8 Agustus 1963

Great Train Robbery: Aksi Persekutuan Para Pencuri Berpengalaman

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah, tirto.id - 8 Agu 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Kereta api dengan 12 gerbong disatroni para perampok. Mereka menggondol 120-an karung berisi uang tunai dengan total 2-3 juta poundsterling.
tirto.id - James Miller adalah masinis senior perusahaan kereta api Royal Mail. Pada Rabu, 7 Agustus 1963, ia diminta untuk memimpin pengantaran surat dari Glaslow ke London yang berangkat pada pukul 18.50. Kereta terdiri dari 12 gerbong dan membawa 72 staf kantor pos.

Kereta diperkirakan akan menempuh perjalanan selama sembilan jam hingga tiba keesokan harinya di Stasiun Euston, London, pukul 04.00. Miller sudah beberapa kali melewati rute ini. Dan bagi perusahaan kereta api, rute Glaslow-London sudah dilalui sejak tahun 1830-an.

Dari 12 gerbong yang dibawanya, ada satu gerbong yang dikategorikan high value packet (HVP) alias paket bernilai tinggi. Dalam gerbong HVP itu terdapat 120-an karung berisi uang tunai dengan total 2-3 juta poundsterling (setara 50 juta poundsterling di zaman sekarang). Miller khawatir uang itu akan dirampok di tengah jalan. Memang keamanan kereta api sudah ditingkatkan, tetapi peluang perampokan tetap ada.

Ketika jarum jam tepat di angka 18.50, kereta pun berangkat dari Glaslow. Sepanjang menempuh perjalanan 600 km, kereta akan singgah di beberapa stasiun untuk menaruh dan membawa surat. Awalnya perjalanan berjalan lancar. Hingga pergantian hari pun tidak ada keanehan, termasuk indikasi kemunculan perampok.

Namun satu jam menjelang pemberhentian terakhir, nasib buruk menimpa Miller dan stafnya. Pukul 03.00 dini hari di sekitar London, kereta Royal Mail disantroni perampok dengan cara cukup cerdik.

Miller melakukan pengereman mendadak karena melihat sinyal kereta api yang terpampang di pinggir rel berwarna merah. Sesuai dengan aturan umum, jika sinyal menunjukkan warna merah, maka kereta harus berhenti. Ia meminta asistennya, David Whitby, untuk turun dan melakukan kontak ke stasiun melalui telepon darurat yang berada di samping tiang sinyal.

Namun, Whitby terkejut ketika hendak melakukan panggilan.

“Kabelnya sudah dipotong,” teriak Whitby kepada Miller.

Miller langsung curiga. Dan benar saja, ketika Whitby berbalik menuju kereta, dua orang tak dikenal yang memakai tutup kepala tiba-tiba muncul dari semak-semak dan menyergap asisten masinis itu.

“Saya tidak bisa mendeteksi kalau ada orang di sana karena tidak ada pencayahaan. Saya pun langsung tumbang berlumuran darah karena ditikam besi oleh salah satunya. Perampokan pun terjadi,” ujar Miller, dikutip dari The Great Train Robebry: The Untold Story (2013) karya Andrew Cook.


Suasana langsung mencekam. Rasa panik terlihat jelas pada wajah seluruh staf di dalam kereta. Miller masih mengingat bahwa saat itu ada seorang pelaku yang hendak menjalankan kereta, tetapi tidak kunjung berhasil. Alhasil, orang itu meminta Miller menjalankan kereta meski kondisinya sudah tak berdaya.

Kereta kembali berjalan sampai ratusan meter dan berhenti di sebuah jembatan. Di situlah seluruh perampok muncul. Mereka berjumlah 15 orang dan semuanya menggunakan seragam tentara. Para perampok membuka paksa gerbong yang berisi jutaan poundsterling dan memindahkan satu per satu karung berisi uang ke dalam truk.

Mobil itu diparkir di jalan tepat di bawah jembatan dan dicat mirip kendaraan militer. Kamuflase ini untuk memudahkan pergerakan pelaku usai perampokan dan menghindari kecurigaan. Sebab, wilayah perampokan berada di kawasan militer.

Aksi itu berlangsung kurang dari satu jam. Pada pukul 03.45 seluruh perampok berhasil melarikan diri bersama jutaan uang tunai. Inilah salah satu perampokan terbesar dalam sejarah Inggris.

Seluruh korban tidak bisa langsung melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Seluruh layanan komunikasi terdekat yang terletak di sepanjang rel sudah diputus oleh para perampok. Peristiwa ini baru diketahui pukul 04.20 setelah kereta barang yang melewati Royal Mail melaporkan situasi buruk ini ke pihak stasiun. Dari sini, berita perampokan pun tersiar ke seluruh London.

Pada awalnya, polisi kesulitan mencari pelaku. Saat itu teknologi seperti CCTV belum lazim digunakan di tiap sudut kota. Mengutip The Great Train Robbery and the Metropolitan Police Flying Squad (2015) karya Geoff Platt, saat itu cara menemukan pelaku adalah dengan mewawancarai saksi, identifikasi sidik jari, dan menunggu laporan warga yang kelak yang menjadi kunci penangkapan tersangka perampokan.

Salah seorang warga yang tinggal 50 km dari lokasi kejadian melaporkan bahwa ada kendaraan mencurigakan yang berada di ladang miliknya. Saat polisi memeriksanya, ditemukan banyak makanan dan jejak penting lain, yakni karung pembawa uang. Polisi langsung mengidentifikasi sidik jari pada jejak-jejak itu. Tidak lama kemudian pelaku berhasil diketahui.

Delapan hari setelah perampokan, kepolisian berhasil menangkap pelaku sekaligus dalang di balik aksi tersebut bernama Bruce Reynolds. Penangkapan ini kemudian merembet ke belasan pelaku lainnya. Pada 1964, pengadilan menjatuhkan vonis terhadap 15 pelaku. Mereka menerima hukuman terendah 25 tahun, dan tertinggi 30 tahun kurungan penjara.


Infografik Mozaik Aksi Perampokan di Kereta Api
Infografik mozaik Aksi Perampokan di Kereta Api. tirto.id/Quita


Para Pencuri Berpengalaman

Hal menarik dalam kasus ini adalah pemikiran Reynolds dalam merancang dan mengeksekusi perampokan berskala besar itu. Di kepolisian, ia tercatat dalam daftar hitam. Reynolds berulang kali keluar masuk penjara karena kerap mencuri barang antik di London. Setahun sebelum perampokan, ia baru keluar dari bui.

Ia dan anak buahnya yang tergabung dalam geng South West bekerja sama dengan Gordon, pencuri yang terkenal di London, serta Edwards pemimpin geng South East. Kerja sama ini membentuk kelompok besar yang didalamnya berisi para pencuri berpengalaman.

Reynolds mengetahui kereta api kerap membawa uang dalam jumlah besar. Ia segera meminta informasi dari orang dalam perusahaan kereta api tentang jadwal, jumlah uang tunai, penumpang, dll. Setelah itu, dilakukan pembagian tugas dan pematangan rencana.

Untuk menghentikan kereta, timnya akan melakukan sabotase sinyal dengan menutup sinar warna hijau menggunakan kertas hitam. Lalu komplotannya akan membawa lampu berwarna merah untuk mengelabui masinis. Mereka juga telah menyiapkan jalur pelarian dan rumah singgah untuk ditempati usai beraksi.

Rancangan itu dalam pelaksanaannya berjalan lancar dan sesuai rencana. Perampokan yang dikenal sebagai Great Train Roberry ini hanya gagal di tahap akhir saat pembubaran kelompok. Jika mereka tidak singgah lebih lama di ladang milik warga, maka seluruh aksi akan benar-benar berjalan lancar dan mereka aman dari kejaran polisi.

Baca juga artikel terkait PERAMPOKAN atau tulisan menarik lainnya Muhammad Fakhriansyah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Muhammad Fakhriansyah
Penulis: Muhammad Fakhriansyah
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight