Menuju konten utama
Edusains

Gegara Moyang 200 Juta Tahun Silam, Kepiting Berjalan Menyamping

Sendi-sendi kepiting seolah "dari sananya" memang hanya bisa berjalan menyamping. Tapi, akar evolusi gerak kepiting bermula sejak ratusan juta tahun silam.

Gegara Moyang 200 Juta Tahun Silam, Kepiting Berjalan Menyamping
ilustrasi kepiting. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - "Mengapa kepiting berjalan menyamping?" pertanyaan itu mungkin terkesan seperti pertanyaan bocah sekolah dasar atau bahkan taman kanak-kanak. Secara anatomis, pertanyaan tersebut memang bisa dengan mudah dijawab.

Luis Villazon, ahli zoologi yang menulis untuk BBC Science Focus, pernah menjawab pertanyaan "sederhana" tersebut. Dia menulis:

"Kepiting memiliki bentuk tubuh lebar dan pipih sehingga mudah menggali ke dalam pasir atau masuk ke celah-celah sempit, tetapi (bentuk tubuh itu) juga membatasi jangkauan gerak sendi 'bahu' di setiap kakinya. Kepiting sebenarnya dapat bergerak perlahan ke depan, tetapi mereka bergerak jauh lebih cepat dengan menekuk sendi kedua setiap kakinya. Sendi-sendi ini adalah engsel sederhana, seperti lutut kita, dan hanya menekuk ke samping."

Meskipun pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan mudah dengan menilik anatomi kepiting, ada satu pertanyaan lebih mendalam yang memerlukan riset lebih serius: mengingat kepiting sebenarnya juga bisa bergerak maju, seperti kata Villazon, lantas mengapa pergerakan mereka didominasi gerakan menyamping?

Belum lama ini, jawaban dari pertanyaan tersebut berhasil ditemukan oleh sekelompok peneliti dari Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat (AS), yang dipimpin oleh Junya Taniguchi. Temuan itu dimuat dalam eLife dengan judul "Evolution of sideways locomotion in crabs".

Para peneliti mengumpulkan 50 spesies kepiting dari berbagai tempat, mulai dari kawasan pasang surut, akuarium publik, hingga pasar ikan. Setiap kepiting direkam selama 10 menit di dalam arena plastik berbentuk lingkaran yang disesuaikan dengan habitat alami masing-masing spesies. Ada yang diisi air laut; ada yang tawar; ada juga yang cukup dengan pasir kering.

Dari rekaman video tersebut, tim peneliti mengukur arah pergerakan setiap kepiting secara cermat. Mereka menggunakan matriks yang mereka sebut Forward-Sideways Index (FSI), menunjukkan seberapa dominan seekor kepiting bergerak maju atau menyamping. Jika angka FSI mendekati +1, berarti kepiting itu hampir selalu bergerak maju. Jika mendekati -1, berarti kepiting itu bergerak menyamping hampir sepanjang waktu.

Hasilnya, dari 50 spesies yang diamati, 35 di antaranya bergerak menyamping dan 15 bergerak maju. Yang menarik, hampir tidak ada kepiting yang berada di posisi tengah-tengah. Kepiting yang bergerak maju memiliki nilai FSI rata-rata 0,82, sedangkan yang menyamping bernilai rata-rata -0,80. Itu berarti, pergerakan maju dan menyamping adalah dua mode pergerakan yang benar-benar berbeda, bukan spektrum yang memiliki tingkatan.

Setelah data perilaku terkumpul, para peneliti menggabungkannya dengan pohon filogenetik kepiting, yaitu sebuah peta besar yang menunjukkan hubungan kekerabatan di antara ratusan spesies kepiting berdasarkan analisis genetik. Dengan cara itu, mereka bisa menelusuri kapan dan di mana pergerakan menyamping pertama kali muncul dalam sejarah evolusi kepiting.

Setelah ditelusuri, jawabannya terdapat di sebuah peristiwa tunggal, 200 juta tahun lalu. Pergerakan menyamping, menurut temuan Taniguchi dan kawan-kawan, hanya mengalami satu kali evolusi. Peristiwa itu terjadi di pangkal kelompok yang disebut Eubrachyura, yaitu kelompok kepiting "sejati" yang lebih maju secara evolusioner dibanding lainnya.

Dalam taksonomi ilmiah, kepiting sejati adalah kelompok yang masuk dalam infraordo Brachyura. Mereka berbeda dari krustasea lain yang hanya terlihat mirip kepiting secara penampilan.

