Hobi Melancong Generasi Milenial

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 6 November 2016
Dibaca Normal 2 menit
Pariwisata merupakan industri yang sangat menjanjikan sekaligus menantang. Pergerakannya sangat dinamis, sedikit perubahan yang terjadi, entah itu kondisi politik ataupun ekonomi, dapat berpengaruh pada industri tersebut. Begitu pun bila objek industrinya berbeda generasi. Kini, generasi millenial memegang kuncinya.
tirto.id - "Kemarin aku habis dari Rinjani ini seminggu," kata AK kepada temannya ketika ia diajak untuk mendaki gunung tersebut akhir tahun ini beberapa waktu yang lalu.

Ketika ditanya bersama siapa ia mendaki, AK menjawab, "Berdua sama temanku. Kita rencananya sudah lama sih sebenarnya. Nah, kebetulan waktunya pas, berangkat deh. [...] kita ga pakai guide, soalnya cuma bawa barang bawaan dikit. Selain itu ga enak kalau pakai guide, kurang private."

AK, yang saat ini berusia 27 tahun tersebut, adalah satu dari jutaan orang muda dari generasi yang saat ini sangat mendominasi industri pariwisata di dunia, yakni generasi milenial. Apa yang disuarakan oleh AK itu boleh jadi merupakan preferensi yang mampu mewakili cara pandang berbeda generasi milenial dalam memandang pengalaman turisme saat ini.

ThinkDigital.Travel, lembaga think thank turisme, mengatakan, generasi milenial merupakan generasi yang menganggap diri mereka memiliki sebuah hak yang hakiki sejak lahir, yaitu hak untuk melakukan perjalanan atau travelling. Tidak heran kemudian generasi M ini kemudian menjadi salah satu pilar dari industri turisme modern.

Hasil penelitian lembaga riset industri pariwisata Phocuswright, menegaskan asumsi tersebut. Menurut Phocuswright, Generasi M merupakan generasi yang paling sering melakukan perjalanan di antara kelompok umur yang lainnya.

Mereka diperkirakan secara bertahap akan menghabiskan lebih banyak dana untuk layanan wisata dibandingkan dengan kelompok usia lainnya selama 12 bulan ke depan. Pada 2020, generasi ini akan mewakili setengah dari semua perjalanan yang ada.

Di sisi lain, menurut hasil penelitian The Boston Consulting Group, seiring dengan semakin menuanya generasi Baby Boomer, pengeluaran mereka terhadap biaya perjalanan akan berkurang hingga menjadi hanya sekitar 16 persen pada tahun 2020, dan menjadi 11 persen pada tahun 2025.

Seperti dikutip dari ThinkDigital.Travel, generasi M tidak mencari merek mewah atau mobil mahal. Sebaliknya, mereka mencari pengalaman, sesuatu hal yang dapat memperkaya kehidupan mereka. Statistik menunjukkan bahwa 6 dari 10 dari mereka lebih suka menghabiskan uang mereka pada pengalaman daripada hal-hal material.

Sebagai catatan, lembaga pariwisata PBB The World Tourism Organization (UNWTO) mengatakan, industri pariwisata pada paruh pertama tahun ini tumbuh positif, dengan tingkat kedatangan turis internasional tumbuh sebesar 4 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Asia Pasifik, yang saat ini menjadi salah satu primadona tujuan wisata generasi M, mencatat pertumbuhan kedatangan internasional sebesar 9 persen, merupakan yang tertinggi di seluruh dunia. Tingkat pertumbuhan kunjungan internasional di wilayah tersebut dipimpin oleh kawasan Oceania dengan tingkat pertumbuhan 10 persen, disusul kawasan Asia Timur Laut dan Asia Tenggara dengan masing-masing 9 persen, serta Asia Selatan dengan 7 persen.

Destinasi Sub-Sahara Afrika menjadi destinasi yang mengalami pertumbuhan tertinggi kedua, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5 persen. Destinasi ini mengalami rebound yang cukup besar setelah pada periode sebelumnya mencatat pertumbuhan minus 3,1 persen.

Tren positif ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang sisa tahun ini, mengingat biasanya hasil semester I/2016 ini merepresentasikan sekitar 46 persen dari total tingkat kunjungan internasional tahunan.

Infografik Generasi M  Jalan-jalan


Menyenangkan Generasi M

Dengan tingkat kunjungan internasional yang terus tumbuh positif, industri pariwisata kemudian menjadi salah satu sektor yang sangat menjanjikan bagi negara yang mau menggarapnya dengan serius. Bagaimana menyediakan pengalaman wisata menarik bagi generasi M kemudian menjadi kunci untuk terus mengembangkan industri pariwisata tersebut, mengingat mereka ke depan akan merepresentasikan porsi terbesar dalam kue pelancong yang ada.

Roberta Esposito, Digital Marketing Lead Digital Tourism Think Thank, berpendapat, setidaknya terdapat empat karakteristik generasi milenial. Pertama, mereka mencari destinasi wisata yang autentik, sebuah tempat yang mampu memberikan pengalaman orisinil serta bersifat lokal. Mereka tidak mau menjadi turis, tetapi mau ikut merasakan apa yang masyarakat lokal rasakan.

Yang kedua, generasi M ketika melakukan perjalanan wisata sangat menghargai tantangan baru, lingkungan baru dan selalu mencari sesuatu yang berbeda sehingga menjadi sebuah pengalaman seumur hidup bagi mereka.

Ketiga, lanjut Roberta, mereka menyukai pilihan. Ketika mereka memutuskan untuk ikut dalam sebuah paket wisata, apa yang mereka lihat kemudian adalah adanya opsi yang sangat terbuka untuk melakukan penyesuaian yang sesuai dengan karakter personal mereka. Personalisasi menjadi kata kunci dalam hal ini.

Terakhir, ia mengatakan jika generasi M merupakan generasi dengan tingkat keterlibatan online yang sangat tinggi, sehingga penginapan yang indah secara visual dan nyaman – atau tujuan wisata yang memuaskan dahaga mereka akan pengalaman liburan yang menyenangkan – akan mendapat paparan gratis di akun sosial media mereka. Sebuah langkah marketing yang patut dipertimbangkan oleh pengelola pariwisata mana pun di dunia.

"[Generasi] Milenium terkoneksi 24/7 dan mereka mendokumentasikan segala sesuatu di media sosial, terutama perjalanan mereka. Mereka ingin berbagi cerita online secara real-time," katanya.

Tren inilah yang kemudian ditangkap dengan cepat oleh Airbnb. Pada awal tahun ini, tepatnya pada bulan April, mereka meluncurkan sebuah video kampanye baru yang berjudul "Don’t Go There. Live There."

Chief Executive Officer (CEO) Airbnb Brian Chesky mengatakan, peluncuran video tersebut adalah untuk memperkenalkan sejumlah produk baru yang mampu membuat para pelancong merasakan bagaimana menjadi atau pengalaman hidup orang lokal di tempat mereka berpergian.

Beberapa fitur baru tersebut di antaranya adalah Guidebooks yang berisikan rekomendasi orang-orang lokal terhadap tempat-tempat yang ditawarkan pada kota yang para pelancong tersebut kunjungi.

AirBnb telah menangkap tren industri pariwisata tersebut. Kini saatnya pemerintah untuk lebih serius mengadopsi hal-hal serupa seperti yang telah dilakukan oleh Airbnb, untuk semakin menggenjot industri pariwisata di Tanah Air.

Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
Artikel Lanjutan
DarkLight