Menuju konten utama

Duduk Perkara Erha, Amanda Zahra, dr. Ayu, dan Klarifikasinya

Kronologi polemik ERHA, dr. Ayu, dan Amanda Zahra, mulai dari unggahan viral, permintaan maaf, hingga klarifikasi serta evaluasi internal klinik.

Duduk Perkara Erha, Amanda Zahra, dr. Ayu, dan Klarifikasinya
Ilustrasi pesan di handphone. FOTO/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Polemik di media sosial melibatkan dr. Ayu, seorang dokter yang berpraktik di jaringan klinik ERHA dan selebgram Amanda Zahra menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Berikut duduk perkara dan kronologi lengkap dari awal konflik hingga muncul klarifikasi.

Perbincangan bermula setelah beredar tangkapan layar unggahan yang diduga berisi komentar mengenai penampilan Amanda Zahra, yang kemudian menuai kritik dari warganet karena dinilai tidak mencerminkan sikap profesional seorang tenaga medis.

Menanggapi unggahan tersebut, Amanda Zahra menyampaikan respons melalui Instagram Story. Ia mengaku merasa tidak nyaman sebagai pasien sebuah klinik kecantikan apabila tenaga medis yang bekerja di klinik tersebut secara terbuka memberikan komentar yang menghakimi atau mempermalukan seseorang terkait dugaan menjalani prosedur estetika.

Polemik ini kemudian berlanjut dengan permintaan maaf dari dokter yang bersangkutan, disusul pernyataan resmi dari ERHA yang mengumumkan langkah evaluasi internal terhadap tenaga medis tersebut.

Kronologi Polemik Dokter ERHA dan Tanggapan Amanda Zahra

Polemik bermula ketika seorang dokter yang diketahui berpraktik di jaringan klinik ERHA, dr. Ayu Kusumaningrum, mengunggah sebuah komentar di media sosial yang membahas Amanda Zahra.

Dalam unggahan tersebut, dr. Ayu menyinggung penampilan Amanda Zahra dengan menyebut bahwa wajahnya tampak "tidak asli" serta mengaitkannya dengan dugaan telah menjalani prosedur estetika.

Selain itu, unggahan tersebut juga memuat komentar body shaming (tindakan mengkritik dan menghina penampilan orang lain) mengenai cara Amanda Zahra menampilkan dirinya di media sosial.

Unggahan tersebut kemudian menyebar luas dan menuai beragam reaksi dari warganet karena dinilai mengandung unsur perundungan (bullying) dan penilaian personal terhadap seseorang di ruang publik.

Menanggapi hal tersebut, Amanda Zahra menyampaikan respons melalui Instagram Story. Dalam unggahannya, ia mengaku merasa tidak nyaman sebagai pasien sekaligus pelanggan sebuah klinik kecantikan sebesar Erha apabila tenaga medis yang bekerja di klinik tersebut secara terbuka memberikan komentar yang dinilai merendahkan seseorang terkait dugaan menjalani perawatan estetika.

Amanda menilai tindakan tersebut bertolak belakang dengan profesi dokter estetika yang justru memberikan layanan perawatan kecantikan kepada masyarakat.

Amanda juga menjelaskan bahwa dirinya telah lama menghadapi berbagai bentuk objektifikasi dan pelecehan di media sosial. Namun, menurutnya, yang menjadi perhatian utama adalah ketika komentar tersebut disampaikan oleh seorang dokter yang bekerja di bidang estetika dan dilakukan melalui akun media sosial yang secara jelas mencantumkan identitas profesi serta tempat praktiknya.

Ia menyampaikan bahwa kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa aman dan kepercayaan pasien terhadap tenaga medis maupun klinik tempat dokter tersebut bekerja.

I personally wouldn't feel comfortable going back there, walaupun aku suka kliniknya, treatmentnya, bahkan dokter yang handle aku pun gak bermasalah, tapi ngga banget mau cantik malah dijulidin sama dokternya,” tulis Amanda.

Amanda menegaskan bahwa setiap perempuan berhak merasa aman dan tidak dihakimi atas pilihan yang mereka ambil terkait perawatan estetika maupun penampilan diri. Dalam unggahan yang sama, ia juga menandai akun resmi ERHA sebagai bentuk penyampaian aspirasi.

amanda zahra

Instagram Story Amanda Zahra. Foto: Instagram

Klarifikasi dr. Ayu dan ERHA

Setelah polemik tersebut menjadi viral, dr. Ayu Kusumaningrum menyampaikan permintaan maaf melalui akun Threads pribadinya. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada Amanda Zahra dan keluarga, keluarganya sendiri, manajemen ERHA, sesama perempuan, serta seluruh pihak yang merasa terdampak.

Ia mengaku menyesali perbuatannya dan berjanji akan lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Selain itu, dr. Ayu menyatakan tidak akan kembali memberikan komentar yang bernada merendahkan ataupun melakukan perundungan terhadap siapa pun melalui media sosial.

“Saya mengakui bahwa seluruh pernyataan termasuk kata-kata kasar maupun ujaran kebencian yang merendahkan penampilan perempuan lain maupun perempuan yang menjalankan perawatan kecantikan, semua ini didasari oleh asumsi dan emosi saya pribadi,” ucap dr. Ayu di akun IG @ayukusumaningrum pada 10 Juli 2026.

Di sisi lain, ERHA Group turut mengeluarkan pernyataan resmi sebagai respons atas polemik tersebut. Dalam klarifikasinya, manajemen menyatakan telah menerima berbagai masukan dari masyarakat terkait unggahan salah satu tenaga medis yang ditujukan kepada Amanda Zahra.

ERHA mengakui bahwa kejadian tersebut telah menimbulkan keresahan dan dapat mengganggu rasa aman serta kenyamanan pasien maupun masyarakat yang mempercayai layanan mereka.

ERHA juga menyampaikan permohonan maaf kepada Amanda Zahra beserta keluarga dan seluruh pihak yang terdampak. Manajemen menjelaskan bahwa mereka telah berupaya menjalin komunikasi secara langsung dengan Amanda Zahra guna menyelesaikan permasalahan tersebut dengan baik.

Sebagai langkah tindak lanjut, sejak Jumat, 10 Juli 2026, ERHA memutuskan untuk membebastugaskan sementara tenaga medis yang bersangkutan dari seluruh kegiatan praktik selama proses evaluasi dan investigasi internal berlangsung.

“Demikian juga sebagai salah satu bentuk tindakan korektif, sejak hari Jum'at 10 Juli 2026, Manajemen ERHA GROUP telah membebastugaskan sementara tenaga medis yang bersangkutan dari seluruh kegiatan praktik selama proses evaluasi dan investigasi internal berlangsung,” tulis ERHA diakun IG @erha.dermatology pada, Minggu (12/7/2026).

Melalui pernyataan resminya, ERHA menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga standar etika profesi, komunikasi, serta pelayanan kepada pasien sesuai dengan tata kelola layanan kesehatan yang berlaku.

Manajemen juga menyatakan akan melakukan evaluasi internal agar setiap tenaga medis maupun nonmedis senantiasa menjunjung tinggi profesionalisme serta menghindari segala bentuk perkataan maupun tindakan yang dapat merendahkan martabat seseorang.

Baca juga artikel terkait BULLYING atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra