kelompok etnis lain walaupun punya indeks massa (BMI) sama.

Fakta ini menunjukkan bahwa orang Asia Selatan dengan paparan sinar matahari yang sama dengan orang Kaukasia di negara empat musim juga bisa mengalami kekurangan vitamin D.

Tak hanya itu, Dian juga melakukan riset tentang fenomena defisiensi vitamin D di Indonesia. Dalam risetnya, Dian menggunakan sampel anak-anak berusia 15-18 tahun di 10 sekolah Yogyakarta. Hampir semua anak yang jadi sampelnya mengalami devisiensi vitamin D.

Kadar vitamin D dalam darah para remaja tersebut hanya berada di angka rata-rata 15 ng/dL. Sedangkan kadar vitamin D dalam darah sesuai standar seharusnya berada di kisaran 20 ng/dL,” tulis pihak UGM dalam rilisan terkait riset Dian.


Hal yang sama juga bisa dibaca dari riset Dina Keumala Sari dkk yang terbit dalam Asian Journal of Clinical Nutrition (2017). Dina dkk melakukan riset terhadap 292 perempuan dari Sumatera Utara dalam periode empat tahun (2012-2016). Penelitian ini mempertimbangkan aspek durasi paparan sinar matahari, pekerjaan, asupan vitamin D, tingkat aktivitas fisik, hingga indeks massa tubuh.

Hasilnya, 122 orang perempuan yang menjadi sampel mengalami defisiensi vitamin D. Sementara itu, 158 sampel berstatus insufisien (tidak cukup) dan hanya 12 sampel yang memiliki kadar vitamin D sufisien (cukup).

Tapi, tidak ada satu pun dari mereka yang nilainya normal untuk standar negara tropis,” tulis Dina dkk dalam laporan risetnya.

Lantas, mengapa penduduk negara-negara tropis seperti Indonesia bisa mengalami defisiensi vitamin D? Beberapa faktor yang bisa diajukan adalah terlalu banyak beraktivitas atau berdiam di dalam ruangan, berpakaian tertutup saat keluar rumah, pigmentasi kulit seseorang, penyakit kronis tertentu, atau juga penggunaan tabir surya.

Cara berpakaian orang Asia yang cenderung tertutup dapat mengurangi paparan sinar matahari dan mengurangi produksi vitamin D oleh kulit. Faktor risiko defisensi vitamin D lainnya adalah obesitas dan penggunaan obat-obatan tertentu,” tulis Vera, Siti Setiati, dan Arya Govinda dalam laporan risetnya yang terbit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia (2015, PDF).

Jadi, solusi untuk memenuhi kebutuhan vitamin D sesuai rekomendasi ahli kesehatan sebenarnya cukup sederhana: berjemur 15 menit selama enam hari tanpa tabir surya. Dengan berjemur, tubuh dapat memproduksi cadangan vitamin D yang cukup untuk 49 hari. Cara ini jelas lebih mudah dan murah dibanding dengan membeli sumplemen vitamin D yang harganya lumayan menguras kantong.

Berjemur di bawah sinar matahari akan mengisi setidaknya 90 persen kebutuhan vitamin D. Sisanya bisa diperoleh dari konsumsi tuna, mackerel (mackerel Spanyol dan India), salmon, telur, atau susu.


Infografik Vitamin D
Infografik Vitamin D. tirto.id/Fuad


Vitamin D dan COVID-19

Defisiensi vitamin D telah lama dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, seperti risiko gagal jantung, kekeroposan tulang, infeksi pernapasan, gigi tanggal, penyakit kardiovaskular, hipertensi, dislipidemia, intoleransi glukosa, diabetes, serta penyakit autoimun.

Ebru Biricik dan Yasemin Gunes dalam laporan risetnya yang terbit dalam Turkish Journal of Anaesthesiology and Reanimation (2015) menyimpulkan, pasien dengan defisiensi vitamin D memerlukan perawatan rumah sakit yang lebih lama. Lain itu, pasien juga berkemungkinan lebih besar mengalami kambuh dalam waktu 90 hari dan punya risiko kematian lebih tinggi. Artinya, proses pemulihan dari sakit atau operasi akan semakin cepat jika kebutuhan vitamin D tercukupi.

Oleh karena itu, beberapa kalangan menyebut vitamin D juga bermanfaat untuk mengurangi infeksi dan mempercepat kesembuhan pasien COVID-19. Benarkah demikian?

Untuk menjawabnya, Igor H. Murai dkk melakukan riset di Sao Paulo, Brasil, yang melibatkan 240 pasien rawat inap dengan COVID-19 parah. Penelitian itu dilakukan mulai 2 Juni hingga 7 Oktober 2020. Hasil riset itu menunjukkan bahwa suplemen vitamin D3 aman diberikan untuk pasien COVID-19. Namun, ia tidak mengurangi durasi perawatan di rumah sakit. Jadi, pemberian suplemen vitamin D3 tidak memberikan manfaat terapeutik bagi pasien dengan COVID-19 parah.

Uji coba ini tidak mendukung penggunaan suplementasi vitamin D3 sebagai pengobatan tambahan pasien Covid-19,” tulis Murai dkk dalam laporan riset yang terbit di medRxiv (November 2020).

Hanya saja, perlu ditekankan bahwa penelitian Murai dkk tersebut belum melalui tinjauan dan evaluasi sejawat sehingga tidak bisa digunakan untuk memandu praktik klinis.

Peluang penggunaan suplemen vitamin D untuk membantu penyembuhan pasien COVID-19 juga sempat disinggung dalam studi Martineau dan Forouhi. Mereka bersandar pada analisis dari uji coba terkontrol acak yang dilakukan pada 2007-2020. Laporan uji coba mengungkapkan efek perlindungan vitamin D terhadap infeksi saluran pernapasan akut. Artinya, ada peluang serupa untuk pengobatan infeksi COVID-19.


Namun, studi Martineau dan Forouhi juga menyebut soal sulitnya mendeteksi hubungan antara vitamin D dengan penurunan infeksi COVID-19. Kesulitan itu terkait dengan dua faktor; Pertama, pasien cenderung datang ke fasilitas kesehatan dalam fase hiperinflamasi. Banyak organ sudah terganggu dan terdapat peningkatan peradangan pada tubuh. Jadi, sudah terlambat bagi mereka mendapat manfaat antivirus dari suplementasi vitamin D.

Kedua, kadar vitamin D yang sangat kecil sulit dideteksi jika diberikan bersamaan dengan deksametason (obat antiperadangan). Deksametason memiliki kadar antiinflamasi yang kuat dan menjadi standar perawatan pada penyakit parah, termasuk COVID-19.

Singkatnya, belum ada bukti kuat yang mendukung korelasi antara vitamin D dan COVID-19. Meski begitu, vitamin D tetap bermanfaat menjaga daya tahan tubuh secara umum. Logikanya, infeksi penyakit apa pun akan lebih sulit menyerang tubuh jika imun terjaga sejak awal.

Baca juga artikel terkait VITAMIN D atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight