tirto.id - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menegaskan pemerintah terus berupaya memenuhi hak-hak anak, terutama hak memperoleh pendidikan yang layak dan lingkungan belajar yang berkualitas. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang menyasar anak-anak dari keluarga rentan.
Hal itu disampaikan Gus Ipul saat menjadi narasumber dalam Talkshow Spesial Hari Anak Nasional di TV One bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, pakar neurosains dr. Ryu Hasan, Sp.BS, serta tokoh publik sekaligus pemerhati anak Shahnaz Haque pada Senin (20/7/2026) malam.
Menurut Gus Ipul, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru dalam upaya melindungi anak. Karena itu, pemerintah terus memperkuat perlindungan, pendampingan, hingga rehabilitasi bagi anak-anak yang membutuhkan.
"Dengan adanya kemajuan teknologi, tantangan-tantangan kita dalam rangka memberikan perlindungan, pendampingan, dan tadi juga kadang-kadang juga dibutuhkan rehabilitasi. Ini menjadi hal yang penting," ujar Gus Ipul merujuk keterangan resmi pada Selasa (21/7/2026).
Ia mengatakan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah memberi perhatian khusus kepada keluarga rentan, terutama kelompok desil 1 dan desil 2 yang belum sepenuhnya merasakan manfaat pembangunan.
"Bagaimana kita mempersiapkan keluarga-keluarga rentan, di desil 1, desil 2, keluarga yang belum beruntung, keluarga yang belum terbawa dalam proses pembangunan. Salah satu pekerjaan rumah besar bangsa kita hari ini adalah masalah ketimpangan," katanya.
Momentum Hari Anak Nasional, lanjut Gus Ipul, menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dalam lingkungan yang aman dan berkualitas, di tengah berbagai tantangan seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, hingga pengaruh negatif lainnya.
"Secara khusus hari ini dalam kaitannya dengan Hari Anak, kita ingin anak-anak kita ke depan ini memperoleh pendidikan dengan lingkungan berkualitas. Ini pekerjaan rumah besar kita di tengah-tengah tantangan kekinian yang luar biasa. Ada pergaulan bebas, ada narkoba, ada hal-hal lain yang membuat anak-anak memperoleh lingkungan yang tidak berkualitas," ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masih terdapat hampir empat juta anak yang belum sekolah, tidak sekolah, putus sekolah, maupun berpotensi putus sekolah. Untuk menjangkau mereka, pemerintah menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai sekolah berasrama yang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin tanpa melalui seleksi akademik.
"Maka itulah sekarang kita ini sedang bekerjasama agar bagaimana bisa menjangkau seluruh anak-anak kita memperoleh pendidikan yang baik, pendidikan dengan lingkungan yang berkualitas," kata Gus Ipul.
"Salah satunya adalah Sekolah Rakyat. Ini adalah sekolah berasrama, tidak ada tes akademik, tapi menjangkau anak tidak sekolah, belum sekolah, putus sekolah. Sehingga mereka ini diharapkan memperoleh pendidikan yang baik sehingga masa depannya lebih baik," lanjutnya.
Gus Ipul menjelaskan, mayoritas orang tua siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga kurang mampu dengan tingkat pendidikan rata-rata lulusan sekolah dasar. Melalui program tersebut, pemerintah berharap para siswa mampu memutus rantai kemiskinan sekaligus menjadi agen perubahan bagi keluarga dan lingkungannya.
"Ini adalah hal yang kita kerjakan bersama dengan Bu Arifah, dengan kementerian lain, banyak sekali kementerian yang terlibat dan ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di era Bapak Presiden Prabowo ini," ujarnya.
Di akhir kesempatan, Gus Ipul menegaskan pemerintah terus berupaya menyelesaikan berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi anak-anak Indonesia melalui program-program yang tepat sasaran.
"Kita jujur dan terbuka bahwa memang masih ada bansos yang belum tepat sasaran. Kita jujur dan terbuka banyak anak-anak kita yang belum sekolah, belum memperoleh perlindungan, belum memperoleh pendampingan, dan untuk itu harus dicarikan solusi," tuturnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































