Menuju konten utama

Global Fatty Liver Day 2026 Serukan Deteksi Dini Perlemakan Hati

Penyakit perlemakan hati sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala pada tahap awal.

Global Fatty Liver Day 2026 Serukan Deteksi Dini Perlemakan Hati
(kiri ke kanan) dr. Siti Nadia Tarmizi (Kemenkes RI), Prof. Dr. dr. Rino Alvani Ganni,Sp.PD-KGEH, dr. Dicky Levenus Tahapary,Sp.PD-KEMD, PhD, dr. Riyanny Meisha Tarliman (Novo Nordisk) dalam acara diskusi Global Fatty Liver Day di Jakarta. Foto: Ryandro Prayoga Daromi/Tirto.id.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Kesehatan RI bersama Novo Nordisk Indonesia menggaungkan seruan "Act Now" dalam rangka memperingati Global Fatty Liver Day 2026. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit perlemakan hati (fatty liver) dan keterkaitannya yang erat dengan obesitas.

Penyakit perlemakan hati sering kali berkembang secara diam-diam tanpa gejala pada tahap awal. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi yang dikenal sebagai MASLD (Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease) ini dapat memburuk menjadi MASH (peradangan hati), hingga memicu fibrosis, sirosis, dan kanker hati.

Obesitas Jadi Pemicu Utama

Direktur PTM Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, memperingatkan bahwa obesitas merupakan tantangan kesehatan serius yang menjadi pemicu utama fatty liver.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada penduduk dewasa usia di atas 18 tahun telah mencapai 23,4%, sedangkan angka obesitas sentral pada penduduk usia 15 tahun ke atas sudah menyentuh 36,8%.

"Obesitas dikenal sebagai 'mother of all chronic diseases' karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi kesehatan. Kami mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi dini sebelum kondisi berkembang lebih jauh," ujar dr. Nadia di Jakara.

Pendekatan Medis Komprehensif

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes, dr. Dicky Levenus Tahapary, Sp.PD-KEMD, PhD, menegaskan bahwa obesitas adalah kondisi medis kronis yang kompleks, bukan sekadar masalah kemauan individu.

Kelebihan lemak tubuh, terutama lemak viseral, dapat memicu resistensi insulin dan gangguan metabolik yang berdampak pada organ penting seperti hati, jantung, dan pembuluh darah.

"Tujuan tatalaksana obesitas bukan hanya menurunkan angka berat badan, tetapi juga mendukung quality weight loss dan kesehatan metabolik jangka panjang," jelas dr. Dicky.

Ia menambahkan, jika terapi farmakologi seperti berbasis GLP-1 dipertimbangkan, pemilihannya harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien serta manfaatnya terhadap jantung dan pembuluh darah.

Sebagai bentuk komitmen, Associate Director Medical & Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menyatakan pihaknya terus menyediakan inovasi terapi GLP-1 RA untuk manajemen berat badan serta mengedukasi masyarakat melalui situs NovoCare.id agar penanganan dapat dilakukan secara medis bersama tenaga kesehatan.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT atau tulisan lainnya dari Ryandro Prayoga Daromi

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Ryandro Prayoga Daromi
Editor: Addi M Idhom