Gairah Membunuh Gara-Gara Hoax

Warga membubuhkan cap tangan saat aksi "Kick Out Hoax" di Solo, Jawa Tengah, Minggu (8/1). ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 19 September 2017
Dibaca Normal 5 menit
Jika tak dikontrol, penyebaran hoax bisa melahirkan masyarakat yang abai pada kebenaran berdasarkan fakta, dan pada tingkat paling parah, bisa memicu tragedi.
tirto.id - Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, dikepung massa, mulai Minggu (17/9/2017) malam hingga Senin (18/9/2017) dini hari. Aksi tersebut diduga lantaran mereka mendapat informasi adanya rapat kebangkitan komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI), kabar yang diklarifikasi sebagai berita bohong alias hoax oleh pihak YLBHI.

"Sejak Jumat (15/9/2017) sebenarnya sudah viral di media sosial soal propaganda, hoax, instruksi-instruksi untuk menyerbu kantor kami, dan semalam itu nampaknya adalah puncaknya," kata Ketua Bidang Advokasi YLBHI Muhamad Isnur di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (18/9/2017).

Malam itu sejumlah aktivis dan akademisi sedang menyelenggarakan pembacaan puisi serta penampilan musik bertajuk “Asik-Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi” sebagai bentuk keprihatinan dari pembubaran acara seminar sejarah “Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966” pada Sabtu (16/9/2017) yang juga digelar di gedung YLBHI.

Soal keberadaan hoax tak berhenti sampai situ. Massa sempat menuduh para peserta acara Asik-Asik Aksi menyanyikan "Genjer-Genjer", lagu yang mereka klaim sebagai salah satu himne PKI. Yunantyo Adi, salah satu peserta acara yang sempat terjebak di dalam gedung YLBHI Jakarta menyatakan tudingan tersebut hanyalah kabar bohong. Sepanjang acara, kata Yunantyo, tidak ada lagu yang dilantunkan, kecuali "Indonesia Raya" dan beberapa lagu kebangsaan lain.

Polda Metro Jaya telah membentuk tim untuk menyelidiki kasus ini. Mereka belum mencurigai akun tertentu dan akan mengumpulkan fakta hukum serta saksi terkait. Satu hal yang pasti, kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Raden Argo Yuwono, peristiwa penyerbuan kantor LBH Jakarta yang berujung ricuh itu memang dipicu oleh penyebaran hoax.

Baca juga: Mengapa Kita Suka Hoax

Tirto mencatat, dua hari sebelum pengepungan kantor YLBHI telah banyak tersebar gambar dan pesan berantai via WhatsApp berisi ajakan untuk membubarkan acara seminar "Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966" di Gedung YLBHI. Dalam pesan yang beredar terdapat nama Rahmat Himran sebagai korlap aksi dari kelompok yang mengatasnamakan diri Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Anti Komunis. Saat pengepungan terjadi, #DaruratPKI tagar mulai muncul dan jadi trending topic di Twitter dalam waktu kurang dari 2 jam.

Meski Direktur LBH Jakarta Alghiffari Aqsa telah dengan tegas menampik segala tuduhan bahwa lembaganya tidak memfasilitasi kebangkitan PKI, hoax terlanjur ampuh untuk membakar semangat massa yang siap main fisik demi bubarnya acara. Teriakan takbir menyalak berkali-kali dan makin menebalkan daya juang massa aksi yang ingin masuk gedung tapi dihalangi polisi. Mereka benar-benar yakin bahwa gedung YLBHI adalah sarang komunis yang perlu ditumpas tanpa sisa.

Peneliti dari lembaga studi dan pemantauan media Remotivi Wisnu Prasetya Utomo menyatakan bahwa kabar bohong itu tak bisa diredakan. “Efek dari informasi palsu yang sudah menjadi viral ini sudah sulit dicegah. Hal semacam ini semakin sering terjadi terutama menyangkut isu-isu sensitif seperti agama dan politik,” paparnya.

Kemunculan berita hoax yang lantas tersebar meluas bukan kebetulan. Tingkat pengguna internet di Indonesia tahun 2016 menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencapai 132 juta orang, dan 100 juta pengguna telepon pintar. Ibaratnya lahan telah tersedia, perkakas informasi bohong tinggal digarap dengan memindai emosi pembaca berdasarkan keyakinan agama, etnis, maupun referensi politiknya.

Baca juga:
Sentimen Kebencian dalam Berita Hoax

Anindito Aditomo, peneliti dari Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan dan psikolog Universitas Surabaya, mengatakan dampak psikologis peredaran hoax bisa diamati dengan mudah sebab secara afektif hoax mampu memicu emosi negatif seperti marah, cemas, dan takut. Apalagi saat hoax berisi konten yang mendiskreditkan seorang tokoh atau kelompok yang berseberangan—dalam konteks kasus di YLBHI Jakarta kemarin adalah kebencian (dan ketakutan) massa aksi terhadap narasi kebangkitan PKI.

Jika penyebaran berita palsu sudah sedemikian masif dan sistematis, lanjut Wisnu, muncullah situasi post-truth (pasca-kebenaran). Post-truth adalah kondisi ketika fakta obyektif atau kebenaran tak lagi relevan bagi pembaca, pendengar, atau pemirsa berita dalam membentuk opini publik. Mereka beralih sandaran kepada emosi dan keyakinan pribadi.

Artinya, orang-orang dalam situasi post-truth memilih untuk menolak atau menerima kebenaran berita hanya berdasarkan selera pribadi. Dalam situasi pengepungan gedung YLBHI Jakarta kemarin, misalnya, muncul sikap mengutamakan hasil politis yang massa aksi ingin capai, ketimbang bertindak berdasarkan fakta atau mempertimbangkan situasi secara rasional. Perilaku masyarakat di era post-truth cukup khas: mereka suka memproduksi, mendistribusi, dan mengonsumsi kebenaran versinya sendiri.

Hoax Diternak, Nyawa Direnggut

Sejarah mencatat bahwa penyebaran hoax dan kebiasaan memutarbalikkan fakta di kanal media sosial maupun berbagai bentuk media (massa) lainnya bisa berujung pada hilangnya nyawa banyak orang.

Dylann Storm Roof adalah anak muda kelahiran Columbia, South Carolina, Amerika Serikat yang dua tahun lalu menjadi sensasi publik akibat perkara mengerikan: membantai sembilan orang yang berstatus sebagai pengikut gereja kulit hitam Emanuel African Methodist Episcopal Church dengan menggunakan pistol jenis Glock 41. Motifnya adalah kebencian pada orang-orang keturunan Afrika-Amerika, demikian dilaporkan CNN.

Roof tumbuh sebagai pengikut supremasi kulit putih. Sejak remaja, meski punya kebencian mendalam pada ras kulit hitam di sekitar tempat tinggalnya, ia tak pernah terlibat aksi kekerasan. Namun, semua berubah saat beberapa tahun sebelum tragedi pembantaian ia mulai rutin membaca konten Council of Conservative Citizens, kanal untuk orang-orang konservatif dan pengikut gerakan supremasi kulit putih Alt-Right AS.

Menurut manifesto berisi 2.000 kata yang ditulisnya sendiri dan dibaca saat persidangan, Roof mulai menapaki jalan penuh kebencian akibat berita palsu yang dibagikan via Facebook dan Twitter terkait postingan Donald Trump yang memuat statistik perihal kejahatan antar kelompok warna kulit. Roof juga menemukan informasi yang sama di Google dan kanal Council of Conservative Citizens.

Sayangnya kanal yang ia tuju kebanyakan berisi berita dan statistik yang menyesatkan. Konsumsi berita bohong yang dilakukan Roof berlangsung cukup lama dan secara tak langsung kian menyebalkan keyakinan politis Roof yang terlanjur dipenuhi rasa benci pada orang kulit hitam. Orang hitam, menurutnya, punya IQ yang lebih rendah, kontrol diri yang lebih buruk, dan secara umum punya kadar testosteron yang lebih tinggi dibanding orang-orang kulit putih—hoax-hoax yang telah dibantah oleh sains.


Baca juga:
Black Lives Matter, Upaya Amerika Menghapus Kentalnya Rasisme

Di satu titik, ia kemudian menyepakati bahwa apa yang dilakukan George Zimmerman adalah tindakan yang tepat. Pada 2012 Zimmerman menembak mati perempuan remaja kulit hitam berusia 17 tahun, Trayvon Martin, meski Martin tak bersalah apa-apa. Dylann, yang tertawa kecil selama menjalani persidangan, menyatakan bahwa ia ingin memulai perang antar ras dan dimulai dengan meneror Gereja Emanuel.

Meski praktik perbudakan secara resmi telah dihapus sejak 1865, rasisme dan praktik intimidasi hingga penghilangan nyawa orang-orang kulit hitam di AS akibat langgengnya informasi menyesatkan dan dipenuhi kebencian tentang mereka tetap ada hingga satu dekade terakhir. Hoax dan hate-speech bak dua elemen yang tak pernah terpisahkan.

Pada Maret 2017 lalu, misalnya, seorang penganut supremasi kulit putih lain bernama James Harris Jackson berkelana dari Maryland ke Kota New York dengan niat melancarkan aksi terorisme terhadap orang kulit hitam. Visinya adalah menyebarkan pesan agar orang kulit putih dilarang keras memiliki hubungan dengan orang kulit hitam. James benci betul atas hal tersebut. Setelah beberapa hari mencari mangsa, ia meluapkan niat kejamnya pada Timothy Caughman, tunawisma berusia 66 tahun, yang ditikamnya dengan pisau kecil. Caughman tewas, dan James berhasil ditangkap polisi.

Dalam catatan organisasi Anti-Defamation League, serangan teroris sayap kanan di AS dalam rentang 1993-2017 mencapai 150 kasus. Pelaku dari penganut supremasi kulit putih jadi yang terbesar (43 persen), bersaingan dengan ekstremis anti-pemerintah (42 persen), anti-aborsi (11 persen), anti-muslim (2 persen), anti-imigran, dan lain-lainnya (1 persen). Puncak kasusnya paling banyak terjadi di era 1996-1998 dan 2011-2013, dan rata-rata senjata yang dipakai adalah senjata api dan bahan peledak.

Hoax bisa bekerja melalui prasangka yang berujung pada tuduhan. Barangkali, di era kekinian, membantai orang akibat tuduhan tak jelas sudah bukan zamannya. Namun, di Amerika Serikat, lebih tepatnya Kota Salem, Massachusetts, memburu dan melenyapkan nyawa orang-orang yang dituduh sebagai penyihir atau pelaku ilmu hitam di akhir abad ke-17 adalah semacam tradisi yang dilakukan warga setempat dengan penuh semangat. Tradisi ini diteruskan dari perburuan para tertuduh penyihir di Eropa sejak abad-abad sebelumnya.

Dalam periode gelap yang dinamakan Salem Witch Trials itu tercatat ada 20 orang yang dieksekusi, di mana 14 di antaranya perempuan, dengan cara digantung, dan lima lain (termasuk dua bayi) mati dipenjara. Sebanyak 12 perempuan lainnya juga sebelumnya telah dieksekusi di daerah Massachusetts dan Connecticut. Total orang yang ditangkap dan dipenjara tanpa ada kejelasan nasib kurang lebih 200-an orang, demikian menurut catatan Smitsonian Magazine.

Mereka rata-rata dinyatakan bersalah tanpa bukti kuat. Ada bumbu konflik politik berbalut intrik agama. Mereka adalah korban dari kabar yang diproduksi bukan berdasar pada fakta keras. Beberapa bahkan ada yang dibantai karena ketidaksukaan atau perselisihan personal. Disayangkan bahwa para korban hidup di era ketakutan warga seakan ilmu sihir sedang tinggi-tingginya. Apalagi New England sengaja dibentuk sebagai komunitas hidup yang sepenuhnya didasarkan pada Alkitab, sehingga warganya teramat antipati dengan segala bentuk ilmu hitam.

Penyebaran hoax pula yang digunakan Partai Nazi untuk secara politis membangun kekuatannya sejak awal 1930-an. Korbannya adalah kaum Yahudi yang ada di Jerman pada khususnya dan Eropa pada umumnya. Adolf Hitler tahu bahwa propaganda mesti jadi mesin nomor satu agar ia bisa sampai di puncak kekuasaan. Joseph Goebbels dipercaya oleh Hitler untuk melaksanakan tugas ini, dan hingga berakhirnya Perang Dunia (PD) II ia tergolong sukses melaksanakan tugas tersebut.





Sebagaimana paparan Ian Kershaw di buku Hitler: 1889-1936 Hubris, Goebbels piawai mengarang cerita-cerita hoax tentang orang Yahudi. Melalui kanal radio, koran, dan lain sebagainya, disebutkan bahwa orang-orang Yahudi adalah sumber kekacauan ekonomi rakyat Jerman karena merebut sektor pekerjaan penting di negara tersebut. Sentimen anti-Yahudi di bidang ekonomi melahirkan gerakan pemboikotan produk bikinan orang Yahudi, demonstrasi, dan lain sebagainya. Orang-orang Yahudi juga dijadikan alasan utama mengapa Jerman kalah di PD I.

Hoax yang beredar kemudian bercampur dengan cerita-cerita yang sesungguhnya tak masuk akal. Misalnya, orang-orang Yahudi dituduh menculik dan membunuh anak-anak Kristen yang darahnya lantas dipakai dalam ritual hari raya orang Yahudi. Demi sekaligus memetik keuntungan di lapangan politik, orang-orang Yahudi dituduh sebagai perancang Bolshevisme, Komunisme, dan Marxisme—ideologi-ideologi lawan utama Nazi.

Bangsa Yahudi, pada akhirnya, digambarkan sebagai sekumpulan orang yang berjiwa culas, berstatus parasit, dan inferior belaka. Mereka wajib dibenci, dan jika bisa, diusir secara permanen dari Jerman.

Baca juga:
Kala Yahudi Polandia Dikirim ke Kamp Neraka Belzec

Taktik propaganda ini berhasil menaikkan Partai Nazi ke tampuk kekuasaan tertinggi di Jerman, hingga Jerman terlibat sebagai salah satu pemain besar di Perang Dunia II. Kebencian rasialis itu pula yang mendorong Hitler untuk melangkah ke level baru: pembantaian 6 juta orang-orang Yahudi sepanjang 1941-1945. Kebijakan yang terstruktur dan sistematis ini didukung oleh sebagian besar warga Jerman pada waktu itu yang telah kenyang makan propaganda Goebbels.

Goebbels tentu tahu jika yang ia sodorkan ke muka umum tidaklah 100 persen akurat. Namun, demi kepentingan politis, Goebbels juga paham bahwa perkara kebenaran informasi di mata publik Jerman tak mesti didasarkan pada fakta ilmiah, namun juga bisa berasal dari sekeranjang kebohongan. Kuncinya satu: sebarkanlah sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin.

“Jika Anda menyampaikan kebohongan dengan sering dan berulang-ulang, orang akan mempercayainya sebagai sebuah kebenaran—bahkan termasuk Anda sendiri.”

Baca juga artikel terkait HOAX atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight