Emisi Bahan Bakar Fosil Dorong Bumi Ke Jurang Kiamat

Ilustrasi Perubahan Iklim.[Foto/Shutterstock]
Oleh: Tony Firman - 16 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Menjelang berakhirnya tahun 2017, jumlah emisi gas karbondioksida global yang mengangkasa menyentuh angka 37 miliar ton.
tirto.id - Bahan bakar fosil menjadi problem dunia karena emisi yang dihasilkan mencemari udara di bumi dan memicu pemanasan global. Menjelang berakhirnya 2017, jumlah emisi gas karbondioksida global sudah menyentuh angka 37 miliar ton, menurut laporan dari Global Carbon Report.

Para ilmuwan dari 57 institusi akademik yang terlibat dalam penelitian tersebut memproyeksikan pertumbuhan emisi tahun 2017 sebesar dua persen dari data tahun 2016 dan diperkirakan terus meningkat pada 2018 nanti.

Kabar ini tentu buruk, mengingat dalam tiga tahun terakhir sebenarnya pertumbuhan emisi CO2 global diklaim para peneliti iklim tergolong rendah. Bahkan jika ditotal dari emisi yang disebabkan oleh pembukaan lahan, jumlah CO2 yang lepas ke bumi mencapai 41 miliar ton.

Jurnal sains Nature yang terbitan Senin (13/11) kemarin menyebut, kenaikan emisi CO2 global sebesar dua persen dipengaruhi oleh peningkatan penggunaan batubara di Cina dan juga sejumlah peningkatan kecil di Amerika Serikat yang secara akumulatif mendorong penyebab utama pertumbuhan baru emisi karbon dioksida.

Di Cina, emisi yang dihasilkan sebesar 10.5 miliar ton menyumbang hampir 26 persen dari output karbondioksida dunia. Penyebabnya, curah hujan tahun yang menurun pada tahun ini di Cina membuat pembangkit listrik tenaga air tidak berfungsi maksimal sesuai kapasitas yang ditargetkan. Penggunaan batu bara yang termasuk dalam bahan bakar fosil pun kembali dilirik.

Tren lonjakan di tahun 2017 kali ini mengecewakan para ilmuwan iklim. Dalam tiga tahun masa stabil pertumbuhan emisi gas karbondioksida, mereka memprediksi kemajuan yang nyata akan penggunaan energi terbarukan seperti matahari dan angin. Mereka juga mengharapkan kepatuhan negara-negara dunia untuk peduli masalah pemanasan global yang disebabkan pemakaian bahan bakar fosil mulai dari minyak bumi, batubara dan gas alam.

Baca juga: Pemanasan Global Mengurangi Waktu Tidur Manusia

Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa Eropa dan Amerika Serikat mengalami penurunan emisi gas karbondioksida pada 2017, masing-masing 0,2 dan 0,4 persen. Meski tahun ini meningkat dua persen, pertumbuhan emisi di India yang berpenduduk miliaran ditetapkan menurun jika dibandingkan rata-rata enam persen per tahun dalam satu dekade terakhir.

“Berita bahwa emisi meningkat setelah absen tiga tahun merupakan lompatan besar ke belakang bagi manusia,” kata Amy Luers selaku direktur eksekutif Future Earth yang turut mensponsori Global Carbon Report. Menurutnya, kenaikan dan penggunaan emisi harus segera mencapai titik puncak serta menurun mendekati titik nol pada tahun 2050 mendatang.

Peran Ilmuwan dan pemerintah dunia dalam menjaga pemanasan global sejatinya makin dikejar waktu seiring target kenaikan suhu global yang tidak boleh melampaui dua derajat celcius, bahkan jika perlu tidak sampai mendekati 1.5 derajat celcius.

Corinne Le Quéré, peneliti utama dan direktur Tyndall Centre for Climate Change Research di Uni Emirat Arab turut menekankan bahwa tingkat penggunaan gas dan minyak bumi harus dipangkas secara drastis. Penurunan penggunaan batu bara dinilai tak cukup.

