FPI dalam Pusaran Teror Bom Bunuh Diri Gereja Makassar

Oleh: Adi Briantika - 31 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Nama FPI terseret dalam kasus bom bunuh diri Makassar setelah ditemukan atribut terkait dan markas mereka disebut dijadikan tempat baiat.
tirto.id - Nama Front Pembela Islam (FPI), ormas yang telah dibubarkan pemerintah, didirikan oleh Rizieq Shihab yang saat ini tengah menjalani persidangan atas kasus pelanggaran protokol kesehatan, mengemuka dalam kasus terorisme yang pecah beberapa hari lalu. Pangkalnya karena ditemukan atribut-atribut terkait di rumah orang-orang yang ditangkap dan bukti lain.

Dua orang yang diduga terkait dengan FPI adalah ZA dan HH. ZA (37) ditangkap di daerah Cibarusah, Kabupaten Bekasi, sementara HH (56) di Condet, Jakarta Timur.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan keduanya terindikasi sempat menghadiri sidang Rizieq Shihab. "Ada teman-teman yang kirim ke kami foto HH dan ZA saat sidang," ujar dia di Polda Metro Jaya, Selasa (30/3/2021).

Sementara dari rumah HH, polisi menemukan beberapa atribut terkait. Antara lain baju hijau dan putih dengan tulisan LPI (Laskar Pembela Islam) di bagian punggung, buku berjudul FPI Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Spirit 212 Tabligh Akbar Aksi Bela Islam, serta kartu beratribut FPI.

Yusri menegaskan belum ada kesimpulan apakah mereka anggota FPI atau bukan. "Masih dilakukan pendalaman oleh tim karena masih 'pagi sekali' untuk menentukan jaringan mana. Ini masih dilakukan pemeriksaan, termasuk apakah ada tersangka lain. Ini masih berkembang terus," katanya. Meski begitu ada saja warganet yang telah berkesimpulan bahwa mereka memang anggota FPI.

Kuasa hukum FPI, Aziz Yanuar, enggan berkomentar panjang tentang temuan atribut tersebut. "Front Pembela Islam sudah bubar," kata Aziz singkat saat dihubungi reporter Tirto, Selasa.

Sementara perihal ZA dan HH yang disebut menghadiri sidang kliennya, Rizieq, Aziz bingung karena tak sembarangan orang boleh datang. "Hebat banget bisa masuk. Setahu saya, kuasa hukum saja susah masuk, media juga [sulit meliput], kan? Di dalam banyak polisi."


Berdasarkan pemeriksaan sementara, ZA berperan membeli bahan baku bom seperti aseton, asam klorida, termometer, dan bubuk aluminium. Dia mengajarkan kepada BS (43) cara pembuatan bahan peledak dari bahan-bahan tersebut. Lalu AJ (46) berperan sebagai pihak yang mengetahui dan membantu ZA membikin bahan peledak. Ia dan BS pun mengikuti pertemuan soal persiapan teror. Terakhir, HH, adalah perencana taktis dan teknis bersama ZA sekaligus motivator kelompok.

Dari kelompok ini polisi menyita bukti lima bom aktif jenis sumbu dan bahan peledak yang sudah jadi jenis TATP (triacetone triperoxide). Lima bom itu beratnya 3,5 kilogram dan bisa dipecah untuk bahan baku 70 bom pipa.

Selain ZA dan HH, AJ dan BS juga telah ditangkap Densus 88 Antiteror. AJ ditangkap di Cirendeu, Tangerang Selatan sementara BS di Pademangan, Jakarta Utara.

Selain belum menyimpulkan keterkaitan dengan FPI, aparat juga belum menemukan hubungan kelompok ini dengan pelaku teror bom bunuh diri di Makassar, yang diduga terkait dengan jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Sampai dengan saat ini belum ditemukan keterkaitan mereka. Mereka bergerak sendiri saja, tapi ini masih didalami terus karena barang bukti yang ditemukan cukup banyak," kata Yusri Yunus.

Selain di Jakarta dan Bekasi, keterkaitan juga ditemukan di Makassar. Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan salah seorang yang terkait bom bunuh diri "berbaiat di markas FPI."

FPI dan Terorisme

Bukan kali ini saja anggota FPI diduga terkait terorisme. Pada Februari lalu Polri mendeteksi ada aliran dana mencurigakan dari Tazneen Miriam Sailar, istri dari Acep Ahmad Setiawan, milisi Hayat Tahrir al-Sham (HTS), salah satu faksi al-Qaeda di Suriah, ke rekening terafiliasi FPI.

Polisi belum menyebutkan identitas penerima transfer dari 92 rekening FPI yang diselidiki. Namun, di daftar tersebut ada rekening atas nama lembaga hingga perseorangan seperti Sekretaris Umum FPI Munarman hingga keluarga Rizieq Shihab.

Acep atau ditulis Asep sendiri dikenal sebagai Abu Ahmed al Indunisy, lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 28 Juni 1978 dan tewas antara 2014-2015 di Suriah. Polisi menyebut Asep juga terafiliasi Jamaah Islamiah (JI).

JI beda dengan JAD yang diduga terkait dengan bom bunuh diri Makassar--meski sama-sama organisasi teror. Jika JI menginduk pada al-Qaeda, maka JAD terafiliasi dengan ISIS.


Direktur Eksekutif Pusat Studi Politik dan Kebijakan Strategis Indonesia Stanislaus Riyanta mengatakan selain melacak status yang ditangkap dengan FPI dan kaitannya dengan bom Makassar serta JAD, aparat juga perlu menyelidiki mana organisasi yang lebih dulu diikuti. Apakah itu anggota FPI yang bergabung ke JAD atau anggota JAD yang bergabung ke FPI.

Pertanyaan ini penting dijawab karena kalau JAD menjadi FPI, bisa saja itu sebagai upaya untuk membaur ke ormas yang formal dan merekrut. Sebaliknya, bila FPI menjadi JAD, kemungkinan karena mereka menemukan pilihan cara-cara yang lebih ekstrem untuk mencapai tujuan yang tidak ditemukan di FPI.

"Tapi anggota FPI yang menjadi JAD bukan hal yang aneh atau mengagetkan. Seorang oknum aparatur sipil negara, bahkan oknum Polri, juga ada yang bergabung dengan ISIS," jelas dia kepada reporter Tirto, Selasa.

"Yang paling penting adalah jika ada persamaan anggota, maka terbukti ada hubungan kuat," katanya.

Baca juga artikel terkait BOM MAKASSAR atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Rio Apinino
DarkLight