Divertikulitis, Penyakit Pencernaan akibat Sering Menahan Kentut

Ilustrasi sakit perut. iStockphoto/Getty Images
Oleh: Widia Primastika - 17 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tindakan menahan kentut tak baik bagi kesehatan karena bisa menyebabkan penyakit divertikulitis.
Kentut masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Apalagi jika bau dan suara dari gas ajaib itu keluar saat kita sedang bertatap muka dengan orangtua atau orang penting. Cap "tidak sopan" tiba-tiba muncul. Walhasil, kentut pun ditahan setengah mati agar tidak keluar.

Dilansir dari India Times, kentut ada salah satu penanda kesehatan dan baik untuk kesehatan usus. Menahan kentut bisa menyebabkan penyakit, salah satunya divertikulitis.

Lisa Ganjhu, seorang dokter osteopati dan asisten klinis professor kedokteran dan gastroenterologi di NYU Langone Medical Center di New York mengatakan pada Women’s Health bahwa kentut bisa disebabkan oleh bakteri atau proses fermentasi makanan di dalam lambung yang memicu gas dan menaikkan tingkat keasaman.

"Masalah seperti laktosa dan intoleransi gluten bisa menyebabkan kita sering kentut. Bahkan, meskipun perut bisa menerima susu dan gandum, sayuran seperti brokoli dan asparagus yang mengandung fruktan, jenis karbohidrat yang agak sulit untuk dicerna dapat mengakibatkan tubuh memproduksi banyak gas,” ungkap Ganjhu.


Jika tak dikeluarkan, gas yang dihasilkan oleh tubuh itu akan menumpuk di saluran pencernaan (misalnya dalam usus besar) dan terdorong ke atas sehingga menyebabkan kembung dan ketidaknyamanan di bagian tengah tubuh.

Apa itu Divertikulitis?

Menurut situs lembaga jaminan kesehatan Inggris National Health Service (NHS), divertikulitis adalah kondisi pencernaan yang mempengaruhi usus besar (usus). Ia terjadi ketika divertikula meradang atau infeksi. Divertikula adalah tonjolan kecil atau kantong yang bisa berkembang di lapisan usus saat usia tua.

Artikel “Hepatic-portal venous gas in acute colonic diverticuitis” (PDF, 1998) yang ditulis oleh A. Zielke, bersama dua orang rekannya, mengungkap kasus divertikulitis pada seorang perempuan berusia 71 tahun yang mengeluh karena menderita nyeri di perut yang disertai demam selama dua minggu. Setelah dilakukan colonoscopy parsial, ternyata perempuan ini menderita divertikulitis di kolon sigmoid.

“Pada pemeriksaan fisik, pasien mengalami demam (38,4o C). Abdominal tenderness (rasa sakit ketika perut ditekan) muncul pada sebelah kiri bawah perut. Tes fungsi hati normal, seperti tes laboratorium lainnya, kecuali kadar leukosit yang berada di level 13,2 g/l. Sebuah studi ultrasonografi pada abdomen memperlihatkan bengkak berukuran 6x5 cm di mesokolon sigmoid, membentang ke arah dinding perut samping,” ungkap A. Zielke dkk.

Zielke dkk menyampaikan, pasien akhirnya diketahui menderita komplikasi diverkulitis dengan pembengkakan mesokolik dan HPVG.



Penyebab Divertikulitis


Berdasarkan artikel berjudul “Acute Diverticulitis” yang ditulis oleh L.B. Ferzoco, dkk (PDF, 1998), divertikulitis umumnya diderita kelompok usia lanjut. Namun, divertikulitis simptomatik berkembang pada 20 persen penderitanya.


“Pasien divertikulitis berusia kurang dari 50 tahun mencapai 20 persen. Divertikulitis lebih berbahaya jika terjadi pada pasien yang lebih muda. Diagnosis umumnya terlambat. Studi terbaru menunjukkan bahwa hingga 2/3 pasien berusia muda dapat terbebas dari kambuhnya penyakit dengan terapi non-operasi selama 9 tahun,” ujar Frezoco, dkk.

Menurut NHS, satu dari sekian faktor penyebab divertikulitis adalah umur. Semakin tua, dinding usus besar akan melemah. Divertikula dapat terbentuk karena tekanan tinja yang keras saat melewati usus.

Selain itu, pola makan dan gaya hidup kurang serat bisa memperparah penyakit divertikular. Pasalnya, serat dapat membantu tinja agar menjadi lebih lembut, sehingga tekanan pada dinding usus berkurang.

Merokok dan obesitas pun juga bisa memicu terjadinya penyakit ini. Faktor genetik pun bisa mempengaruhi kemunculan penyakit divertikulitis adalah gen.

Masih menurut L.B. Fercozo dkk dalam “Acute Diverticulitis” (1998), ada beberapa metode penyembuhan yang dapat ditempuh. Pada gejala awal, pasien dapat disembuhkan dengan pengobatan rawat jalan selama 7-10 hari. Selama periode tersebut, pasien mendapat terapi antimikroba, termasuk di antaranya untuk menangani mikroorganisme anaerobik seperti ciprofloxacin dan metronidazole.


“Setelah serangan akut teratasi, pasien harus mempertahankan pola makan tinggi serat, dan kolonoskopi dianjurkan untuk mencegah diagnosis kanker," kata Fercozo dkk.

Jika pengobatan rawat jalan tidak manjur, penderita disarankan untuk rawat inap dan melakukan terapi menggunakan ampisilin, gentamisin, dan metronidazol. Selain itu, pasien bisa juga menggunakan pengobatan antibiotik piperacillin atau tazobactam yang terbukti efektif.

Tapi jika tak ada perubahan, pengobatan dengan cara operasi bisa menjadi solusi untuk bebas dari divertikulitis.

Jadi, masih mau menahan kentut?

Baca juga artikel terkait PENNYAKIT PENCERNAAN atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Widia Primastika
Editor: Windu Jusuf
DarkLight