Kepiting sejati mencakup sebagian besar spesies kepiting yang kita kenal sehari-hari, mulai dari kepiting bakau, kepiting batu, hingga kepiting fiddler yang terkenal dengan capit asimetris. Saat ini ada 7.904 spesies kepiting sejati yang sudah teridentifikasi, jauh melampaui kelompok saudara mereka, Anomura (sekitar 3.437 spesies) dan Astacidea (792 spesies).

Kepiting sejati juga berhasil menjajah berbagai habitat di seluruh dunia, mulai dari hutan tropis, sungai, hingga dasar laut yang gelap.

Sebagai perbandingan, ada beberapa krustasea yang sering dikira kepiting sejati, padahal bukan. King crab (kepiting raja) dan coconut crab (ketam kelapa), misalnya, masuk dalam kelompok Anomura dan secara evolusioner lebih dekat dengan udang kelapa dan kepiting porselen. Bentuk tubuh mereka mirip kepiting karena hasil karsinisasi, proses ketika berbagai kelompok krustasea yang tidak berkerabat dekat secara terpisah dan berulang-ulang berevolusi menjadi tampak serupa.

Menurut para peneliti itu, dominasi jumlah dan persebaran kepiting sejati berpengaruh terhadap cara kepiting berjalan. Mereka berargumen, pergerakan menyamping adalah inovasi kunci dalam evolusi, yang membuka pintu menuju peluang ekologis baru. Ketika seekor kepiting bisa bergerak cepat ke kiri maupun ke kanan dengan sama lihainya, ia menjadi jauh lebih sulit ditangkap oleh pemangsa karena pergerakannya sulit diprediksi.

Yang membuat temuan tersebut bisa dibilang menarik adalah kontrasnya dengan karsinisasi. Karsinisasi terjadi berulang kali di banyak garis keturunan yang berbeda, sedangkan pergerakan menyamping hanya berevolusi sekali. Bahkan king crab dan coconut crab, yang sudah berhasil "menjadi kepiting" secara penampilan, tetap tidak ikut bergerak menyamping.

Lalu, bagaimana dengan 15 spesies kepiting sejati yang bergerak maju dalam penelitian itu?

Para peneliti menemukan bahwa ada setidaknya enam garis keturunan kepiting sejati yang, setelah leluhurnya berhasil berevolusi bergerak menyamping, kembali lagi ke pergerakan maju secara independen. Fenomena ini disebut reversi, atau langkah balik dalam evolusi.

Salah satu contoh dari kelompok yang melakukan reversi ini adalah soldier crab (Mictyris), kepiting yang dikenal karena suka bergerak dalam kelompok besar secara terkoordinasi. Ada juga kepiting majoid, misalnya Oregonia, yang menyamarkan diri dengan rumput laut; serta pea crab, seperti Arcotheres, yang hidup bersembunyi di dalam kerang dan tidak perlu terlalu cepat melarikan diri dari pemangsa. Kepiting-kepiting itu sudah punya metode bertahan hidup tersendiri dan tidak perlu repot-repot berevolusi bergerak menyamping.

 ilustrasi kepiting

ilustrasi kepiting. wikimedia/Stevage

Evolusi gerak menyamping terjadi tepat pada masa transisi dari periode Trias ke Jurasik. Itu merupakan masa krusial, ditandai oleh pecahnya benua Pangaea, yang menyebabkan berkembangnya habitat laut dangkal dan sesuatu yang disebut Revolusi Laut Mesozoik.

Pada periode itulah lahir banyak kehidupan baru. Bagi kepiting-kepiting, perubahan arah-pergerakan mereka membawa keuntungan besar. Saat peluang ekologis terbuka lebar, mereka punya “kemampuan baru” yang akhirnya membuat persebaran spesiesnya jadi begitu luas.

Tentu saja, para peneliti menyadari bahwa penelitiannya masih memiliki keterbatasan. Mereka hanya mengamati satu individu per spesies karena keterbatasan di lapangan.

Namun, mereka juga mencatat bahwa berdasarkan pengamatan awal, arah pergerakan adalah sifat yang cenderung konsisten di tingkat spesies, sehingga keterbatasan tersebut kemungkinan besar tidak terlalu memengaruhi kesimpulan besar yang mereka tarik.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal, mengapa kepiting berjalan menyamping? Jawaban anatomisnya sudah lama diketahui. Tapi, jawaban evolusionernya baru saja kita ketahui dengan lebih pasti, karena sekitar 200 juta tahun lalu, satu nenek moyang kepiting melakukan sesuatu yang berbeda, dan itu menjadi salah satu keputusan terbaik dalam sejarah kehidupan di Bumi.

Baca juga artikel terkait PENEMUAN ILMIAH atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Edusains
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin