Johny Indo Pemimpin Geng Perampok Pachinko

Mantan Narapidana di Nusakambangan, Johny Indo. Tirto.ID/Sabit
Oleh: Petrik Matanasi - 6 Januari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Bersama kawanan rampoknya, Johny Indo beraksi ketika tentara sedang apel militer. Kawanannya menggasak berkilo-kilo emas di Jakarta. Dia kemudian dipenjara, jadi bintang film, juga menjadi dai.
Wajah Johny tak secerah langit Jakarta pada pagi 20 September 1977 itu. Tiga orang kawannya sedang bertamu di rumahnya, kawasan Mangga Dua, kala itu. Mereka menunggu sesuatu dengan harap-harap cemas. Salah seorang kawan memperhatikan jam tangannya dan bertanya, “bagaimana sudah siap?”

Johny melirik ketiga kawannya dan mengangguk. Segera mereka keluar dari rumah sambil menjinjing tas berisi senapan mesin ringan Thompson. Di pinggang Johny terselip pistol Smith & Wesson kaliber 32. Senjata-senjata itu terisi penuh.

Setelah merampas sebuah sedan Corolla yang biasa dijadikan taksi gelap, empat sekawan pimpinan Johny itu tak lupa membuang sopirnya di sekitar Bogor. Dari sana, mereka bergerak ke sebuah toko emas di daerah Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta.

Johny menyuruh seorang kawannya berjaga di mobil, sementara dia dan dua orang lainnya menyerbu toko. Johny yang terbiasa membaca cerita laga macam Nick Carter segera mengancam pelayan toko dan melepaskan dua peluru.

“Angkat tangan! Jangan Teriak! Nanti saya tembak!” ancamnya sambil menodong pelayan toko hingga ketakutan. Dua kawannya merusak etalase kaca dan menggasak isi toko hingga ludes. Begitu selesai, mereka langsung kabur ke arah Kebayoran Baru.

Tiba di sana, ketiga kawannya disuruh turun dan kembali ke Mangga Dua. Ketiganya naik taksi dengan membawa Thompson dalam sebuah tas, sementara emas jarahan diamankan Johny. Mobil rampasan yang sebelumnya dipakai lantas ditinggalkan di depan sebuah rumah. Johny memastikan tak ada sidik jarinya pada mobil itu.

Dengan menumpang bis kota, Johny pulang ke Mangga Dua. Dia masih begitu cemas, takut ketahuan anak dan istrinya. Di rumahnya, ketiga kawannya berkumpul mereka menyusun cara aman menjual 2 kg emas gasakan mereka. Emas itu lalu dibeli beberapa tukang tadah yang berbeda di Senen, Tanjung Priok, dan Jakarta Kota.

Begitulah gambaran mengenai perampokan perdana Johny Indo yang ditulis Willy Angelicus Hangguman dalam Johny Indo: Tobat dan Harapan (1990). Tiga bulan kemudian, sebuah rencana perampokan toko emas dirancang lagi. Tentu saja mereka berhati-hati, apalagi polisi dan pemilik toko emas semakin waspada.

Di masa Orde Baru, tentara sering berpatroli atau berkeliaran di sekitar kawasan niaga sehingga Johny selalu mengingatkan kawannya: “Perampokannya harus dilakukan bertepatan dengan apel militer itu.”

Pada perampokan kedua, tanggal 3 Januari 1978 di Roxy, Johny enggan ikut. Alasannya, jeda perampokannya terlalu dekat. Hanya dua kawannya yang beraksi, dan satu dari mereka sedang membutuhkan uang. Dua kawan Johny itu berhasil menggasak 4 kg.

Johny yang merasa was-was dengan aksi kedua kawannya memantau dari jarak 50 meter toko emas yang dirampok. Kebetulan, Johny melihat dua tentara berkeliaran dengan sepeda motor. Ia segera menembakkan pistol ke udara sebagai tanda bahaya. Akhirnya mereka kabur dan lolos lagi.

“Ia tidak pernah membunuh siapapun ketika merampok toko emas,” tulis Garry dalam buku Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (2008). “Keberhasilan merampok toko emas di Roxy membuat kawanan Johny Indo makin percaya diri.”

Pengikutnya pun bertambah banyak. Kelompok perampoknya disebutnya sebagai Pasukan China Kota alias Pachinko. Sejak aksi perdana 20 September 1977 hingga awal 1979, kawanan mereka belum terendus oleh aparat berwajib yang terus mengejar mereka. Padahal, perampokan yang mereka lakoni kerap jadi bahan pemberitaan.

Di rumah, istri Johny agak heran dengan uang dari Johny yang terlampau banyak untuk ukuran fotomodel. Sehari-harinya, istrinya hanya tahu Johny yang berwajah tampan itu sebagai bintang iklan. Pada 19 Mei 1978, misalnya, Johny syuting iklan obat batuk Bronthicum yang dibintanginya. Pada 28 Januari 1979, tiga hari setelah merampok emas di toko emas Garuda, Johny dihubungi Inter Vista Advertising Ltd, untuk membintangi iklan rokok Ardath Special.

Meski lama selalu lolos, akhirnya Johny ketahuan juga. Salah seorang anggota komplotannya tertangkap ketika hendak menjual emasnya di Berlan, Jalan Matraman Raya. Dari mulut anggota komplotan itu, nama Johny Indo sebagai pemimpin perampok pun terbongkar. Ia pun jadi buronan.

Polisi berhasil menangkapnya pada 26 April 1979. Setelah meringkuk di tahanan, pada 17 Desember 1979, Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan hakim Bismar Siregar menjatuhkan hukuman sepuluh tahun penjara kepada Johny atas kepemilikan senjata api. Sementara, untuk kasus perampokannya, hakim Heru Gunawan menjatuhkan 4 tahun padanya pada 31 Maret 1980. Total, dia harus 14 tahun meringkuk di penjara. Semula di Cipinang, lalu pindah ke Nusa Kambangan.



Seperti Henky Tupanwael, Johny pernah berusaha melarikan diri pada Mei 1982. Aksi melarikan diri itu melibatkan 34 narapidana, dan Johny disebut sebagai pemimpinnya. Mereka menjadi bahan pemberitaan dan diancam ditembak di tempat. Foto Johny terpampang di koran, dan rumah istrinya jadi sasaran penggeledahan polisi.

Namun, Johny sebenarnya masih di sekitar Nusa Kambangan. Setelah bertahan 12 hari di sekitar hutan bakau, Johny akhirnya menyerahkan diri.

Kisah pelarian Johny itu kemudian menginspirasi sebuah film berjudul Johny Indo, Kisah Nyata Seorang Narapidana (1987). Setelahnya, Johny juga bermain di beberapa film lainnya. Dia tak lagi jadi pemeran figuran seperti di masa-masa ia menjadi fotomodel dahulu. Menurut Garry van Klinken, restu untuk bermain film itu didapat dari Menteri Kehakiman Ismail Shaleh.

Selama dipenjara, seperti ditulis Willy dalam buku yang diterbitkan Sinar Harapan pada 1990 itu, Johny akrab dengan pendeta. Dia berusaha menjadi Kristen yang baik. Namun, belakangan, Johny Indo justru menjadi dai. Pria bernama asli Johanes Hubertus Eijkenboom ini punya nama Islam: Umar Billah. Dia suka sekali pada sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab.

Baca juga artikel terkait SERI PERAMPOK atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight