tirto.id - Usai azan dan salat Magrib, suasana di Meunasah (surau) Desa Lueng Ie, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, belum juga beranjak sunyi.
Warga mulai berdatangan. Sebagian membawa rantangan berisi makanan dari rumah. Mereka datang bukan untuk sekadar berkumpul, melainkan mengikuti sebuah tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi: Dzikir Maulid.
Pengeras suara meunasah mulai dihidupkan. Ratusan jemaah laki-laki, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, perlahan memenuhi ruang meunasah. Mereka duduk melingkar, makin lama kian rapat dan padat.
Seorang syeh (pimpinan grup dzikir) kemudian memimpin lantunan salawat pembuka. Suara jamaah mengikuti secara serempak. Puja-puji kepada Nabi Muhammad SAW dilantunkan dalam bahasa Arab. Suasana malam itu berubah menjadi khidmat sekaligus hangat. Tidak sekadar ritual, lantunan zikir menjadi ruang bersama untuk mengenang perjalanan Rasulullah dan menanamkan kecintaan kepada beliau.
Tradisi itu digelar masyarakat Lueng Ie setiap tahunnya pada peringatan malam 12 Rabiul Awal, hari yang dikenal sebagai momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Zikir dan salawat berlangsung hingga sekitar tiga jam. Ketika salawat dan doa terakhir selesai dibacakan, satu rangkaian acara pun berakhir. Namun, belum sepenuhnya selesai.
Jemaah kemudian beranjak menuju hidangan yang telah dipersiapkan warga sejak siang. Nasi dan beragam lauk-pauk khas Aceh disajikan untuk disantap bersama. Makan bersama menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi.
Kerabat yang selama ini jarang pulang karena berada di perantauan kembali berkumpul. Tetangga yang sehari-hari mungkin hanya berpapasan kembali duduk bersama dalam satu hidangan. Tidak ada sekat usia. Anak-anak, pemuda, hingga orang tua larut dalam suasana yang sama.
Dari Generasi ke Generasi
Pembina Grup Dzikir dan Salawat Babruth Thairi, Samsul Bahri, mengatakan dzikir maulid merupakan tradisi yang terus dipertahankan masyarakat Lueng Ie sejak puluhan tahun lalu. Ia menyebut tradisi tersebut telah berlangsung sejak era 1950-an, meski tidak mengetahui secara pasti tahun pertama pelaksanaannya.
“Ini sudah berlangsung dari era tahun '50-an, dari generasi ke generasi. Alhamdulillah dilanjutkan oleh penerus-penerusnya sampai saat ini,” kata Samsul, Senin (24/8/2026).
Bagi masyarakat di desa tersebut, dzikir maulid bukan semata-mata kegiatan tahunan. Di dalamnya terdapat pesan untuk meneladani akhlak Rasulullah SAW.
“Yang maknanya kita meneladani nilai-nilai akhlakul Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang sudah membimbing kita,” tambahnya.
Dalam lantunan zikir dan salawat itu, kata Samsul, tidak hanya berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Ada pula kisah-kisah perjalanan yang disampaikan menggunakan bahasa lokal Aceh.
Kisah tentang pasukan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka'bah menjadi salah satu bagian yang diceritakan. Demikian pula kisah tentang pengorbanan kakek Nabi dan sejumlah cerita yang mengiringi perjalanan menuju kelahiran Rasulullah.
Dengan bahasa yang dekat dengan masyarakat, kisah-kisah tersebut membuat tradisi tidak hanya menjadi lantunan yang didengar, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah dan keteladanan Rasulullah kepada generasi muda.
Pemuda Menjadi Pewaris Tradisi
Upaya mempertahankan tradisi tersebut juga dilakukan dengan melibatkan generasi muda. Pemerintah Desa Lueng Ie membina para pemuda melalui Grup Dzikir dan Salawat bernama Babruth Thairi. Melalui kelompok itu, anak-anak muda dilatih dan dipersiapkan untuk menjadi penerus tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat selama puluhan tahun.
Samsul berharap kegiatan-kegiatan keagamaan seperti zikir maulid terus dipertahankan dan dikembangkan. Terlebih, Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam.
Menurutnya, tradisi seperti ini mulai berkurang. Sejumlah desa bahkan sudah tidak lagi melaksanakannya. Di Kecamatan Krueng Barona Jaya sendiri, dari 12 desa yang ada, ia menyebut hanya sekitar empat desa yang masih mempertahankan tradisi tersebut.
Karena itu, ia menilai desa Lueng Ie sendiri perlu terus menjaga tradisi tersebut sekaligus menjadi contoh bagi desa-desa lain.
Bagi Samsul, nilai penting dzikir maulid tidak hanya terletak pada rangkaian bacaan dan salawat yang dilantunkan. Ada nilai syiar agama di dalamnya. Ada pula upaya menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Lebih dari itu, tradisi tersebut menghadirkan rasa persatuan di tengah masyarakat.

Ketika ratusan orang duduk dalam satu lingkaran, melantunkan bacaan yang sama dan kemudian menyantap hidangan dari dapur yang berbeda-beda secara bersama-sama, tercipta sebuah kesatuan yang sulit ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.
“Iya, kalau kita bertanya tentang seberapa penting, yang pertama nilai syiarnya, syiar agama. Bagaimana kita cinta kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,” kata Samsul.
Menurutnya, keseragaman bacaan dan gerakan dalam dzikir juga menjadi simbol persatuan untuk membangun generasi yang mencintai salawat dan Nabi Muhammad SAW.
Di Lueng Ie, maulid bukan hanya tentang mengenang sebuah kelahiran. Ia adalah tentang bagaimana sebuah kampung menjaga ingatan, meneruskan warisan, mempertemukan kembali orang-orang yang berjauhan, dan menanamkan kecintaan kepada Rasulullah kepada generasi berikutnya.
Selama lantunan salawat masih menggema dari meunasah dan warga masih bersedia duduk bersama dalam satu hidangan, tradisi puluhan tahun itu akan terus menemukan jalannya untuk hidup.
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































