Menuju konten utama

Hidup Baru Perpustakaan Nyi Ageng Serang: Ruang untuk Semua

Perpustakaan modern memperluas makna literasi yang tidak lagi berhenti pada aktivitas membaca.

Hidup Baru Perpustakaan Nyi Ageng Serang: Ruang untuk Semua
Ruang baca Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Putri Az Zahra
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Rabu pagi (8/7/2026), langkah saya berhenti tepat di depan gedung Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan. Dari luar, fasad bangunannya tidak lagi menghadirkan kesan gedung yang sunyi dan kaku. Deretan dinding kaca besar membuat cahaya matahari masuk ke ruang baca dengan leluasa.

Sementara itu, pengunjung yang berlalu-lalang membawa laptop, tas kerja, hingga buku catatan memberi kesan ruang publik modern yang hidup. Melangkah masuk melewati gerbang elektronik, akan terlihat rak buku melengkung membingkai ruang baca. Tak hanya koleksi buku, perpustakaan ini juga memiliki ruang audio dengan koleksi piringan hitam, ruang pamer sejarah Jakarta, hingga area kerja lengkap dengan meja, colokan listrik, dan koneksi internet.

Suasana interior perpustakaan yang diresmikan pembukaannya oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada Selasa (7/7/2026) itu membuyarkan prasangka lama saya akan perpustakaan yang identik dengan rak-rak buku sunyi dan pencahayaan redup.

Saya mencoba menjelajahi setiap sudut perpustakaan yang sempat vakum sejak 2020 karena Pandemi COVID-19 ini. Di Ruang Sejarah, layar digital menceritakan perjalanan Jakarta dari masa ke masa. Tak jauh dari sana, beberapa pengunjung bergantian mendengarkan musik melalui headphone yang terhubung ke turntable.

Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang

Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Putri Az Zahra

Di area baca, beberapa pengunjung larut dalam kesibukannya masing-masing. Mahasiswa sibuk mengetik tugas, seorang pekerja membuka laptop untuk rapat daring, sementara anak-anak membaca buku ditemani orang tuanya.

Saya kembali menyusuri rak-rak buku yang tersusun rapi. Koleksi bukunya beragam, mulai dari sastra, sejarah, psikologi, hingga buku-buku rilisan terbaru. Menurut Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perpustakaan ini memiliki lebih dari 55 ribu koleksi buku.

Perpustakaan Nyi Ageng Serang pun kini beroperasi hingga pukul 22.00 WIB. Pemustakan yang membutuhkan asupan bacaan atau tempat nyaman untuk bekerja jadi punya kesempatan lebih luas untuk mengakses ruang publik ini.

Ruang Publik, Ruang Kolaborasi

Saya memilih duduk di dekat jendela. Dari tempat itu, saya bisa melihat hampir seluruh aktivitas di ruangan Perpustakaan Nyi Ageng Serang. Tidak ada suara keras. Yang terdengar hanyalah ketikan keyboard, langkah kaki pengunjung, dan sesekali bisik-bisik pelan antarteman.

Di antara pengunjung itu, Evy, seorang pekerja yang memanfaatkan skema work from home, mengaku sengaja memilih bekerja dari perpustakaan.

"Perpustakaannya gratis, fasilitasnya lengkap. Banyak colokan, ada ruang kerja, ruang meeting, jadi lebih nyaman dibanding harus ke coffee shop," ujar Evy.

Menurutnya, perpustakaan seperti Perpustakaan Nyi Ageng Serang ini kini bukan lagi tempat yang hanya didatangi kalangan pencinta buku. Anak-anak, mahasiswa, hingga orang tua kini memanfaatkan ruang yang sama untuk belajar, bekerja, maupun sekadar membaca.

Sementara itu, Fitria, seorang mahasiswi (19) mengaku baru pertama kali berkunjung ke Perpustakaan Nyi Ageng Serang. Baginya, desain interior perpustakaan ini adalah daya tarik utama.

"Tempatnya nyaman, lighting-nya bagus, rak bukunya juga menarik. Aku juga baru pertama kali coba dengar musik dari piringan hitam. Menarik banget," katanya sambil tersenyum.

