Menuju konten utama

IHSG Terpuruk, Investor Ritel Bertahan atau Angkat Kaki?

Bagaimana investor ritel merespons kejatuhan IHSG? Survei Tirto-Jakpat mengungkap kerugian, strategi investasi, dan kepercayaan terhadap pasar modal.

IHSG Terpuruk, Investor Ritel Bertahan atau Angkat Kaki?
Membaca Perilaku Investor di Tengah Gejolak Bursa. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumat, 16 Oktober 2026, menjadi titimangsa yang tak terlupakan bagi pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi parah sebesar 11,57 persen ke level 5.185,11. Rekor kejatuhan harian terdalam ini seketika membangkitkan memori kelam krisis moneter 1998 silam yang kala itu menyentuh 11,95 persen.

Berdasarkan catatan RTI Business, kepanikan melanda aktivitas perdagangan pada hari itu. Frekuensi transaksi melonjak hingga 2,13 juta kali, dengan 68,61 miliar lembar saham berpindah tangan dan total nilai transaksi mencapai Rp32,01 triliun. Sebanyak 775 saham ditutup di zona merah, hanya 10 saham menguat, sementara 10 lainnya tidak mengalami perubahan.

Tekanan tersebut menggenapi pelemahan IHSG sepanjang pekan perdagangan 12-16 Oktober 2026. Secara kumulatif, indeks terkoreksi 14,91 persen dari posisi pekan sebelumnya di level 6.093,759 menjadi 5.185,105. Kapitalisasi pasar BEI turut menyusut 14,43 persen atau sekitar Rp1.544 triliun, dari Rp10.701 triliun menjadi Rp9.157 triliun.

Tekanan juga terlihat dari arus modal asing. Investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp3,34 triliun pada perdagangan 16 Oktober. Sementara itu, akumulasi net sell asing sepanjang 2026 disebut telah mencapai Rp88,19 triliun.

Namun, di balik kejatuhan indeks dan derasnya arus modal keluar, ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: bagaimana kondisi investor ritel yang berada di balik angka-angka tersebut? Seberapa besar kerugian yang mereka tanggung, bagaimana mereka mengubah strategi investasi, dan apakah gejolak ini turut mengikis kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia?

Untuk menjawabnya, Tirto berkolaborasi dengan platform survei Jakpat melalui Survei Persepsi dan Perilaku Investor Ritel Pasca-Kejatuhan IHSG Oktober 2026. Survei yang dilakukan pada 21 Oktober ini melibatkan 1.250 responden dari berbagai wilayah di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 314 responden (25,14 persen) masih memiliki saham di BEI per 15 Oktober 2026 menjadi basis utama untuk memetakan dampak kejatuhan pasar terhadap investor ritel.

Lantas, seperti apa potret persepsi dan perilaku investor ritel pasca-kejatuhan IHSG Oktober 2026? Berikut ulasan lengkapnya.

Seberapa Besar Paparan dan Kerugian Investor?

Kejatuhan IHSG pada Oktober 2026 tidak hanya tercermin dalam penurunan indeks, tetapi juga dirasakan langsung oleh investor ritel yang masih memiliki saham sebelum gejolak terjadi.

Survei Tirto menunjukkan, mayoritas investor aktif dalam survei ini memiliki pengalaman investasi antara satu hingga lima tahun. Sebanyak 33,76 persen telah berinvestasi selama 2-5 tahun, sementara 29,62 persen memiliki pengalaman 1-2 tahun. Investor yang baru memasuki pasar saham kurang dari setahun mencapai 15,61 persen. Adapun mereka yang telah berinvestasi lebih dari 10 tahun hanya 3,82 persen.

Dari sisi nilai investasi, portofolio mayoritas responden juga berada di bawah Rp50 juta. Sebanyak 33,44 persen memiliki portofolio senilai Rp1 juta hingga kurang dari Rp10 juta, sedangkan 28,34 persen berada pada rentang Rp10 juta hingga kurang dari Rp50 juta. Sebanyak 16,24 persen memiliki portofolio di bawah Rp1 juta dan 14,01 persen mengelola dana Rp50 juta hingga kurang dari Rp100 juta.

Adapun investor dengan portofolio Rp100 juta atau lebih hanya mencapai 5,41 persen. Sementara itu, 2,55 persen responden mengaku menggunakan fasilitas margin sekuritas atau pinjaman, terlepas dari besarnya portofolio yang dimiliki.

Paparan kerugian terlihat cukup besar setelah kejatuhan pasar Jumat 16 Oktober 2026. Sebanyak 29,94 persen investor melaporkan nilai portofolionya turun 5-10 persen dibandingkan posisi 15 Oktober 2026. Sebanyak 26,43 persen mengalami penurunan 10-20 persen, sementara 23,89 persen mengaku kehilangan nilai portofolio hingga 20 persen atau lebih.

Dengan demikian, 80,26 persen investor yang masih memiliki saham melaporkan penurunan nilai portofolio sedikitnya 5 persen. Sebanyak 14,33 persen lainnya mengalami penurunan kurang dari 5 persen. Hanya 5,41 persen yang menyatakan nilai portofolionya tidak berubah, meningkat, atau tidak mengetahui perubahan nilainya.

Besarnya penurunan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak hanya tercermin dalam pergerakan IHSG, tetapi juga dirasakan langsung oleh sebagian besar investor ritel yang masih memiliki saham. Bahkan, hampir seperempat responden melaporkan penurunan nilai portofolio sebesar 20 persen atau lebih.

Meski demikian, angka tersebut merupakan laporan perubahan nilai portofolio berdasarkan pengakuan responden, bukan perhitungan kerugian terealisasi akibat penjualan saham. Penurunan nilai portofolio juga tidak otomatis mencerminkan kerugian permanen karena investor yang masih memegang saham belum tentu telah merealisasikan kerugiannya.

Setelah Pasar Jatuh, Investor Memilih Apa?

Ketika nilai portofolio menyusut, investor dihadapkan pada sejumlah pilihan: menjual saham untuk membatasi kerugian, bertahan sambil menunggu pemulihan, atau memanfaatkan penurunan harga untuk menambah kepemilikan.

Survei Tirto menunjukkan, mayoritas investor memilih tidak melakukan transaksi. Sebanyak 64,97 persen responden menerapkan strategi wait and see dengan menahan saham yang dimiliki. Sementara itu, 14,65 persen memilih melakukan average down atau membeli saham tambahan ketika harga turun.

Di sisi lain, 11,15 persen responden melakukan cut loss dengan menjual sebagian atau seluruh saham. Sebanyak 7,01 persen mengalihkan dana ke instrumen investasi lain, sedangkan 1,59 persen memilih menarik seluruh dana dan beristirahat dari pasar saham. Adapun 0,64 persen memberikan jawaban lain.

Dominasi strategi wait and see menunjukkan bahwa mayoritas investor ritel tidak langsung meninggalkan pasar saham setelah kejatuhan IHSG. Meski demikian, keputusan mempertahankan kepemilikan tidak serta-merta mencerminkan keyakinan terhadap pemulihan pasar. Sebagian investor mungkin masih menunggu perkembangan situasi sebelum menentukan langkah berikutnya.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai dominasi sikap tersebut merupakan kombinasi antara kehati-hatian dalam mengelola risiko portofolio dan masih terbatasnya keyakinan investor terhadap arah pemulihan pasar.

Menurutnya, dalam kondisi volatilitas tinggi, investor cenderung menghindari keputusan investasi yang terlalu agresif karena masih menghadapi ketidakpastian mengenai stabilitas IHSG, arah aliran dana asing, perkembangan evaluasi MSCI, serta efektivitas reformasi regulator.

"Namun, sikap pasif yang berlangsung terlalu lama juga berpotensi menunjukkan adanya confidence gap, yaitu kesenjangan antara ekspektasi investor terhadap pemulihan pasar dan tingkat kepercayaan mereka terhadap kondisi fundamental maupun tata kelola bursa," ujar Nafan saat membaca hasil survei kolaborasi Tirto dengan Jakpat, Jumat (30/10/2026).

Lantas, apa yang mendasari keputusan investor dalam menghadapi kejatuhan pasar?

Hasil survei menunjukkan, analisis teknikal dan fundamental untuk mencari saham yang dinilai berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) menjadi pertimbangan paling banyak disebut, yakni 59,55 persen. Sementara itu, 51,59 persen responden menyebut upaya menjaga likuiditas dan mengamankan dana dari kemungkinan risiko yang lebih besar.

Kekhawatiran terhadap isu degradasi MSCI dan stabilitas pasar turut menjadi pertimbangan 23,89 persen responden. Sebanyak 14,97 persen mempertimbangkan masukan influencer, komunitas, atau media, sedangkan 14,01 persen menyebut kepanikan psikologis akibat penurunan mendadak sebagai salah satu alasan pengambilan keputusan.

Karena responden diperbolehkan memilih maksimal dua jawaban, alasan-alasan tersebut tidak bersifat saling eksklusif. Seorang investor dapat sekaligus mempertimbangkan peluang membeli saham yang harganya turun dan kebutuhan menjaga likuiditas untuk mengantisipasi risiko lanjutan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, sebagian investor juga mempertimbangkan instrumen lain untuk mengelola risiko. Dalam survei, emas atau logam mulia menjadi pilihan yang paling banyak disebut sebagai tujuan pengalihan dana, yakni 45,86 persen.

Sementara itu, 27,07 persen memilih SBN, deposito, atau reksa dana pasar uang. Sebanyak 10,83 persen menyimpan dana dalam bentuk tunai di RDN atau rekening bank, 6,37 persen beralih ke aset kripto, dan 9,87 persen menyatakan tidak memindahkan dana karena tetap berada di pasar saham.

Nafan menilai kecenderungan tersebut menunjukkan adanya penyesuaian alokasi aset atau rebalancing portofolio menuju instrumen yang dinilai lebih defensif di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.

Menurutnya, emas menjadi pilihan untuk melindungi nilai aset dari risiko geopolitik, pelemahan nilai tukar, dan inflasi. Sementara itu, SBN dan deposito dinilai menawarkan stabilitas serta imbal hasil yang lebih terukur.

Namun, perpindahan dana tersebut belum tentu menandakan investor kehilangan minat terhadap pasar saham domestik secara permanen. Nafan melihatnya lebih sebagai strategi sementara untuk mengurangi risiko volatilitas.

"Fenomena ini belum tentu mencerminkan hilangnya daya tarik pasar saham domestik secara permanen, tetapi lebih menunjukkan bahwa investor sedang melakukan penyesuaian alokasi aset atau rebalancing portofolio untuk mengurangi risiko volatilitas" jelasnya.

Ia menambahkan, pasar saham domestik masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian kebijakan, tekanan arus modal asing, pelemahan rupiah, hingga persoalan transparansi dan tata kelola.

Namun, apabila reformasi pasar modal berjalan efektif dan fundamental emiten tetap solid, saham berpotensi kembali menarik minat investor karena menawarkan peluang keuntungan modal (capital gain) dan dividen dalam jangka panjang.

Apakah Kejatuhan Pasar Memengaruhi Kondisi Psikologis Investor?

Kejatuhan IHSG tidak hanya berdampak pada nilai portofolio, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis investor. Ketidakpastian pergerakan harga membuat sebagian pelaku pasar semakin sering memantau aplikasi investasi, bahkan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Survei Tirto mencatat, 43,63 persen investor mengaku cukup cemas sehingga lebih sering membuka aplikasi investasi dibandingkan biasanya. Sebanyak 16,56 persen lainnya masuk kategori sangat cemas, dengan intensitas memantau layar secara terus-menerus hingga mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Dengan demikian, 60,19 persen responden mengaku mengalami kecemasan yang disertai peningkatan intensitas pemantauan aplikasi investasi.

Sementara itu, 31,53 persen menyatakan tetap memantau pasar secara berkala tanpa merasa panik. Hanya 8,28 persen yang mengaku santai dan jarang membuka aplikasi karena lebih berfokus pada investasi jangka panjang.

Temuan ini memperlihatkan bahwa keputusan untuk bertahan di pasar saham tidak selalu mencerminkan ketenangan investor. Sebagian memang memilih menahan kepemilikan, tetapi tetap dibayangi kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan harga lebih lanjut.

Gambaran kecemasan tersebut juga terlihat dalam percakapan publik di media sosial. Analisis Drone Emprit merekam tingginya respons negatif masyarakat terhadap kejatuhan pasar saham Indonesia hingga 17 Oktober 2026.

Dari lebih dari 21.000 percakapan dengan total 51 juta engagement, sebanyak 67 persen percakapan tercatat bernada negatif. Sentimen negatif paling tinggi ditemukan di platform X atau Twitter, mencapai 79 persen. Angkanya mencapai 63 persen di Instagram dan 52 persen di Threads.

Sementara itu, percakapan di media online dan YouTube lebih banyak didominasi sentimen netral, masing-masing sebesar 55 persen dan 62 persen.

Analisis emosi publik Drone Emprit juga menunjukkan bahwa rasa takut (fear) menjadi emosi yang paling dominan, dengan proporsi mencapai 39 persen.

"Emosi publik paling tinggi itu nadanya adalah takut," ungkap Peneliti Drone Emprit, Rizal Nova Mujahid, kepada Tirto, Rabu (21/10/2026).

Menurut Rizal, ketakutan tersebut terutama berkaitan dengan kemungkinan Indonesia diturunkan statusnya menjadi Standalone Market dan dampak lanjutan yang dikhawatirkan muncul dari perubahan klasifikasi tersebut.

"Takut apa? Pertama, takut tentu saja karena diturunkan jadi standalone. Yang kedua, takut pada dampaknya... ini akan mengurangi nilai tukar rupiah yang melemah, lalu berdampak pada tidak banyak beredarnya dolar di Indonesia karena penanaman modal berkurang, biaya ekspor dan produksi naik, dan pada ujungnya adalah ketidakmampuan masyarakat untuk mengakses barang-barang," terangnya.

Siapa yang Membentuk Keputusan Investor?

Di tengah situasi krisis dan ketidakpastian pasar, informasi menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi keputusan investasi. Investor tidak hanya mengandalkan pergerakan harga saham, tetapi juga mencari penjelasan mengenai penyebab kejatuhan dan prospek pemulihan pasar.

Survei Tirto menunjukkan, pengumuman resmi BEI dan OJK serta pemberitaan media arus utama menjadi kanal informasi yang paling banyak memengaruhi keputusan investor, yakni 57,01 persen. Riset analis sekuritas menempati posisi berikutnya dengan 48,09 persen. Sementara itu, 26,75 persen responden mengaku dipengaruhi percakapan di komunitas Telegram, WhatsApp, maupun media sosial.

Influencer saham dan kreator konten finansial memengaruhi 20,38 persen responden. Adapun 22,29 persen menyebut diskusi dengan teman atau keluarga maupun analisis mandiri sebagai salah satu sumber pertimbangan.

Temuan ini menunjukkan bahwa informasi dari institusi formal dan analis profesional masih menjadi rujukan utama investor ketika menghadapi gejolak pasar. Meski begitu, ruang digital informal juga memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk persepsi dan keputusan investasi.

Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya komunikasi yang cepat, konsisten, dan mudah dipahami dari otoritas pasar modal. Ketika informasi resmi tidak cukup menjawab kekhawatiran investor, ruang digital dapat menjadi tempat berkembangnya spekulasi maupun narasi yang belum tentu terverifikasi.

Apakah Kepercayaan terhadap Pasar Modal Ikut Runtuh?

Salah satu persoalan yang mengemuka setelah kejatuhan IHSG adalah kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar modal. Penurunan harga saham mungkin dapat dipandang sebagai risiko investasi, tetapi persoalannya menjadi lebih serius ketika investor mulai mempertanyakan transparansi, pengawasan, dan keadilan dalam perdagangan saham.

Survei Tirto menunjukkan, penilaian investor terhadap penanganan stabilitas dan transparansi pasar oleh OJK dan BEI saat kejatuhan IHSG masih didominasi jawaban netral. Sebanyak 35,99 persen responden menilai penanganan kedua lembaga tersebut biasa saja, sedangkan 22,29 persen memberikan penilaian cukup baik.

Namun, ketidakpuasan juga terlihat cukup besar. Sebanyak 21,66 persen responden menilai penanganan OJK dan BEI kurang baik dan kurang transparan. Sementara itu, 9,87 persen menyatakan penanganan tersebut sangat buruk hingga kehilangan kepercayaan.

