Menuju konten utama

Gubernur BI Prediksi Kenaikan Suku Bunga The Fed Hingga 2019

"Tahun ini sudah 3 kali. Kemudian Desember naik lagi suku bunga dan tahun depan 2 kali, serta 2020 sekali," papar Perry.

Gubernur BI Prediksi Kenaikan Suku Bunga The Fed Hingga 2019
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memberikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur tambahan di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (30/5/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan.

tirto.id -

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, berbicara soal penyebab lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam diskusi bertajuk 'Rezim Devisa dan Strategi Menghadapi Pelemahan Rupiah' yang diselenggarakan fraksi Golkar di Kompleks DPR RI Senayan, Rabu (3/10/2018).

Ia menjelaskan, terpuruknya rupiah ke level terendah sejak kemarin disebabkan tiupan angin global yang sulit dibendung. Salah satu faktornya adalah kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, The Fed.

Ia memperkirakan, kenaikan itu masih akan berlanjut hingga 2019. "Tahun ini sudah 3 kali. Kemudian Desember naik lagi suku bunga dan tahun depan 2 kali, serta 2020 sekali," papar Perry di Gedung DPR, Rabu (3/10/2018).

Kenaikan suku bunga itu menyebabkan mata uang negara-negara lain di dunia mengalami tekanan nilai tukar dan menempatkan dolar ke dalam posisi terkuat.

Di Indonesia, kemarin, kurs spot rupiah melemah 0,89% ke level terendahnya sejak Juli 1998 di Rp 15.043 per dolar AS. Kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) juga terkikis 0,56% menjadi Rp 14.988 per dolar AS.

"Dengan suku bunga naik, sementara yang lain belum naik, ya wajar investor global dari negara berkembang termasuk Indonesia kembali ke AS," terangnya.

Meski dirinya, Perry mengaku bahwa pihaknya masih terus memantau pergerakan rupiah. Hingga saat ini, Perry optimistis bahwa pelemahan rupiah tidak menimbulkan kenaikan harga.

"Meski pertumbuhan 5% kapasitas ekonomi masih cukup jadi tidak sebabkan tekanan harga," imbuh Perry.

Baca juga artikel terkait SUKU BUNGA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Maya Saputri