Fitria menilai perpustakaan dengan desain modern seperti ini membuat lebih banyak anak muda tertarik datang, bahkan untuk mengerjakan tugas atau bekerja.

Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang

Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, Rabu (8/7/2026). tirto.id/Putri Az Zahra

Percakapan-percakapan singkat itu membuat saya menyadari bahwa sebagian besar pengunjung datang bukan semata-mata untuk meminjam buku. Mereka memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar, bekerja, berdiskusi, bahkan sekadar mencari suasana nyaman.

Perpustakaan Nyi Ageng Serang membuktikan bahwa perpustakaan sangat bisa menjadi wadah ragam aktivitas warga dan bahkan menjadi ruang kolaborasi. Fungsinya kini tak lagi terbatas hanya sebagai gedung penyimpanan koleksi buku.

Pakar Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menilai perubahan tersebut penting bagi kota besar seperti Jakarta. Menurutnya, perpustakaan dapat berfungsi sebagai third place, yakni ruang pertemuan di luar rumah dan tempat kerja.

"Perpustakaan bisa menjadi tempat ketiga bagi masyarakat. Di sana, orang dapat berinteraksi lintas generasi, bukan sekadar datang untuk membaca buku," ujarnya.

Trubus menambahkan ruang seperti ini dapat mengurangi individualisme warga kota sekaligus memperkuat budaya pengetahuan jika diisi dengan kegiatan edukatif dan dikelola secara profesional.

Pandangan serupa disampaikan Regina Ardelia, Duta Baca Depok 2025. Menurutnya, perpustakaan modern memperluas makna literasi yang tidak lagi berhenti pada aktivitas membaca.

"Perpustakaan sekarang bukan hanya tempat yang sunyi untuk membaca, tetapi juga ruang belajar, berdiskusi, dan bertukar gagasan. Yang penting fungsi utamanya sebagai pusat pengetahuan tetap dipertahankan," kata Regina.

Regina berharap perpustakaan semakin aktif berkolaborasi dengan komunitas, sekolah, kampus, dan pegiat literasi agar menjadi ruang yang hidup setiap hari. Keberadaan ruang seperti ini menurutnya penting di kota besar seperti Jakarta yang membutuhkan lebih banyak ruang publik gratis, nyaman, dan mudah diakses.

Revitalisasi Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang sendiri merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta menghadirkan fasilitas publik yang lebih inklusif. Gubernur Pramono menyebut perpustakaan diharapkan menjadi ruang yang terbuka bagi seluruh Masyarakat.

Kehadiran perpustakaan modern juga menjadi relevan di tengah tantangan literasi Indonesia. Perpustakaan Nasional mencatat Indeks Tingkat Kegemaran Membaca nasional 2025 berada di angka 54,8 yang masih termasuk kategori rendah.

Oleh karena itulah, diperlukan ruang publik yang mampu menarik masyarakat untuk lebih dekat dengan aktivitas membaca dan belajar.

*****

Kursi-kursi di area baca Perpustakaan Nyi Ageng Serang hampir seluruhnya terisi. Sebagian pengunjung masih tenggelam di balik buku, sebagian lainnya mengetik di depan laptop atau berdiskusi dengan teman. Menjelang sore, jumlah barisan pengunjung di luar justru semakin bertambah memenuhi pintu masuk elektronik.

Saya menutup kunjungan hari itu dengan satu kesan yang berbeda dari bayangan saya tentang perpustakaan. Bahwa buku bukan lagi satu-satunya alasan bagi orang datang ke perpustakaan.

Di Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang, saya melihat bagaimana sebuah perpustakaan menjelma menjadi ruang yang mempertemukan belajar, bekerja, berdiskusi, dan membangun komunitas. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, perpustakaan ini bukan sekadar tempat membaca, melainkan ruang publik yang memberi kesempatan bagi siapa saja untuk berhenti sejenak, menemukan ide baru, dan kembali menumbuhkan kebiasaan belajar.

Baca juga artikel terkait PERPUSTAKAAN atau tulisan lainnya dari Putri Az Zahra

tirto.id - News Plus
Reporter: Putri Az Zahra
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi