Gelar Lebaran di Rumah, Novel Ceritakan Pengobatan Mata Kirinya

Oleh: Felix Nathaniel - 17 Juni 2018
Dibaca Normal 1 menit
Novel Baswedan disiram air keras pada April 2017 lalu.
tirto.id - Penyidik KPK Novel Baswedan melaksanakan Lebaran di kediamannya setelah pada tahun sebelumnya harus menjalani pengobatan mata di rumah sakit Singapura usai disiram air keras pada April 2017 lalu.

Saat menyambut perwakilan dari Wadah Pegawai KPK di rumahnya kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Novel mengaku pengobatan mata kirinya sudah selesai.

Menurut Novel, proses pengobatan matanya sudah berjalan lancar. Namun, ia harus menjalani kontrol kesehatan matanya lagi di Singapura sekitar akhir bulan Juni nanti.

"Pengobatan mata kiri saya sudah selesai untuk menempatkan organ buatan atau organ artificial di mata saya," ungkap Novel, Minggu (17/6/2018).

Sejak mengalami insiden penyiraman air keras pada 11 April 2017 lalu, dokter fokus untuk melakukan pengobatan pada mata kiri Novel. Operasi di mata kiri didahulukan karena lukanya lebih besar daripada mata kanan.

Kendati kondisi mata kanannya lebih baik, namun tetap sulit dipakai untuk membaca. Terkait kondisi mata kanannya ini, Novel mengaku masih bisa dipakai untuk melihat jarak jauh, tetapi tidak jelas.


Apabila dipakai untuk melihat “orang” berjarak satu meter saja, pengelihatan mata kanannya masih buram.

"Saya lihat saudara-saudara sekalian seperti berkabut. Padahal di Jakarta tidak berkabut kan?" katanya sambil tersenyum dan ditimpali tawa wartawan.

Novel berharap, kondisinya bisa segera pulih. Ia juga masih belum mengetahui kapan ia akan aktif kembali di KPK. Namun, ia akan segera memutuskan untuk kembali bekerja usai mata kirinya sudah bisa dipakai membaca.

"Sekarang ini saya bisa melihat sendiri di mata kiri dan tentunya masih ditunggu beberapa kontrol karena saraf di mata kiri saya masih lemah. Walau kemungkinan kalau digunakan kacamata untuk membaca, mata kirilah yang diharapkan bisa digunakan untuk membaca," ujarnya lagi.

Hingga sekarang, pelaku penyiraman air keras terhadap Novel belum juga ditemukan. Meskipun berbagai pihak telah mendesak untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) sebagai solusi, namun Presiden Joko Widodo tak mau merealisasikannya.


Langkah tersebut juga menimbulkan tanda tanya dari berbagai kalangan: seberapa serius upaya pemerintah menyelesaikan kasus pelanggaran HAM? Termasuk dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

Bahkan, bukan kali ini saja Novel menerima ancaman, sebelumnya penyidik senior KPK ini juga pernah berkali-kali mengalami intimidasi, mulai dari ancaman pembunuhan sampai aksi tabrak lari.

Baca juga artikel terkait NOVEL BASWEDAN DISIRAM AIR KERAS atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Alexander Haryanto
* Data diambil dari 20 top media online yang dimonitor secara live