Jika digabungkan, 31,53 persen responden memberikan penilaian negatif terhadap penanganan kedua otoritas tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa hampir sepertiga investor yang disurvei belum puas terhadap respons regulator ketika gejolak pasar terjadi.

Menanggapi temuan tersebut, Nafan menilai proporsi investor yang memberikan penilaian negatif merupakan sinyal yang perlu menjadi perhatian serius regulator. Menurutnya, kepercayaan investor merupakan salah satu fondasi utama stabilitas pasar modal, terutama ketika pasar menghadapi tekanan.

"Oleh karena itu, OJK dan BEI perlu memperkuat transparansi, akuntabilitas, serta konsistensi komunikasi kepada publik, khususnya terkait pengawasan transaksi saham, penegakan hukum terhadap praktik manipulasi pasar, keterbukaan informasi emiten, dan penyelesaian berbagai persoalan tata kelola," ujar Nafan.

Jika Status Pasar Indonesia Berubah, Apa yang Akan Dilakukan Investor?

Di tengah tekanan pasar, evaluasi MSCI terhadap klasifikasi Indonesia menjadi salah satu sumber ketidakpastian yang turut diperhatikan investor. Perubahan status dari Emerging Market menjadi Standalone Market berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar saham Indonesia, termasuk pertimbangan alokasi dana oleh investor institusional yang menggunakan indeks sebagai acuan investasi.

Survei Tirto mencoba memetakan bagaimana investor ritel akan merespons apabila MSCI resmi menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market.

Hasilnya, sebanyak 30,25 persen responden menyatakan akan mengurangi porsi saham hingga di bawah 30 persen dari total portofolio. Sebanyak 23,57 persen mengaku belum memutuskan dan memilih menunggu perkembangan situasi.

Sementara itu, 16,88 persen justru berencana memanfaatkan penurunan harga sebagai momentum buy the dip. Sebanyak 15,29 persen menyatakan tidak akan melakukan perubahan dan tetap mempertahankan sahamnya. Adapun 14,01 persen secara tegas menyatakan akan keluar sepenuhnya dari pasar saham Indonesia.

Jika digabungkan, 44,26 persen responden menyatakan akan mengurangi atau mengakhiri kepemilikan saham di pasar domestik apabila skenario tersebut terjadi. Sementara itu, 32,17 persen berencana tetap bertahan atau justru memanfaatkan momentum penurunan harga untuk membeli saham. Sisanya, 23,57 persen belum menentukan langkah.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI dapat memunculkan respons yang beragam di kalangan investor ritel. Sebagian memilih mengurangi eksposur terhadap saham domestik, sementara kelompok lain masih melihat peluang investasi di tengah penurunan harga.

Bagi Nafan, kepercayaan investor terhadap pasar domestik akan sangat bergantung pada kemampuan otoritas memperbaiki persoalan struktural yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Perbaikan tersebut, menurutnya, harus mencakup peningkatan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen, penguatan klasifikasi investor, pengawasan konsentrasi kepemilikan, pemenuhan ketentuan free float, serta penegakan aturan terhadap transaksi yang tidak wajar.

"Pasar membutuhkan bukti implementasi yang konsisten, bukan sekadar pengumuman kebijakan," ujarnya.

Nafan juga mengingatkan investor untuk mengutamakan perlindungan modal dan menjaga likuiditas di tengah ketidakpastian. Menurutnya, investor tidak seharusnya terburu-buru membeli saham hanya karena harganya telah turun tajam.

"Menurut saya, persoalan utama IHSG saat ini bukan sekadar seberapa jauh indeks akan turun, melainkan seberapa cepat kepercayaan investor dapat dipulihkan. Pemerintah dan otoritas perlu membuktikan bahwa transparansi, tata kelola, disiplin fiskal, dan kepastian regulasi benar-benar menjadi prioritas. Tanpa pembenahan yang kredibel, saham yang terlihat murah belum tentu cukup menarik untuk mendorong investor kembali masuk ke pasar Indonesia," ucapnya.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Decode
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Alfitra Akbar