Kondisi 2017 masih diperparah dengan raibnya El Nino yang berperan memboyong banyak curah hujan ke sejumlah kawasan. Walhasil, menurut laporan Carbon Brief, tahun ini diproyeksikan jadi tahun terpanas kedua setelah 2016.

Ilmuwan iklim Michael Mann dari Penn State University di AS punya pendapat berbeda dalam menanggapi laporan Global Carbon Report, ia mencatat bahwa kenaikan emisi yang diproyeksikan dua persen masih relatif kecil di tengah ketidakpastian data. Meski begitu, penelitian yang dianggapnya bersifat otoritatif ini juga mendesak agar diperhatikan.

“Bagi saya, mereka tergesa-gesa menafsirkan lonjakan di tahun 2017. Sulitkah kita menunggu sampai angka yang sebenarnya masuk dan bisa dianalisis?” ungkapnya seperti dilansir dari The Guardian.

Harapan dan Kendala Energi Terbarukan

Pada Juni lalu, jurnal sains Nature menerbitkan artikel berjudul “Three years to safeguard our climate” yang ditulis oleh Christiana Figueres dkk. Figueres adalah mantan kepala Framework Convention on Climate Change yang berada di bawah PBB.

Dengan nada optimistis, artikel tersebut memaparkan pertumbuhan emisi karbondioksida global yang cenderung minim dan bisa dibilang stabil dalam tiga tahun terakhir.

Kebijakan negara dalam mitigasi iklim disebut-sebut dalam artikel tersebut sebagai faktor kunci. Amerika Serikat, Cina dan negara-negara lain mengganti batubara dan gas alam dengan meningkatkan sektor sumber energi terbarukan.

Kesepakatan internasional seperti Perjanjian Paris 2015 yang hampir membulatkan suara bahwa risiko perubahan iklim terlalu besar untuk diabaikan, menjadi pengikat dan penggerak berbagai negara mulai melakukan kebijakan dekarbonisasi.

Baca juga: Donald Trump dan Mereka yang tak Percaya Perubahan Iklim

Christiana dan timnya meluncurkan Mission 2020, sebuah kampanye kolaboratif untuk mendesak penurunan emisi gas rumah kaca pada tahun 2020 mendatang.

Dalam kampanye perdananya di KTT G20, Mission 2020 mengimbau agar para kepala pemerintahan memperhatikan emisi gas rumah kaca sehingga iklim dunia mencapai titik baliknya pada tahun 2020. Mengejar target agar suhu tidak melampaui dua derajat celcius menjadi prioritas utama.

Dalam sejarahnya, planet bumi telah mengalami penurunan dan kenaikan suhu. Keduanya merupakan proses alamiah dan rutin. Namun, kehadiran spesies manusia telah mempercepat salah satu dari kedua perubahan itu, yaitu kenaikan suhu bumi karena meningkatnya emisi karbondioksida yang lepas ke atmosfer di bumi dan menyebabkan efek rumah kaca.

Dilansir dari The Futurism, dua sumber energi terbarukan yang menonjol adalah angin dan matahari. Pembangunan infrastruktur dan kapasitas kedua sumber tersebut tengah digenjot di berbagai negara maju. Namun seperti dicatat Lauren Kuntz, mahasiswa PhD bidang Ilmu Bumi dan Planet pada Harvard University, angin dan matahari merupakan sumber daya yang sulit diandalkan secara konstan.

“Anda bisa saja membangun panel surya atau ladang kincir angin, tapi Anda akan sulit menjamin ada energi listrik yang terus dihasilkan.” Tuturnya.

Contohnya di Irlandia, sebuah negara dengan cuaca buruk. “Mustahil Anda bisa mendapatkan listrik dari panel surya ketika hujan atau mendung. Kalau cuaca tak berangin, kincir angin pun sia-sia.”



Menurut Kuntz, pasokan listrik haruslah selalu memenuhi kebutuhan manusia. Dengan kata lain, masih sangat sulit untuk sepenuhnya bergantung pada energi terbarukan seperti angin dan matahari.

Solusi penyimpanan dan manajemen energi seperti yang disediakan oleh sistem Powerwall Tesla boleh jadi pilihan. Namun harga sistem seperti ini tidaklah murah. Menambah banyak perangkat pendukung lain pun mengundang masalah karena keuangan domestik terancam membengkak.

Bagi Kuntz, sektor tenaga air tidak lebih baik. Masalah akses dan lokasi jadi faktor minus yang patut diperhatikan. Negara sebesar Amerika Serikat, catat Kuntz, sangat sulit memenuhi kebutuhannya hanya dengan mengandalkan sumber energi air di sungai-sungai.

Pilihan pun jatuh ke nuklir. Apakah nuklir dapat memenuhi kebutuhan listrik yang aman dan berkelanjutan?

Jawabannya bisa. Tetapi jelas ada dampak lain terkait perkara teknis pembangkit listrik tenaga nuklir. Kebocoran pembangkit tenaga nuklir kerap menjadi momok. Efek kebocoran reaktor nuklir buruk adanya bagi lingkungan dan manusia di sekitarnya, sebagaimana yang telah terjadi di Fukushima dan Chernobyl.

Baca juga: Betapa Tak Mudahnya Menghentikan Nuklir

Belum lagi faktor iklim dan lokasi geografis rawan bencana badai dan gempa bumi. Dampak kebocoran reaktor akibat bencana alam bisa lebih fatal ketimbang bencana alam itu sendiri.

Kendati demikian, upaya berbagai negara untuk mau beralih ke sektor energi terbarukan tak surut. Di Cina, hamparan gurun sudah disulap jadi ladang panel surya. Di negara-negara Eropa, ladang kincir angin mendominasi sektor energi terbarukan.

Kabar terbaru, sebanyak 15.000 ilmuwan dari 184 negara sepakat menandatangani surat peringatan bahwa planet bumi sedang menggali kuburnya sendiri. Dalam surat berjudul “World Scientists’ Warning to Humanity: Second Notice ini”, mereka berseru agar kerusakan yang dampaknya “tidak dapat dipulihkan lagi” dihentikan sebelum semuanya terlambat.

Surat ini disebut-sebut sebagai “peringatan kedua”, karena 25 tahun lalu para penerima Nobel dan ilmuwan menandatangani surat serupa.

Baca juga:
“Kita kembali menengok tren dan mengevaluasi respons manusia kelak dengan mengeksplorasi data yang ada,” terang Thomas Newsome, seorang peneliti di Deakin University dan The University of Sydney. Dari sembilan area perhatian yang disebut, hanya satu yang mengalami perbaikan yaitu pengurangan bahan kimia yang dapat merusak lapisan ozon.

Dalam 25 tahun terakhir sejak surat peringatan pertama dikeluarkan, para ilmuwan menyoroti sejumlah tren negatif yang dapat menjadi faktor percepatan kehancuran bumi, misalnya: 26 persen persediaan air tawar berkurang, hilangnya hampir 300 juta hektar lahan hutan, penurunan 29 persen jumlah mamalia, reptil, amfibi, burung dan ikan, dan akhirnya peningkatan 75 persen jumlah zona yang tidak dapat dihuni spesies laut.

Surat peringatan ini dikeluarkan dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB di Bonn, bersamaan dengan dirilisnya data kenaikan emisi karbondioksida tahun ini.

Planet bumi dengan segala isinya telah mengalami berbagai perkembangan dan kehancuran akibat proses alamiah. Tapi ledakan populasinya dibanding makhluk hidup lainnya yang pernah ada, tampaknya kian mempercepat proses kehancuran bumi.

Baca juga artikel terkait CO2 atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf
DarkLight