Menuju konten utama

Gus Ipul Ajak Tokoh Lintas Agama Dukung Layanan Difabel Terpadu

Mensos Gus Ipul menyatakan berbagai aspek dalam pelayanan untuk kaum difabel ke depan perlu dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif.

Gus Ipul Ajak Tokoh Lintas Agama Dukung Layanan Difabel Terpadu
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat menghadiri Diskusi Terpumpun ‘Sosialisasi Fiqih Disabilitas Psikososial’ di Gedung Cawang Kencana Kemensos, Jakarta Timur, Rabu (17/9/2025). Dalam kesempatan ini Gus Ipul mengajak para tokoh lintas agama memperkuat sinergi mewujudkan layanan disabilitas yang menyeluruh. (FOTO/dok. Kemensos)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Sosial (Kemensos) memperkuat sinergi dengan Komisi Nasional Disabilitas (KND) dan para tokoh lintas agama untuk mewujudkan layanan komprehensif bagi kaum difabel. Pelayanan yang dimaksud mencakup rehabilitasi terpusat, mewujudkan lingkungan ramah difabel, hingga memberikan edukasi terkait isu-isu disabilitas kepada publik.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), mengatakan terdapat tiga aspek utama dalam layanan difabel. Ketiganya adalah pencegahan; penanganan terstruktur untuk mengatasi hambatan; dan perlindungan beserta jaminan sosial, rehabilitasi, serta pemberdayaan bagi kaum difabel.

Gus Ipul berharap ketiga aspek layanan tersebut ke depan dapat diberikan secara terpadu dan terpusat.

"Kita ingin [layanan bagi difabel] ini menyeluruh, bagaimana pencegahannya, bagaimana perlindungannya, bagaimana rehabnya," kata Gus Ipul.

Pemaparan itu disampaikan Gus Ipul dalam Diskusi Terpumpun (FGD) bertajuk "Sosialisasi Fiqih Disabilitas Psikososial" di Gedung Cawang Kencana Kemensos, Jakarta Timur, Rabu (17/9/2025).

Forum tersebut dihadiri sejumlah tokoh seperti Wakil Ketua Komisi Disabilitas Nasional Deka Kurniawan, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Istimewa Yogyakarta Hilmy Muhammad, Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Sarmidi Husna, Perwakilan Pusat Rehabilitasi Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) Yogyakarta, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Dalam acara yang sama, Gus Ipul pun menyinggung fungsi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dalam mendukung penguatan layanan bagi kaum difabel.

"Ini memang perintah Presiden, namanya Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional [DTSEN]. Jadi penyandang disabilitas itu sudah masuk dalam desil, perangkingan [di DTSEN]. Jadi ada penyandang disabilitas yang kaya, memang ada yang cukup secara ekonomi, ada yang mungkin juga masih kekurangan gitu. Nah, ini yang mungkin nanti menjadi pertimbangan kita dalam mengambil keputusan," kata dia.

Merujuk pada DTSEN, saat ini terdapat 15 juta warga difabel yang masuk dalam desil 1-10. Mereka dikelompokan sesuai dengan jenis disabilitasnya seperti fisik, mental, dan lainnya.

"Ada fisik, mental, intelektual, sensorik rungu, sensorik wicara, sensorik netra, ganda atau multi. Nah ini sudah kelihatan di sini, semuanya kira-kira 15 juta ini totalnya, yang semua sudah terbagi dalam desil," ujar Gus Ipul.

Pengelompokan data ini membantu menentukan sasaran pelayanan yang sesuai kebutuhan. Menurut Gus Ipul, data tersebut juga sudah mulai diintegrasikan.

"Nah ini datanya sudah mulai kita konsolidasi, kita rapikan, dan nanti tentu pada akhirnya kita fokus pada mereka yang di desil 1, 2, 3, dan 4, memang ini perlu kita perjelas dalam rangka layanan ini," kata dia.

Dalam forum tersebut, Gus Ipul juga mendorong tokoh-tokoh agama untuk berperan aktif dalam memberikan edukasi atau penyadaran pada publik terkait layanan bagi difabel. Hal itu bisa disampaikan melalui berbagai forum keagamaan.

"Sehingga [pemuka] agama terlibat, bukan hanya KND, tapi semua terlibat dalam melayani penyandang disabilitas," lanjut dia.

Komisioner Komnas Perempuan, Bahrul Fuad yang akrab disapa Cak Fu, menimpali dengan menyatakan bahwa pelayanan difabel perlu berfokus kepada aspek internal sekaligus faktor eksternal, yakni lingkungan yang aksesibel.

"Yang sebenarnya menjadi persoalan yang dihadapi oleh teman-teman disabilitas itu justru ada di luarnya, yaitu lingkungan yang tidak aksesibel dan juga sikap atau cara pandang masyarakat," kata Cak Fu.

Oleh karena itu, Cak Fu berharap pelayanan terhadap kaum difabel ke depan memberikan perhatian yang lebih besar pada faktor eksternal. Maka itu, edukasi publik menjadi penting.

"Kami berharap bahwa ada sedikit cara penanganan yang berbeda, melihat disabilitas ini yaitu dengan lebih masif melakukan edukasi publik, edukasi terhadap masyarakat bagaimana mereka memandang dan memperlakukan saudara-saudara kita, kami ini yang disabilitas," ujar dia.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis