tirto.id - Membacakan dongeng sebelum tidur kepada buah hati, sebaiknya dijadikan hal yang rutin oleh para orang tua. Melalui dongeng anak sebelum tidur, ikatan emosional antara orang tua dan anak bisa terjalin lebih erat.
Selain itu, anak dapat mempelajari berbagai nilai moral, mengenal emosi, serta merasa lebih dekat dengan kedua orang tua. Membaca dongeng anak sebelum tidur juga membuat anak merasa aman sebelum tidur dan menanamkan pesan kebaikan sejak dini.
Dilansir dari laman KBBI, dongeng merupakan cerita rakyat yang berisi kisah khayalan atau imajinatif yang biasanya mengandung unsur-unsur magis, gaib, atau fantastis.
Menurut laman Unipma, dongeng digunakan untuk menghibur, mendidik, atau menyampaikan pesan moral kepada para pembaca atau pendengarnya.
Tak heran membaca dongeng sebelum tidur menjadi salah satu cara terbaik untuk mengenalkan berbagai nilai budaya, etika, hingga empati secara sederhana dan menyenangkan.
Artikel ini menyajikan kumpulan dongeng sebelum tidur yang bisa langsung dibacakan untuk buah hati tercinta.

Dongeng Sebelum Tidur Cerita Rakyat Indonesia
Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya. Banyak dongeng anak yang berasal dari cerita rakyat di berbagai daerah. Salah satu yang menarik adalah cerita rakyat dari Papua yang memiliki nilai keberanian dan cinta keluarga.
Dilansir dari laman Purwakartakab, berikut ini merupakan dongeng anak pendek berjudul "Kisah Dua Putri dan Si Raja Ular" karya Dwi Pratiwi.
Kisah Dua Putri dan Si Raja Ular
Karya: Dwi PertiwiBagian 1. Mimpi Suntre
Warna lembayung itu telah selesai menyapa senja, pertanda hari ’kan menjelang malam. Dedaunan tampak menunduk lemah, lelah seharian menemani matahari. Kicau burung tidak lagi terdengar; satu per satu mereka menuju peraduannya. Sesekali terdengar kelepak kelelawar yang melintas di atas rumah, tempat tinggal Sasandewini dan Suntre.Kakak-adik itu hidup rukun. Setiap hari mereka selalu bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah. Sasandewini senang memasak, sedangkan Suntre lebih senang menyapu dan merapikan rumah. Mereka hidup bersama neneknya. Setiap hari Sasandewini dan Suntre harus mengurus neneknya yang sedang sakit. Kedua orang tua mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena terjangkit wabah yang melanda kampungnya.
“Kenapa malam ini dingin sekali, Kak?” Suntre memecah kesunyian.
“Benar, Suntre. Dinginnya seakan menusuk tulang,” jawab Sasandewini.
“Bahkan ujung rambutku pun seakan-akan ikut merasakan dinginnya malam ini,” lanjut Suntre sambil menyelimuti tubuhnya. Kedua ujung tangannya disembunyikan di bawah kepala. Udara dingin itu juga terasa di ujung daun telinga Suntre.
“Mengapa saat musim kemarau udara dingin sekali, Kak?”
“Ya, ingat kata Ayah dulu, udara malam di musim kemarau selalu lebih dingin dibandingkan dengan musim hujan,” kata Sasandewini.
“O, begitu. Ujung kakiku ini sangat dingin, Kak.”
“Pakailah kain itu, Suntre!”
“Sudah, ini kain selimutnya,” lanjut Suntre sambil menarik selimut untuk menutupi ujung kakinya.
“Suntre, besok pagi kita mencari pucuk pakis ke gunung, ya,” Sasandewini mengalihkan pembicaraan.
“Pucuk pakis?”
“Ya, kita akan memetik daun pakis dan daun ganemo ke gunung di seberang sana, Suntre.”
“Ya, Kak,” jawab Suntre pendek.
“Kak, sebaiknya kita berangkat sebelum matahari terbit.”
“Benar, Suntre. Segeralah tidur supaya besok kita bisa berangkat pagi-pagi.”
Suntre merebahkan tubuh mungilnya, menyelimuti badan, dan menyulam mimpi bersama malam.
Dinginnya malam menemani dua gadis kecil itu menyongsong pagi. Jangkrik tak berhenti mengerik mengisi kekosongan sunyinya malam. Sasandewini melihat pintu depan sekali lagi untuk meyakinkan apakah sudah benar-benar terkunci. Lentera kecil di ruang depan ia bawa ke belakang. Nyala lentera itu meliuk-liuk tersapu angin. Ia tekan kuat-kuat kayu penyangga pintu itu.
“Aman,” gumamnya.
Sasandewini membalikkan badan, menuju kamar. Ia merebahkan badannya di samping adiknya. Suntre sudah tertidur pulas. Dalam tidurnya, Suntre bermimpi.
“Mau ke mana, Gadis Kecil?” sapa seorang kakek berjubah putih dan berjenggot panjang.
“Sa… sa… saya… mau ke sungai,” jawab Suntre terbata-bata.
“Kenapa engkau lewat tempat ini?”
“Saya tidak tahu harus lewat mana, Kek.”
“Sungai itu sangat berbahaya, cucuku. Ada seekor buaya putih penunggu sungai itu.”
“Buaya?” Suntre kaget.
“Lebih baik urungkan saja niatmu itu, cucuku.”
Suntre belum menjawab, tiba-tiba kakek itu menghilang dari hadapan Suntre. Ia melanjutkan perjalanan menuju sungai. Langkahnya ia percepat. Dengan sangat hati-hati Suntre menuruni tebing. Ia berusaha melupakan perkataan kakek itu.
Tiba-tiba seekor buaya putih meloncat tepat di depan Suntre.
“Haaah!” Suntre tersentak.
Suntre terbangun. Ia mencubiti tangan dan pipinya sendiri. Ia hentakkan kakinya ke tanah. Akhirnya ia sadar bahwa tubuhnya sudah jatuh dari tempat tidur.
“Huuuh… untung hanya mimpi,” gerutu Suntre sambil mengusap-usap matanya. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari kakaknya, tetapi tidak ada.
“Kakaaak…” teriak Suntre seraya berlari.
“Ada apa, Suntre? Suntre bermimpi?”
“Suntre takut, Kak.”
“Jangan takut. Mimpi itu bunganya orang tidur.”
Bagian 2. Memetik Pucuk Pakis
Suasana pagi di Kampung Tamakuri diramaikan oleh kokok ayam. Namun demikian, para petani belum banyak yang beraktivitas di luar. Kepulan asap tampak putih, membubung menuju langit, hampir memenuhi penjuru Kampung Tamakuri. Hal itu menandakan bahwa para penduduk pinggir Sungai Kowera itu sedang memasak untuk sarapan dan untuk bekal mereka pergi ke ladang. Mereka memasak papeda.Papeda adalah makanan pokok masyarakat Tamakuri, Papua, sebagai pengganti nasi. Papeda terbuat dari sagu. Masyarakat Tamakuri percaya bahwa setelah makan papeda, badan mereka menjadi sehat dan kuat.
“Suntre, makan papeda dulu,” kata Sasandewini.
“Baik, Kakak,” jawab Suntre. “Nenek sudah makan, Kak?” lanjutnya.
“Pertama, Suntre. Sebelum kita makan, nenek harus sudah makan terlebih dahulu.”
“Oh, baiklah. Oya, Kak, kita jadi memetik pucuk pakis ke hutan, Kak?”
“Ya, tentu. Jangan lupa membawa noken.”
Selesai sarapan, dua gadis itu bersiap-siap ke hutan. Tidak lupa Sasandewini dan Suntre berpamitan kepada sang nenek.
“Jangan jauh-jauh masuk ke dalam hutan, cucuku,” kata sang nenek melepas kedua cucunya.
“Baik, Nek,” jawab Sasandewini dan Suntre serentak.
“Pulanglah sebelum matahari terbenam,” lanjut sang nenek.
“Baik, Nek. Kami akan segera pulang,” jawab Sasandewini.
Setelah mencium tangan sang nenek, Suntre dan Sasandewini berangkat. Mereka berjalan ke arah timur. Suntre dan Sasandewini berjalan penuh semangat menuju hutan. Langkahnya tegap seperti tentara. Noken yang tersangkut di kepala Suntre dan terjurai ke belakang siap menampung daun pakis. Meski sedikit usang, keranjang atau tas tradisional masyarakat Papua yang terbuat dari serat kayu tersebut tetap menjadi wadah kebanggaan mereka. Umur noken itu lebih tua daripada usia mereka.
“Noken ini bagus, ya, Kak,” kata Suntre sambil mengelus-elus noken.
“Ya, noken ini buatan nenek kita, lho,” jawab Sasandewini.
“Kuat sekali, Kak. Kita tidak bisa membuat yang seperti ini, Kak.”
“Bahannya juga susah kita dapat, Suntre. Kita belum tentu juga telaten membuatnya.”
“Oh, begitu,” jawab Suntre pendek.
Udara terasa kering. Rumput-rumput kering, pepohonan meranggas, serta tanah-tanah retak terlihat tabah menanti datangnya titik-titik air. Kemarau panjang tahun ini telah mengurangi kesegaran Lembah Tamakuri di Waropen. Sesekali Sasandewini menengok ke belakang, melihat adiknya yang berjalan mengiringinya.
Perjalanan dua gadis ini sudah sampai di hutan yang lebat. Sasandewini dan Suntre berjalan sambil mengamati loncatan burung-burung dari pohon yang satu ke pohon yang lain.
“Cuiit… cit… cuit… cit… cit…”
“Kek… kek… kuek… kek… kek…”
“Cuit… cit… cuit…”
Kicau burung bersahutan seakan menyapa Suntre dan Sasandewini.
“Cepat sedikit, Suntre.”
“Kakiku mulai berat, Kak,” sahut Suntre. “Bagaimana kalau kita berhenti dulu?”
“Ya, sudah. Kita istirahat di bawah pohon itu, yuk!”
Dua gadis itu duduk di bawah pohon. Rumput kering dan semak belukar di sekitar pohon menjadi teman mereka melepas lelah. Sasandewini membuka bekal yang dibawanya dari rumah.
“Suntre, lihatlah kupu-kupu kecil itu.”
“Kenapa, Kak?”
“Dia pasti sedang mencari bunga. Musim kemarau begini, susah mencari bunga.”
“Kasihan, ya, Kak,” Suntre beranjak dari duduknya. Ia ingin menangkap kupu-kupu tersebut.
“Jangan ditangkap, Suntre.”
“Sayapnya bagus sekali, Kak,” jawab Suntre sambil mengejar kupu-kupu.
“Jangan, Suntre. Biarkan mereka terbang bebas.”
“Kak, serangga apa itu yang sayapnya panjang?”
“Oh, itu namanya capung.”
“Ayo, kita ke arah sana!”
“Kakak, kita baru istirahat sebentar, sekarang jalan lagi.”
“Hari sudah siang, Suntre. Jangan sampai nanti kita pulang terlalu malam.”
“Berapa lama lagi kita akan sampai, Kak?”
“Sebentar lagi, Suntre,” kata Sasandewini sambil menggandeng tangan adiknya.
“La… la… la… la…” Suntre bernyanyi sambil berlari-lari kecil mengimbangi langkah kakaknya.
Dua gadis itu melanjutkan perjalanan. Mereka sedikit mempercepat langkahnya. Onak dan duri tidak mereka hiraukan. Ranting-ranting kayu yang jatuh menghalangi jalan dengan cepat mereka singkirkan. Jalanan yang keras dan terbelah-belah karena kekeringan tidak membuat kaki kecil dua gadis itu berhenti melangkah. Jalan setapak menjadi saksi langkah kecil mereka. Semangat mereka sekeras baja, pantang menyerah. Semangatnya telah mengalahkan rintangan yang ada.
Sasandewini dan Suntre pun memasuki Hutan Kowera. Mereka tidak berani masuk terlalu jauh, takut tersesat.
“Hmmm, pakis…” gumam Sasandewini.
“Daun pakis muda sangat lezat jika disayur santan,” kata Suntre.
“Digulai, maksudnya. Itu sayur kesukaan kita, Suntre.”
“Iya, benar. Digulai.”
“Nenek kita sangat pandai masak gulai pakis,” kata Sasandewini. “Kita harus belajar memasak kepada nenek,” lanjutnya.
“Siaaap! Aku ingin menjadi ahli masak!”
“Bagus! Hati-hati, Suntre. Jangan sampai jatuh.”
“Baik, Kak,” jawab Suntre pendek.
Pakis termasuk tumbuhan paku. Pakis banyak ditemukan di hutan yang lembab. Selain di hutan, pakis juga bisa ditemukan di tebing perbukitan, merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam kolam atau danau, serta di sela-sela bangunan yang tidak terawat. Tumbuhan pakis sangat bergantung pada ketersediaan air. Di musim kemarau pohon pakis akan meluruhkan daunnya. Pakis akan kembali tumbuh subur pada musim hujan. Sisa-sisa daun yang masih ada itulah yang dipetik Sasandewini dan Suntre.
Bagian 3. Burung Mambruk
Cahaya matahari siang itu tak terhalang awan sedikit pun. Udara kering menambah gerahnya suasana hutan. Pepohonan meranggas menjadi pertanda musim kemarau belum selesai. Gemerisik gesekan daun bambu seolah-olah mengundang datangnya musim hujan. Tanah-tanah retak, menganga, seakan-akan menunggu tetesan air dari langit. Menggugurkan daun untuk mengurangi penguapan merupakan cara tanaman untuk tetap bertahan hidup selama musim kemarau. Pohon tersebut akan kembali bersemi saat musim hujan datang. Pohon pisang dan talas yang tumbuh di sela-sela pohon besar tampak lebih arif menyambut musim kemarau. Lumut yang menempel erat di bebatuan mulai mengelupas tak kuat menahan panasnya batu. Pohon pakis sedikit bisa bertahan dalam suasana kemarau seperti ini.Sasandewini dan Suntre berhasil mengumpulkan pucuk pakis meskipun tidak seperti yang diharapkan. Mereka tetap menikmati perjalanan kali ini. Tanpa mereka duga, tiba-tiba terdengar suara binatang.
“Klepaaak… klepaaak, gedebum, blug… blug…”
“Koak… kak… koak… koak…”
“Kuuuk… kuk… kek… kek… koek…”
Kedua gadis itu terperanjat. Mereka merapat dan memasang telinga dalam-dalam. Pikirannya tertuju pada suara tersebut.
“Keeek… kek… keek…”
“Klepaak… klepaak… blug… blug…”
“Suara apa gerangan?” tanya Sasandewini.
“Ya, seperti suara burung,” lanjut Suntre.
“Suara itu seperti suara mengentak-entak tanah.”
“Apakah burung jatuh?”
“Burung jatuh?”
Sasandewini dan Suntre kembali merapatkan telinga ke sumber suara. Semakin jelas, ya, semakin jelas. Sasandewini dan Suntre penasaran. Mereka ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya. Untuk menghilangkan rasa penasaran, mereka mengarahkan tubuh mereka sambil berjinjit ke arah semak di balik pohon tua itu.
Debu beterbangan bercampur daun-daun kering yang sesekali muncul di udara. Bulu-bulu bercampur debu menebar di udara, menambah rasa penasaran Suntre dan Sasandewini.
“Aneh, ya, Kak,” kata Suntre.
“Benar, Suntre, aneh bin ajaib,” lanjut Sasandewini.
“Panasnya bukan main.”
“Lihat, Kak. Debu itu,” kata Suntre sambil menunjuk ke arah debu yang bercampur daun kering.
“Kita harus diam-diam mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Kita tidak boleh terburu-buru memutuskan.”
“Terus…”
Sasandewini dan Suntre tidak akan menyia-nyiakan kesempatan. Pikiran dua gadis kecil itu tertuju pada suara misterius.
Suara kelepak sayap yang menghantam tanah semakin jelas terdengar.
“Bruuus…” tiba-tiba dua ekor burung terpuruk tepat di samping kiri kaki Sasandewini.
“Hampir saja kakiku menginjaknya,” kata Sasandewini sambil memundurkan langkahnya.
“Apa yang telah terjadi, Kak? Mengapa mereka tiba-tiba terpuruk di sini?” kata Suntre heran.
“Lihat, mereka mencoba terbang lagi.”
“Hah…?”
“Kita amati saja mereka,” jawab Sasandewini.
Sasandewini dan Suntre mengamati terus burung yang masih bertarung itu. Kedua burung itu pindah ke sana, pindah ke sini, mengelepak ke sana, mengelepak ke sini. Anehnya, setiap jauh dari pohon ganemo—sejenis pohon melinjo—dua burung itu akan berbalik mengarah ke pohon ganemo. Mereka selalu bertarung di sekitar pohon ganemo. Hal itu membuat Sasandewini dan Suntre bertambah heran.
“Pertarungan ini sangat aneh,” kata Sasandewini.
“Benar, perkelahian ini tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.”
“Kalau menjauh sedikit, mereka pasti akan berbalik ke arah pohon ganemo,” tegas Sasandewini.
Suntre dan Sasandewini terdiam sebentar. Mata mereka tak berkedip, berjaga-jaga jangan sampai burung itu lepas dari penglihatan mereka. Dengan melangkah jongkok, Sasandewini dan Suntre mendekati dua burung itu.
Sasandewini dan Suntre berusaha menangkap dua ekor burung tersebut. Namun, ketika akan ditangkap, burung itu terbang ke tempat yang lain. Mereka mengejarnya. Meski terlihat sudah tak berdaya, dua burung itu susah juga ditangkap.
“Sudah semakin lemah, Kak. Terbangnya semakin pendek.”
“Kita pasti dapat memisahkan dua burung itu. Jangan sampai lepas, ya. Saya menjaga sebelah sini.”
“Berarti, Kakak harus melompat ke sebelah sana,” jawab Suntre sambil melompat ke arah seberang.
Tanpa mengalami kesulitan, Suntre dan Sasandewini berhasil menangkap burung yang sudah lemah tak berdaya itu. Mereka mengamati dengan saksama keadaan dua burung yang penuh luka itu. Bulu-bulu kedua burung mambruk itu rontok. Kaki mereka terluka. Kepala mereka memar, bahkan di bagian bawah dada burung mambruk yang agak kecil pun terdapat luka. Napas kedua burung itu sangat kencang, menandakan mereka tengah kelelahan.
“Kasihan burung ini,” Sasandewini bergumam.
“Kita obati saja lukanya, Kak,” kata Suntre.
Sasandewini dan Suntre memutuskan untuk membawa pulang kedua burung itu. Mereka akan mengobati luka-luka kedua burung itu. Kaki kedua burung itu mereka himpun. Sayap kedua burung itu mereka elus dengan halus. Kepala dua burung itu mereka usap dengan lembut. Dengan perasaan haru mereka memasukkan kedua burung itu ke dalam noken.

Bagian 4. Sumundui, si Raja Ular
Sambil menggendong burung dan pucuk pakis, Suntre berjalan di depan Sasandewini. Mereka berjalan berbelok arah dari perjalanan semula. Setelah berjalan beberapa langkah, Sasandewini terpaku melihat pohon ganemo yang seolah berbaris rapi seperti pintu gerbang. Di tempat itulah dua burung tadi awalnya bertarung. Sasandewini ingat bahwa burung yang mereka tangkap tadi selalu berada di dekat pohon itu.Sasandewini meyakinkan apa yang dilihatnya. “Ganemo?” gumamnya. Sasandewini masih belum yakin.
“Benarkah itu pohon ganemo yang kita cari?” kata Sasandewini sambil menunjuk ke arah sebatang pohon.
“Ini daun kesukaanku, Suntre. Daun ini sangat enak dimasak tumis,” kata Sasandewini.
“Loh, kata Kakak tadi kesukaan Kakak pucuk pakis,” jawab Suntre.
“Daun ganemo juga kesukaanku,” kata Sasandewini meyakinkan.
“Ba’iwimamba, setali tiga uang, sama saja,” kata Suntre.
Tanpa membuang waktu, Sasandewini dan adiknya segera memanjat pohon ganemo dan memetik daun ganemo yang muda.
“Yuk, kita istirahat dulu, Kak,” ajak Suntre.
Suntre dan Sasandewini beristirahat di bawah pohon ganemo. Daun yang mereka peroleh kali ini sangat banyak.
“Kak, mana bekal kita tadi? Aku sudah lapar,” kata Suntre.
“Aku juga sudah lapar,” kata Sasandewini sambil mengeluarkan bekal dari dalam noken.
Mereka berdua makan dengan lahapnya. Bekal makan dan minum habis tidak tersisa.
“Aku heran dengan pohon ganemo tadi, Kak. Mereka berjajar rapi seperti ada orang yang menanamnya.”
“Benar juga,” kata Sasandewini. Ia pun baru sadar bahwa pohon ganemo yang daunnya mereka petik tadi berjajar sangat rapi.
Matahari sudah condong ke barat. Cahayanya sudah tidak panas lagi. Angin kering menghembus menerpa wajah dua gadis itu. Dua gadis itu bergegas pulang.
Sore itu dengan langkah tegar Sasandewini dan Suntre meninggalkan tepi Hutan Kowera. Rasa lelah seharian di hutan mereka sembunyikan di balik rasa senang karena mendapatkan daun yang mereka inginkan. Wajah ceria membucah dari wajah kedua gadis kecil itu. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu sedikit pun dalam perjalanan pulang. Selain ingin segera memasak daun pakis, Sasandewini dan Suntre ingin segera mengobati luka yang ada di sekujur tubuh burung mambruk tersebut.
“Cepat sedikit, Suntre,” Sasandewini menggandeng tangan adiknya.
“Kak, pasti nenek sudah menunggu kita,” kata Suntre.
“Kasihan nenek, pasti sudah menunggu.”
“Mengapa sampai sore begini?” kata sang nenek, tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
“Maaf, Nek. Tadi di hutan kami melihat burung bertarung,” jawab Suntre cepat.
“O, begitu. Ya sudah. Cepat kalian mandi, makan, terus beristirahatlah,” sambung sang nenek.
“Baik, Nek, tetapi kami harus mengobati luka burung-burung ini, Nek.”
Selesai makan, Sasandewini dan Suntre mengobati kedua burung itu; Suntre satu, Sasandewini satu. Lukanya hampir sama, yaitu di kepala, sayap, dan kaki. Setelah selesai diobati, kedua burung diletakkan di kandang ayam yang sudah dialasi kain-kain bekas. Sebelum beranjak tidur, Sasandewini dan Suntre menengok kandang burung untuk meyakinkan sekali lagi bahwa burung mereka dalam keadaan nyaman.
Keduanya beranjak tidur. Sasandewini pun langsung tertidur pulas, berbeda dengan Suntre. Suntre sudah berusaha memejamkan matanya, tetapi mata tak kunjung terpejam. Hingga larut malam, Suntre susah memejamkan matanya. Peristiwa bertarungnya dua burung selalu segar dalam ingatannya. Perasaan anehnya tidak kunjung hilang.
Saat tengah malam, Suntre kaget mendengar bunyi berderak-derak dari samping rumah. Suaranya semakin jelas seperti langkah manusia. Suntre ingin membangunkan Sasandewini, tetapi merasa kasihan karena Sasandewini tidur sangat pulas. Ia coba sekali lagi meyakinkan bunyi derak-derak dari samping kamar. Ia mencoba mengintip keluar. Di luar sangat gelap.
Suntre tercengang. Ia mundur satu langkah. Ia berusaha meyakinkan diri setelah melihat sesuatu yang ada di depannya.
“Benarkah?” gumamnya.
Suntre melihat sebuah benda yang mengilap hijau kekuning-kuningan sebesar kepalan tangan orang dewasa. Samar-samar terlihat lidah yang menjulur-julur keluar. Seekor ular naga raksasa yang kukuh telah berada di depan Suntre. Naga raksasa itu menjulur-julurkan lidahnya. Matanya bagaikan bola api yang seakan-akan siap membakar apa pun yang di depannya.
Suntre ingin cepat-cepat masuk ke dalam rumah, tetapi kakinya seperti terpaku. Ia tidak kuasa melangkahkan kakinya ke belakang. Ia ingin berteriak, tetapi suaranya tidak bisa keluar, lidahnya terasa kelu. Perasaan heran bercampur takut berkecamuk di dalam pikirannya.
Makhluk itu pun membuka mulutnya lebar-lebar dan mengeluarkan suara keras menggema.
“Tidak usah takut, Anak Manis,” kata sang naga.
“Naga bisa bersuara?” gumamnya. Suntre masih tidak yakin dengan apa yang dialaminya. “Si… siapa kamu sebenarnya?” lanjut Suntre memberanikan diri.
“Akulah Raja Ular. Raja Sumundui namaku,” jawabnya.
“Raja Ular…?” Suntre tersentak. Dirinya bagaikan disambar halilintar. Mulutnya tiba-tiba terasa tersumbat seakan-akan terkunci. Ia baru sadar bahwa suara yang berbicara selama ini adalah seekor ular raksasa yang menyeramkan. Ia berdiri terpaku, tidak bisa bergerak ke mana-mana. Ia ingin membangunkan kakaknya, tetapi tak kuasa berjalan.
“Dari mana asalmu, Raja Sumundui?”
“Saya berasal dari Kerajaan Sumundui.”
“Di mana Kerajaan Sumundui itu?”
“Di Hutan Kowera, di pinggir Sungai Kowera.”
“Hutan Kowera?”
“Ya, Hutan Kowera.”
“Kemarin kami baru dari sana.”
“Itu sebabnya aku datang ke sini.”
“Loh, apa maksudmu datang ke sini?” tanya Suntre.
“Aku mencari dua pengawalku, dua ekor burung. Ketika selesai berlatih, mereka tidak kembali ke kerajaan,” kata Sumundui.
“Kerajaan?” Suntre kaget.
“Apakah kalian mengetahui dua pengawalku itu?”
“Pengawal?” Suntre semakin heran.
“Ya, mereka sedang berlatih perang.”
“O…, rupanya begitu. Pantas saja mereka lama sekali bertarung.”
“Mereka tidak bertarung, tetapi sedang berlatih perang.”
“O…, begitu? Mereka berperang di dekat pohon ganemo?”
“Benar. Pohon ganemo itu merupakan pintu gerbang kerajaanku.”
“O, begitu. Ternyata pohon ganemo yang berjajar rapi itu adalah pintu gerbang istana?” tanya Suntre.
“Benar, Suntre. Di manakah pengawalku itu? Tahukah kalian?”
“Ya…, ya…, saya tahu. Dua burung itu kami bawa pulang untuk kami obati.”
“Terima kasih, Anak Manis. Kau telah menolong pengawalku,” kata Raja Ular.
“Baiklah, akan aku serahkan kembali dua ekor burung ini kepadamu, Raja Sumundui.”
“Sebagai imbalan atas budi baik kalian, aku mengundang kalian untuk datang ke istanaku besok malam.”
“Saya tidak minta balas budi, Raja Sumundui. Saya tulus menolong burung-burung ini.”
“Datanglah, Anak Manis. Kalian sudah menjadi sahabatku.”
“Baiklah, kami akan datang.”
Suntre menyerahkan dua ekor burung yang masih lemah itu. Ia letakkan di atas punggung Raja Sumundui. Terjawab sudah apa yang menjadi pertanyaan dan keanehan siang tadi. Jalur pohon ganemo itu rupanya adalah istana Sumundui dan kedua burung mambruk itu adalah pengawal istana.
Sasandewini terbangun, lalu keluar dari rumahnya. Samar-samar ia masih melihat bayangan Sumundui berkelebat masuk ke dalam semak.
“Apakah aku salah melihat?” gumam Sasandewini. “Suntre!” panggil Sasandewini.
“Ya, Kak,” sahut Suntre sambil berlari mendekat.
“Benarkah yang aku lihat tadi sesosok ular?”
“Benar, Kak,” jawab Suntre dengan gemetar. “Suntre takut, Kak,” katanya.
“Mengapa badan Suntre gemetar? Apa yang telah terjadi, Suntre?”
“U… u… lar itu… itu, Kak.”
“Ada apa dengan ular tadi?” Sasandewini semakin penasaran.
“Dia itu Raja Ular, Kak.”
“Raja Ular, Suntre?” bisik Sasandewini.
Suntre masih terpukau, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Suntre memikirkan apa yang dikatakan Sumundui tadi. Kedua gadis itu masuk ke rumah tanpa sepatah kata pun. Setelah keduanya duduk, Suntre menjelaskan kepada Sasandewini apa yang dilihat dan didengarnya dari Sumundui. Sasandewini mendengarkan dengan seksama penjelasan adiknya.
Bagian 5. Diwando, Gelang Kesayangan
Pagi itu juga Sasandewini dan Suntre pergi menuju KerajaanRaja Sumundui. Dengan menggunakan sampan dari batang sagu,
Sasandewini dan Suntre menyusuri sungai. Laju sampan itu sangat
cepat karena terbawa arus sungai yang agak deras. Sesekali sampan
oleng karena terantuk daun-daun dan ranting kayu yang mengambang di sungai. Jernihnya air membuat dasar sungai terlihat jelas. Ikan-ikan kecil yang berenang menyelinap di balik batu menarik perhatian Suntre.
“Lihat ... banyak ikan kecil di dasar sungai ini. Mereka seperti mengikuti kita, ya.”
“Bukan begitu. Karena terlalu banyak ikan di sepanjang dasar
sungai, seolah-olah mereka mengikuti kita, padahal itu ikan-ikan yang lain.”
Menjelang siang, mereka berhenti. Sasandewini dan Suntre
menyandarkan perahunya di bibir sungai. Mereka menuju bawah pohon yang daunnya sedikit rimbun, pohon beringin. Di bawah pohon itulah Sasandewini dan Suntre beristirahat dan makan bekal yang mereka bawa.
“Kak, di mana Raja Sumundui itu tinggal?” tanya Suntre cemas.
“Wah ... apa perkataan Raja Sumundui semalam?” kata
Sasandewini, balik bertanya.
Tidak sedikit pun ia menunjukkan kecemasan hatinya kepada adiknya. Ketegaran hatinya ia tunjukkan dengan muka yang selalu tersenyum untuk meyakinkan hati adiknya.
“Raja Sumundui berpesan agar kita mengikuti arus sungai ini.”
“Baiklah. Berarti kita ikuti saja arus sungai ini. Ayo, kita lanjutkan
perjalanan kita,” kata Sasandewini.
Belum berapa lama mengayuh, sampan Suntre dan Sasandewini
terhenti.
“Kak, perahu kita berhenti.”
“Iya, berhenti. Ada apa, ya?” tanya Sasandewini.
“Mungkin terhalang oleh kayu, Kak.”
“Ayo, belokkan dayung kuat-kuat. Ini seperti ada batu besar menghadang perahu kita.”
Sasandewini dan Suntre mengayuh sampan sampai di sebuah
telaga yang sangat bening airnya. Dasar sungai terlihat jelas. Musim
kemarau membuat air telaga menyusut banyak. Mereka sangat takjub.
Ribuan ikan dengan berbagai corak menambah indahnya telaga itu.
Mereka tak henti-hentinya tertegun, mengira sudah sampai di negeri
antah-berantah.
Tiba-tiba mereka melihat ikan raksasa yang sangat indah warna
sisiknya. Mereka mengira bahwa ikan itu adalah jelmaan Raja
Sumundui. Sekali lagi Suntre berteriak memanggil kakaknya.
“Kakak ... ikan apakah di bawah itu?”
“Mana, Suntre?” sahut Sasandewini cepat.
“Di bawah perahu kita. Lihat itu ... besar sekali, warna sisiknya
sangat indah.”
“Waow ... indahnya! Benar, Suntre. Mengapa ada di bawah
perahu kita? Tampaknya ikan ini yang menghalangi laju perahu kita.
Ikan apakah gerangan ini?”
“Ia pasti Raja Ikan, penunggu sungai ini, Kak,” kata Suntre.
“Jangan-jangan ikan ini jelmaan Raja Sumundui,” tebak
Sasandewini.
Suntre dan Sasandewini terlihat sedikit takut melihat ikan di
bawah perahunya.
“Hai, Anak Manis, jangan takut.”
“Siapakah kalian?” jawab Sasandewini.
“Aku Sinemanggor, si Raja Ikan,” jawab ikan raksasa itu.
“Raja Ikan?” Sasandewini tidak percaya.
“Ya, akulah penunggu telaga ini. Mengapa malam-malam begini
kalian melewati tempat ini?”
“Oh, Raja Sinemanggor. Maaf, kami akan menuju Kerajaan
Sumundui. Apakah Tuan Raja mengetahuinya?” tanya Sasandewini.
Suntre bersembunyi di balik Sasandewini. Suntre sangat takut
melihat Raja Ikan. Ia teringat kepada Raja Sumundui yang datang
menemuinya malam itu.
“Sumundui, si Raja Ular?” tanya Raja Sinemanggor.
“Ya, benar. Raja Sumundui, si Raja Ular,” jawab Suntre cepat.
Akhirnya, Sasandewini menceritakan apa yang sedang mereka
alami.
“O, o, o ...,” kata Raja Sinemanggor.
“Izinkan kami melewati tempat ini, Raja Sinemanggor.”
“Sebentar, Anak Cantik. Kalian boleh melewati tempat ini asal
menukarkan gelang yang ada di tangan kalian dengan gelangku sebagai tanda persahabatan.”
Dengan senang hati, Suntre dan kakaknya segera memberikan
diwando, gelang kesayangan pemberian nenek mereka, kepada
Sinemanggor. Mereka menjatuhkan gelang itu ke dasar telaga. Gelang itu bagai berenang tenang menuju dasar sungai. Dengan sigap Sinemanggor menangkap gelang itu dengan mulutnya.
Setelah menerima diwando, Raja Sinemanggor pun menyerahkan
gelangnya kepada Suntre dan Sasandewini. Ia pun ingin mengantar
mereka menuju Kerajaan Sumundui.
“Tidak usah diantar. Kami berangkat berdua saja,” kata Sasandewini.
“Akan tetapi ... bagaimana kalau di jalan kalian mendapat kesulitan?”
“Tenanglah, Kawan. Mudah-mudahan kami selamat sampai di
Kerajaan Sumundui.”
Suntre dan Sasandewini melanjutkan perjalanan menuju Kerajaan
Sumundui. Raja Sinemanggor melepas kepergian dua gadis itu dengan perasaan haru.
Bagian 6. Persahabatan Sumundui dan Sinemanggor
Sumundui tidak sabar menunggu kedatangan dua gadis kecil, Suntre dan Sasandewini. Ia ingin menjemput dua gadis kecil, sahabatnyaitu. Sumundui menceburkan diri ke dalam sungai. Ia mengikuti aliran sungai. Tubuhnya yang besar membelah sungai sehingga menjadi
seperti ombak. Ketika mendekati tempat Sinemanggor, deru air telah terdengar oleh Sinemanggor. Sinemanggor yakin bahwa deru air itu adalah Sumundui, si Raja Ular. Dengan tenang ia menanti sang ular raksasa.
Tiba-tiba muncul Sumundui dari pinggir danau. Sumundui merasa ada makhluk lain yang berusaha menghalangi perjalanannya.
“Mengapa engkau menghalangi perjalananku?” tanya Sumundui kepada Sinemanggor.
“Aku tidak menghalangi, tetapi memang tinggalku di sini,” jawab Sinemanggor.
“Ya, tetapi mengapa tubuhmu memenuhi telaga?”
“Tubuhku memang sebesar ini. Siapakah engkau ini sebenarnya?” kata Sinemanggor.
“Aku Sumundui, si Raja Ular.”
“Engkau hendak ke mana? Tidak biasanya ada ular sebesar ini melintas mengikuti arus sungai.”
“Apakah engkau melihat dua gadis kecil lewat di tempat ini?” tanya Sumundui.
“Ya, benar. Tadi ada dua gadis kecil melewati tempatku ini,” jawab Sinemanggor.
“Nah, sekarang mereka ada di mana?”
“Sebenarnya ada hubungan apa kalian ini?”
“Kami bersahabat. Mereka sudah berjanji akan datang ke kerajaanku. Jangan-jangan mereka mendapat kesulitan di jalan. Kami sudah berjanji untuk saling menolong jika ada kesulitan. Akhirnya, aku jemput saja mereka.”
“O, begitu. Alangkah senangnya kalian, bisa bersahabat. Bolehkan aku menjadi sahabat kalian juga?”
“Boleh-boleh saja. Apakah kau akan ikut aku mencari dua gadis itu?”
“Baiklah, aku ikut. Naiklah ke punggungku, Sumundui. Kita pergi bersama mencari dua gadis itu.”
Daerah di samping telaga tidak sekering tempat lainnya. Tumbuhan di sekitar telaga masih tampak sedikit segar. Rumput hijau membentang diwarnai semburat warna coklat daun kering
menunjukkan alam yang begitu bersahaja. Hempasan angin kering menyapu pinggir telaga.
Sinemanggor tidak mau menyia-nyiakan waktu. Perhiasan diwando dan arimani ia bawa. Perjalanan Sumundui dan Sinemanggor telah sampai di dekat Sungai Erambori, dekat Tanjung Mamba.
Sasandewini dan Suntre mendengar kabar kalau Raja Sumundui dan Sinemanggor mencari mereka. Hati mereka senang karena akan bertemu dengan sang sahabat. Mereka berhenti melangkah.
“Kita tunggu mereka, Suntre,” kata Sasandewini.
“Baiklah. Kita tunggu si Raja Ular dan si Raja Ikan itu.”
“Kita berbalik arah, Suntre,” kata Sasandewini kepada adiknya.
“Kita tunggu saja di tepi sungai ini. Pasti mereka akan melintas.”
“Kita berjalan mengikuti arah sungai ini saja.”
Sasandewini dan Suntre segera berbalik arah, menyusuri tepi Sungai Erambori.
“Kakak, itu dia Raja Sumundui dan Raja Sinemanggor.”
“Ya, itu dia mereka.”
Sasandewini dan Suntre bertemu dengan Sumundui dan Sinemanggor, sahabat baru mereka. Suntre dan Sasandewini menyusul
Sumundui naik ke punggung Sinemanggor. Mereka pulang untuk menemui sang nenek.
Kejadian demi kejadian yang mereka alami membuat jiwa Suntre dan Sasandewini kuat dan tabah. Mereka menjadi terbiasa menghadapi kesulitan. Jiwa pantang menyerah sudah tertanam dalam diri kedua bocah kecil itu. Setiap menerima cobaan, Sasandewini tak henti berdoa, meminta keselamatan kepada Yang Mahakuasa. Demikian juga, setiap berhasil keluar dari cobaan, mereka tak pernah lupa mengucap syukur.
Bagian 7. Musim Semi di Tamakuri
Musim kemarau telah berlalu. Musim hujan pun tiba dan musim semi menyambut gilirannya. Pohon-pohon yang dulu meranggas kembalisiuman, menampakkan kuncup-kuncup daun segarnya. Rumput-rumput kering seakan terbangun dari kelayuan. Tanah, sawah, dan ladang yang dulu menganga sedikit-demi sedikit merapat dan menyatu, menyambut datangnya cangkul petani. Sungai yang kerontang tampak semangat menyambut aliran air yang akan membasahinya.
Mendung sesekali muncul di atas langit Kampung Tamakuri. Penghuni kampung telah lama menyiapkan benih-benih untuk mereka
tanam saat musim hujan tiba. Harapan mereka untuk menyambung hidup selalu tertanam kuat. Penduduk Tamakuri terkenal sangat rajin
bekerja. Mereka tak pernah mengenal lelah ketika bekerja di ladang. Meskipun sebagai pekerja ladang berpindah, mereka tetap semangat bercocok tanam. Mereka menanam umbi-umbian, kacang-kacangan,
serta buah-buahan.
Sasandewini dan Suntre kembali ke kampungnya. Ternyata rumah mereka sepi. Nenek mereka sudah tidak tinggal di rumah itu.
”Meninggalkah, Nenek?” pikir Sasandewini dan Suntre.
Sasandewini dan Suntre berusaha mencari neneknya. Ternyata sang nenek sakit
keras dan tinggal di rumah tetangga dekatnya. Sasandewini dan Suntre sangat sedih. Namun, mereka tidak boleh menyesali perbuatannya karena kepergiannya mecari daun pakis.
”Nenek, Suntre pulang,” bisik Suntre di telinga kiri neneknya.
”Sasandewini pulang, Nek,” bisik Sasandewini di telinga kanan neneknya. Sang nenek tetap memejamkan mata.
”Nek, ini Suntre,” kata Suntre memeluk sang nenek.
”Sasandewini, Nek,” kata Sasandewini.
Ia mencoba mengusap?usap kaki sang nenek. Kaki sang nenek sedikit dingin. Sang nenek pun masih diam saja. Mulutnya tertutup rapat.
”Bangun, Nek,” ucap Sasandewini, ”Sasandewini dan Suntre pulang, Nek.”
”Sejak minggu lalu nenek kalian selalu memanggil nama kalian,” kata tetangga kepada Suntre dan Sasandewini.
”Mungkin nenek kalian kangen kepada kalian,” kata tetangga yang lain.
Perlahan-lahan sang nenek membuka matanya. Wajahnya tampak letih. Kerut wajah menggambarkan usia renta. Mata sang nenek
sesekali terpejam. Mulutnya sedikit terbuka seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia katakan. Napas kecilnya terkesan sedikit dipaksakan.
Kaki sang nenek bergerak sedikit. Ia mencoba mengangkat tangannya seakan-akan ingin menyambut dan memeluk kedua cucunya. Sasandewini bingung melihat keadaan sang nenek.
Selain itu, ia juga bingung karena tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Mencari tempat tinggal untuk mereka akan menjadi tanggung jawab besar bagi Sasandewini. Ia harus memikirkan nasib nenek dan adiknya.
”Yang penting nenekmu sembuh dulu, Sasande,” ujar Mama Dame, tetangga yang menjadi tempat singgah sang nenek, ”sementara kalian bisa tinggal di sini.”
”Terima kasih, Mama. Kami jadi merepotkan Mama Dame,” jawab Sasandewini.
”Kalian bisa bekerja membantu kami di ladang. Kebetulan musim hujan sudah mulai tiba,” kata suami Dame.
”Wah, kami sangat senang,” kata Sasandewini.
”Aku bisa menanam jagung, Mama,” kata Suntre polos.
”Aku juga bisa, Bapak,” lanjut Sasandewini tidak mau kalah dengan adiknya.
”Kalau kita ke ladang semua, siapa yang akan menjaga nenek kalian di rumah?” tanya Mama Dame.
”Wah, kalau begitu, saya saja yang di rumah,” kata Sasandewini, ”biar saya saja yang menjaga nenek.”
”Baiklah, besok Suntre ikut Bapak ke ladang,” jawab suami Mama Dame.
Keluarga Dame sangat baik. Mereka belum dikaruniai anak meski usia perkawinan sudah hampir sepuluh tahun. Awalnya, mereka sudah akan mengangkat seorang anak, tetapi niat itu mereka urungkan karena keadaan ekonomi belum mencukupi. Namun, sekarang keadaan keluarga Mama Dame sudah lebih baik. Mereka bekerja keras mengolah ladang peninggalan orang tua. Hasil ladang mereka berlimpah.
Mama Dame dan suaminya sudah menganggap nenek sebagai orang tuanya. Sasandewini dan Suntre juga sudah mereka anggap sebagai anak. Kehadiran mereka membuat suasana keluarga semakin semarak. Mereka ingin hidup berbagi kepada sesama.
”Tidur, Suntre, hari sudah malam. Besok jangan sampai kesiangan bangun, katanya mau ikut Bapak ke ladang,” kata Mama Dame mendapati Suntre masih asik menuang jagung di keranjang kecil.
”Sebentar, Mama,” jawab Suntre sambil membereskan keranjang.
”Suntre, ayo, tidur,” kata Sasandewini.
Dua gadil kecil itu pun pergi tidur. Suntre susah memejamkan mata. Pikirannya selalu terbawa pada suasana ladang. Ia sudah tidak sabar lagi untuk menanam jagung. Malam terasa sangat lama. Ia tutup matanya dengan bantal supaya cepat tidur. Malam pun berlalu.
Keesokan harinya, Suntre mengikuti suami Dame menuju ladang. Langkahnya sangat cepat karena mengikuti langkah suami Dame.
Tidak tampak ada perasaan lelah sedikit pun di wajah Suntre meskipun ia baru saja kembali. Seakan-akan ada energi baru dalam tubuh mungil Suntre. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Suntre tetap berjalan di belakang suami Dame.
”Apakah ladang Bapak masih jauh?” tanya Suntre kepada Minggo, suami Mama Dame.
”Tidak, Suntre. Sebentar lagi kita sampai. Suntre lelah?”
”Ah, tidak. Suntre sudah tidak sabar ingin menanam jagung, Bapak.”
”Ya, ya, sebentar lagi Suntre bisa menanam jagung sepuasnya.”
”Selain jagung, apa yang ditanam di ladang, Bapak?”
”Macam-macam. Ada ubi, singkong, dan pisang.”
Sasandewini tinggal di rumah mengurus neneknya. Sasandewini menyuapi sang nenek dengan telaten. Ia tidak ingin sakit nenek semakin parah. Obat-obatan alami yang telah disediakan oleh Mama Dame ia berikan kepada sang nenek. Mulai dari obat yang diminum sampai dengan obat yang dibalurkan ke sekujur tubuh. Obat yang diminum berasal dari ramuan daun-daunan yang direbus. Obat yang dibalurkan berasal dari ramuan akar-akaran yang ditumbuk halus.
Kesehatan nenek berangsur-angsur pulih. Wajah pucatnya berangsur-angsur memerah. Tubuh lemasnya berangsur-angsur pulih. Matanya mulai tampak bersinar meskipun rona wajah rentanya
tidak bisa dihilangkan. Kepulangan kedua cucunya telah menjadi obat tersendiri bagi sang nenek.
Di dapur Mama Dame memasak makanan untuk dibawa ke ladang. Setiap hari Mama Dame mengirim makanan untuk suaminya. Keluarga Mama Dame menjadi semakin damai dengan keberadaan sang nenek, Sasandewini, dan Suntre. Mereka hidup rukun berdampingan dengan tetangga lainnya. Keluarga Mama Dame bersama warga Tamuri yang lain siap menyongsong musim panen jagung tahun ini.

Dongeng Putri yang Mengajarkan Sikap Baik
Dongeng putri biasanya menjadi favorit anak perempuan lantaran memudahkan anak untuk berimajinasi dan membayangkan mereka yang menjadi putri tersebut.
Berikut ini salah satu cerita koleksi dari Balqis Qinara, berjudul "Balas Budi Burung Bangau" yang mengisahkan seorang putri yang baik hati.
Balas Budi Burung Bangau
Karya: Balqis QinaraDahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya.
Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Yosaku segera melepaskan perangkat itu.
Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku beberapa kali sebelum terbang ke angkasa.
Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.
Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan salju.
“Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Yosaku.
“Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, tanya Yosaku. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju turun dengan lebat, aku jadi tersesat.”
“Bolehkah aku menginap disini malam ini ?”
“Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan,” kata Yosaku.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”.
Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak. Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia akan merasa kesepian.
Salju masih turun dengan lebatnya.
“Tinggallah disini sampai salju reda.” kata Yosaku.
Setelah lima hari berlalu salju mereda. Gadis itu berkata kepada Yosaku, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu.
“Mulai hari ini panggillah aku Otsuru”, ujar si gadis.
Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku, membelikannya benang karena ia ingin menenun. Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Otsuru menenun.
Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain tenunannya sudah selesai.
“Ini tenunan ayanishiki. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal.
Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang.
“Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku.
Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi.
“Baiklah akan aku buatkan”, ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Otsuru menenun.
Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.
Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya.
“Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Otsuru.
Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun.
Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu.
Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Otsuru.
“Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Otsuru.
“Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Otsuru.
“Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Otsuru.
“Maafkan aku, ku mohon jangan pergi,” kata Yosaku.
Otsuru akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terbang keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Yosaku sendiri yang menyesali perbuatannya.

Cerita Dongeng Sebelum Tidur
Cerita dongeng sebelum tidur menjadi salah satu hal yang paling dinantikan oleh anak-anak yang terbiasa melakukan rutinitas ini setiap malam. Cerita dongeng anak pendek tentang hewan atau cerita lucu juga bisa menjadi dongeng sebelum tidur sehingga anak tidak takut tidur sendirian.
Berikut ini merupakan salah satu cerita dari buku 5 Dongeng Anak Dunia karya Dedik Dwi Prihatmoko berjudul "Tuah - Tupai si Pantang Menyerah" yang bisa dibacakan oleh orang tua kepada sang buah hati.
Tuah - Tupai si Pantang Menyerah
Karya: Dedik Dwi PrihatmokoDi daerah perbukitan Pulau Jawa, terdapat kumpulan tupai pemakan buah kelapa. Para tupai jantan memiliki kegemaran unik yaitu meloncat dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya. Sementara para tupai betina lebih suka merayap. Mereka tidak berani untuk meloncat.
Tetapi berbeda dengan Tuah, tupai betina si pantang menyerah. Dia ingin sekali dapat meloncat. Oleh karena itu, Tuah mendatangi Eyang Tupai. Beliau adalah pelatih yang selama ini mengajari para tupai jantan meloncat.
“Eyang, jadikanlah aku muridmu seperti para tupai jantan itu,” pinta Tuah.
“Kamu perempuan, sudahlah tidak perlu kamu susah payah berlatih loncat padaku,” jawab Eyang Tupai.
“Tolonglah Eyang, aku ingin seperti para tupai jantan yang dengan mudah meloncat dari satu pohon ke pohon lain,” ucap Tuah dengan nada memohon.
Eyang Tupai akhirnya merasa kasihan melihat Tuah yang begitu ingin berlatih melompat padanya. Eyang pun melatih Tuah sama seperti melatih tupai jantan lainnya.
Hari pertama latihan menjadi hari yang cukup buruk. Tuah jatuh berkali-kali. Begitupun di hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Sepekan sudah lamanya Tuah berlatih. Ia berusaha keras untuk menjadi peloncat seperti tupai jantan, tetapi belum ada tanda-tanda keberhasilan.
“Sudahlah Tuah, kau tidak usah menyiksa tubuhmu seperti ini. Terimalah keadaanmu seperti apa adanya.”
“Tidak Eyang, aku hanya perlu berlatih lebih keras lagi, insyaalah aku akan seperti tupai jantan yang dapat melompat dengan lincahnya,” ucap Tuah.
Ia pun kembali berlatih sesuai apa yang diajarkan Eyang Tupai sebelumnya.
Dalam hati Eyang Tupai berkata, ”Tupai betina ini sungguh pantang menyerah.”
Tidak terasa, sudah dua bulan Tuah berlatih meloncat. Dan usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini Tuah sudah dapat meloncat layaknya tupai jantan. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia meloncat dengan indahnya.
“Masyaalah.. Eyang kagum melihat perjuanganmu selama ini, Maafkan Eyang
ketika dulu pernah merendahkanmu sebagai seekor tupai betina yang lemah. Selamat atas keberhasilanmu!” ucap Eyang Tupai, si pelatih.
Berkat perjuangan Tuah, Eyang Tupai terketuk hatinya bahwa semua makhluk memiliki potensi yang sama, yang membedakan hanyalah usaha dan kerja kerasnya.
Setelah kejadian itu, Eyang Tupai mulai membuka kelas latihan lompat secara terbuka, tanpa memandang ia tupai jantan ataukah betina, karena yang menentukan adalah sikap pantang menyerah dalam dirinya.

Membacakan dongeng sebelum tidur bukan hanya menidurkan anak, tetapi menanamkan nilai-nilai moral, empati, dan karakter baik sejak dini. Melalui dongeng anak, dongeng putri, dan cerita rakyat dari berbagai daerah, anak dapat belajar menjadi pribadi yang lebih lembut, bijaksana, dan penuh kasih.
Jika Anda ingin lebih banyak kisah seru lainnya, silahkan kunjungi pada tautan di bawah ini:
Kumpulan Cerita Menarik Lainnya
- Ringkasan Cerita Rakyat Legenda Jaka Tarub dan Pesan Moralnya
- 7 Cerita Rakyat Kalimantan Selatan dan Sinopsis Singkatnya
- Ringkasan Cerita Rakyat Legenda Joko Kendil, Tokoh & Pesan Moral
- 5 Cerita Rakyat Kalimantan Timur dan Sinopsis Singkatnya
- 14 Cerita Rakyat Lampung, Pesan Moral, dan Sinopsis Singkatnya
Penulis: Robiatul Kamelia
Editor: Robiatul Kamelia & Lucia Dianawuri
Masuk tirto.id





































