Mozaik

Gempa Bumi dan Tsunami Menghantam Maluku di Masa Silam

Reporter: Omar Mohtar, tirto.id - 23 Jan 2024 00:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Berjarak dua seperempat abad, dua gempa besar dan tsunami menggulung wilayah Maluku pada abad ke-17 dan 19.
tirto.id - Terletak di titik pertemuan tiga lempeng besar dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia, membuat Indonesia akrab dengan gempa bumi.

Bila pembaca mengikuti akun X Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (@infoBMKG), cuitan informasi tentang gempa bumi yang mengguncang daerah-daerah di Indonesia kerap muncul.

Selain karena pergerakan tiga lempeng, gempa bumi di Indonesia juga terjadi karena aktivitas vulkanik serta aktivitas patahan atau sesar yang banyak tersebar.

Jauh di masa lampau, gempa bumi yang disertai tsunami atau smong beberapa kali menggungcang Tanah Air, termasuk di Maluku, yang terjadi pada abad ke-17 dan 19.


Lindu 1674 dan Kematian Keluarga Rumphius

Latief Hamzah, Nanang T. Puspito, dan Fumihiko Imamura dalam "Tsunami Catalog and Zones in Indonesia" yang terbit pada Journal of Natural Disaster Science (Vol. 22, 2000), menyebut sejak 1600 hingga 1995 telah terjadi 105 tsunami di Indonesia dengan berbagai macam penyebab, termasuk karena gempa bumi.

Dari 105 tsunami itu, sebagian besar terjadi di Indonesia bagian timur, yaitu di sekitar Busur Banda dan Laut Maluku. Satu di antaranya terjadi pada 17 Februari 1674 yang melanda Pulau Ambon.


Peristiwa ini tertulis dalam salah satu karya seorang naturalis, Georg Eberhard Rumphius yang berjudul Amboina (1675).

"Saat bulan bersinar terang antara jam 19.30 dan jam 20.00, terjadi sebuah gempa bumi yang sangat keras melanda seluruh Pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya," tulis Marlon Ririmasse dari catatan Rumphius dalam "Bencana Masa Lalu di Kepulauan Maluku: Pengetahuan dan Pengembangan Bagi Studi Arkeologi," yang terbit dalam Amerta, Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi (Vol.32, No. 2, 2014).

Guncangan yang kuat membuat penduduk terkejut dan merusak beberapa bangunan di Ambon dan sekitarnya.

Setelah guncangan mereda dan masih banyak penduduk yang mencoba menyelamatkan diri, mereka kembali dikejutkan dengan datangnya gelombang air dari laut.

"… Akan tetapi, sayang sekali tidak seorang pun menduga bahwa air akan naik tiba-tiba ke beranda benteng. Air itu sedemikian tinggi hingga melampaui atap rumah dan menyapu bersih desa," tulis Hamzah Latief, Ardito M. Kodijat, Dominic Oki Ismoyo, dkk, dari catatan Rumphius dalam Air Turun Naik di Tiga Negeri, Mengingat Tsunami Ambon 1950 di Hutumuri, Hative Kecil, dan Galala (2016).

Setelah itu, banyak bangunan di Ambon yang rusak. Beberapa desa yang berada di pesisir disapu oleh gelombang air yang naik. Korban jiwa berjatuhan, termasuk istri dan anak Rumphius.


Tsunami 1899, Air Menyerbu Darat Setinggi 9 Meter

225 tahun setelahnya, pada penghujung abad ke-19, daerah di sekitar Busur Banda kembali diguncang gempa bumi yang diikuti dengan tsunami. Peristiwa itu terjadi pada dini hari tanggal 30 September 1899, saat sebagian besar penduduk Seram dan sekitarnya masih terlelap tidur.

"Dini hari tanggal 30 September tahun lalu, warga Seram dikejutkan oleh gempa bumi yang terjadi pada sekitar pukul 1.40," tulis Rogier Diederik Marius Verbeek, geolog Belanda dalam Aard- en Zeebeving op Ceram (1900).

Masih terkejut karena guncangan yang cukup besar, penduduk kembali dikejutkan dengan naiknya air laut.

Verbeek yang saat itu berada di sekitar Seram, juga mencatat mengenai naiknya air laut beberapa saat setelah guncangan. Menurutnya, ketinggian air laut yang naik ke darat berkisar antara 1,7 hingga 9 meter. Bahkan karena guncangan ada pantai yang kemudian longsor ke dalam laut.

Guncangannya dirasakan di beberapa wilayah seperti di Sulawesi bagian utara. Guncangan yang kuat menimbulkan kerusakan dan gelombang air laut yang naik secara tiba-tiba membuat banyak korban jiwa berjatuhan.

Infografik Mozaik Gempa Bumi dan Tsunami di Maluku
Infografik Mozaik Gempa Bumi & Tsunami di Maluku Tempo Dulu. tirto.id/Mojo


Menurut Marlon Ririmasse (2014), dampak gempa ini masif, merusak wilayah Seram bagian selatan, seperti Poulohi, Samasuru, dan Teluk Elpaputih.

Sementara itu, Hamzah Latief, Ardito M. Kodijat, Dominic Oki Ismoyo, dkk (2016), mencatat berbagai kerusakan yang dilaporkan. Di Waisamu, satu gereja rusak dan tanah retak dapat ditemui di banyak tempat.

Di Kawa dan Boano-Serani, gempa bumi merusak satu gereja dan membuat 12 rumah roboh. Di Boano-Islam, satu masjid dilaporkan rusak dan dua rumah runtuh. Korban jiwa dalam bencana ini menurut Verbeek menyentuh angka sekitar 3.000 orang.

Kabar mengenai bencana ini segera sampai ke Batavia. Pemerintah kemudian membentuk satu komite untuk membantu para korban.

"Panitia ini terdiri dari beberapa anggota, seperti J. Van Oldenborgh (Residen Ambon), A. Van Wetering, R. W. F. Kyftenbelt, Baermayer v. Barienkhoven, R. A. De Boer, J N. M. Van Der Ham, J. H. Van Aart, J. A. Tanasale, Njio Seng Bic, Syekh Hadie bin Salim Basalama, dan J. G. W. Lux," tulis De Locomotief edisi 30 Desember 1899.

Panitia ini segera mengadakan pertemuan dan membahas mengenai bantuan apa saja yang diperlukan untuk mengurangi penderitaan para korban dan berapa dana yang dibutuhkan. Banyak bantuan yang mengalir untuk para korban bencana di Seram.

Menurut catatan De Locomotief edisi 18 Desember 1899, dana yang diterima oleh komite berjumlah 31.374.98 gulden. Banyak kalangan yang memberikan donasi, termasuk Ratu Emma yang memberikan bantuan dana sebesar 600 gulden.

Baca juga artikel terkait MOZAIK atau tulisan menarik lainnya Omar Mohtar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Omar Mohtar
Penulis: Omar Mohtar
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight